Connect with us

Kabupaten Banjar

Usul Rakit Apung Penyeberangan Sementara, Layani Pelajar di Jembatan Putus Desa Artain

Diterbitkan

pada

Jembatan putus yang menghubungkan desa Artain dan Banua Riam. Foto : kanalkalimantan

MARTAPURA, Upaya Pemkab Banjar membangun kembali akses jembatan penghubung desa Artain dengan desa Banua Riam, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar yang sudah lama terputus terus dilakukan. 

Ditengah upaya perbaikan jembatan permanen, Dinas Pendidikan Banjar usulkan penggunaan rakit apung dengan menggunakan katrol, sebagai solusi sementara anak-anak bisa menyeberang menuju sekolah.

Fasilitas sementara tersebut memudahkan anak-anak berangkat sekolah tidak perlu lagi menyeberang dengan cara berenang.

Putusnya jembatan ulin penghubung antara dua desa itu terjadi pada 13 Maret 2018 lalu, hingga sekarang masih belum bisa diperbaiki. Masalahnya, jembatan itu bukan menjadi aset Pemkab Banjar, mengingat kawasan dua desa tersebut masuk dalam kawasan konservasi Tahura Sultan Adam. Sehingga harus ada izin dari Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel apabila ingin membangun jembatan tersebut. 

Sadar akan aturan dan kendala tersebut, Kabid Bina Marga PUPR Banjar, Ahmad Solhan mengatakan, Dinas PUPR Banjar mengirimkan surat kepada Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel untuk minta jawaban terkait rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan desa Artain dengan desa Banua Riam.

“Setelah ditanggapi Dishut Kalsel, kita diizinkan untuk membangun jembatan permanen di sana, ternyata tidak ada masalah dengan kawasan konservasi, namun pembangunan jembatan masih belum kita laksanakan, mengingat ada beberapa pertimbangan lagi,” jelasnya.

Kabid Bina Marga PPR Banjar, M Solhan. Foto : rendy

Lebih jauh Solhan mengatakan, ada usulan terbaru dari Dinas Penididikan Kabupaten Banjar yang bersedia untuk memfasilitasi sebelum dijadikan jembatan untuk dibuatkan penyeberangan dengan menggunakan rakit yang dibentangkan tali dan katrol secara manual.

“Ada koordinasi dengan Dinas Pendidikan Banjar untuk membuatkan penyeberangan sementara, sebagai solusi darurat dengan katrol rakit apung sebelum jembatan gantung permanen dibangun PUPR Banjar,” ujarnya.

Pembuatan penyeberangan fasilitas darurat tersebut, akan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR), sementara jembatan gantung permanen akan dianggarkan pada tahun 2020 mendatang.

“Nah untuk itu bisa dikoordinasikan dengan Dinas Pendidikan seperti apa progresnya, apakah jadi atau tidaknya wacana tersebut, hingga sekarang saya kurang mengikuti soal itu, terakhir mereka minta desain, mungkin bisa ditanyakan ke Dinas Pendidikan lagi untuk lebih jelas seperti apanya,” pungkasnya.

Diketahui jembatan penghubung antar Desa Artain dengan Desa Banua Riam tersebut mempunyai jarak kurang lebih 150 meter, terpisah oleh perairan. Sementara tadinya diketahui jembatan yang dibangun secara swadaya masyarakat tersebut mengalami kerusakan yang diakibatkan banjir.

Perhitungan sementara apabila jembatan tersebut diperbaiki seadanya, dengan kata lain dibangun hanya untuk dalam keadaan darurat maka membutuhkan dana sekitar kurang lebih Rp 135 juta.

Sementara apabila ingin dibangun jembatan semi permanen dengan kebutuhan kayu berdiameter 15 cm dengan panjang jembatan kisaran 150 meter, maka membutuhkan dana sekitar Rp 550 juta. Sedangkan apabila dibangunkan jembatan yang permanen dengan kontruksi jembatan gantung maka harus membutuhkan dana kurang lebih sekitar Rp 3,5 miliar. (rendy)

Reporter : Rendy
Editor : Bie

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->