Connect with us

HEADLINE

Wadah Inklusivitas, Umat Lintas Agama di Banjamasin Kumpul Bahas Keberagaman

Diterbitkan

pada

Kegiatan sarahsehan mengumatkan Kitab Suci, di Aula Sasana Bhakti Paroki Veteran hadirkan Bhikku Saddhaviro Mahathera, Ustadz H Muhari, Pendeta Asri Romi, I Ketut Artika, dan Rm Antonius Bambang Doso Susanto. Foto: wanda

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Sarahsehan Mengumatkan Kitab Suci yang berlangsung di aula Sasana Bhakti Paroki Veteran, Minggu (25/9/2022) siang, memberikan banyak inspirasi dan pengetahuan bagi lingkup relasi umat beragama di Kota Banjarmasin.

Gelaran dari Delegasi Kitab Suci Keuskupan Banjarmasin ini konsisten mendapat atensi dari puluhan peserta yang datang langsung dan mereka yang menyaksikan melalui zoom meeting.

Seperti diketahui, kegiatan dengan tema ‘Mengenai dan Mencinta Kitab Suci dengan Semangat Inklusivitas’ ini diikuti peserta dari berbagai penganut agama seperti Islam, Protestan, Katolik, dan Hindu.

Tidak ada penurunan animo lantaran materi yang dipresentasikan dan didiskusikan terus menghangat dan tidak antiklimaks oleh berbagai nara sumber dari setiap golongan agama.



 

 

Baca juga: Ricuh di Turnamen Futsal Afkot Banjarbaru Dipicu ‘Jual Beli’ Teriakan Antar Suporter

Beragam pembahasan dengan nara sumber seperti Bhikku Saddhaviro Mahathera, Ustadz H Muhari, Pendeta Asri Romi, I Ketut Artika, dan Rm Antonius Bambang Doso Susanto. Mereka sangat inspiratif, memberi banyak tambahan khasanah bagi publik.

Misalnya pada sesi tanya jawab, salah seorang penganut Protestan, Iqnatius Aprianus menanyakan kepada ustadz dan pendeta bahwa apakah wajar dan diperbolehkan saja dirinya sebagai Protestan menyebut kalimat Al Qur’an dasar seperti Alhamdulillah, Astaghfirullah, dan Assalamualaikum.

Iqnatius Aprianus, salah seorang penanya dari penganut kepercayaan Kristen Protestan. Foto: wanda

Kemudian, Ustadz H Muhari pun menjawab, “Kata-kata yang memiliki arti damai, sejahtera, salam, rahmah dan berkah ini bisa saja pian ucapkan, karena sudah menjadi komunikasi sosial, kebiasaan dan budaya, saya kira tidak mengapa teruskan anda kalau mengucapkan itu belum muslim selama belum bersyahadat,” jawab Ustadz H Muhari, yang juga Ketua Rumah Tahfidz dan Majelis Yayasan Raudhotul Muta’allimin Annahdliyah (RMA) Guntung Manggis, Banjarbaru, Kalsel.

Sementara itu, menurut Pendeta Asri Romi mengatakan selama kalimat tersebut diucapkan atau dipakai dalam konteks yang baik agama tidak akan melarang.

Baca juga: Uji Coba pada Ribuan Keluarga Penerima Manfaat, PLN Fokus Alihkan LPG ke Kompor Listrik

“Yang bagus saja saat kita menyebutkan kalimat tersebut untuk saling memberi salam dan untuk saling menghargai, tetapi untuk konteks saling menyudutkan dan saling mengejek itu ranah yang tidak begitu elok untuk dilakukan,” ungkap pendeta perempuan itu.

Dalam pembahasan ini juga, Alisius salah seorang penganut Katolik mengajak segenap umat Muslim untuk sekadar berkunjung ke tempat-tempat ibadah satu sama lain untuk mengetahui perbedaan antar setiap tempat ibadah.

“Waktu itu ada yang nanya sama saya, bapak agamanya apa ya katanya, ya saya jawab Katolik, terus dia bilang gerejanya di jalan S Parman itu ya. Oh bukan kata saya, gereja Katolik yang ada di depan Kantor Pos,” ujar Alisius bercerita dalam sesi tanya jawab.

“Nah dari situ saya terbesit bagaimana jika Muslim mengadakan kunjungan ke beberapa gereja untuk mengeatahui yang mana itu gereja Katolik dan mana itu gereja Protestan,” sambungnya.

Ustadz H Muhari pun mengaku cukup sulit membedakan tempat ibadah agama lain dengan kasat mata. Namun, dirinya menyambut baik saran dan akan mengatakan akan membawa umat muslim berkunjung.

Puluhan peserta dari berbagai golongan agama di Banjarmasin mengikuti Sarahsehan Mengumatkan Kitab Suci, di Aula Sasana Bhakti Paroki Veteran. Foto: wanda

“Nanti kita saling kunjungan ya, karena saya pribadi juga sulit membedakan dengan kasat mata, tujuannya adalah agar Indonesia ini semakin rukun dan damai, Nabi Muhammad SAW juga menjaga sekali orang yang berbeda agama,” ujar Ustadz H Muhari.

Baca juga: Tahan Imbang Persemar, Persebaru Sukses Curi Poin di Liga 3 Kalsel

Mengenai tema inklusivitas atau keterbukaan, Bhikku Saddhaviro Mahathera mengambil contoh kecil pengimplementasiannya yakni jari jemari.

“Dari jari kita saja sudah berbeda, tapi semua bagus mau jempol atau jari telunjuk itu bagus semua berguna. Nah jika ada keributan tentang perbedaan artinya kita belum tau apa artinya inklusivitas itu, tanya pada diri sendiri kenapa harus meributkan perbedaan kenapa tidak meributkan jari jemari tangan kita sendiri, itu inklusivitas harus kita edukasikan pada diri sendiri,” jelas Bhikku Saddhaviro Mahathera.

Jadi sambungnya, dengan adanya pertemuan seperti kegiatan ini, salah satunya mengangkat tema inklusivitas menjadi penekanan sebenarnya seluruh umat diajak untuk mengerti kepada kehidupan masing-masing. (Kanalkalimantan.com/wanda)

Reporter : wanda
Editor : bie


iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->