Connect with us

HEADLINE

Nominal Akuisisi Martapura FC Tak Disebut, Slot Pemain Banua Tak Ada Lagi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ketum MFC Hilman: Realistis di Tengah Pandemi dan Ketidakjelasan Kompetisi


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Ketua Umum (Ketum) Martapura FC HM Hilman. Foto: bie
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Kesulitan pendanaan ‘menghidupi’ klub di tengah kompetisi yang serba tidak jelas mengharuskan manajemen Martapura FC menjual klub ke pemilik baru.

Ya, dalam setahun terakhir diketahui Martapura FC yang sudah berumur 12 tahun (2009-2021) harus ‘disuntik’ mati pihak manajemen. Ngos-ngosan di tengah ketidakpastian kompetisi sepak bola Indonesia yang dipukul pandemi Covid-19.

Ketua Umum (Ketum) Martapura FC HM Hilman kepada Kanalkalimantan.com, ditemui Rabu (24/2/2021) siang, mengakui memang manajeman klub sudah tidak mampu lagi menghidupi klub, sehingga ada proses akuisisi kepemilikan kepada manajemen baru.

“Walaupun akuisisi atau proses pengalihannya masih belum dilaksanakan, harapannya cepat dilakukan” aku Hilman.



Ditanya berapa nominal penjualan Martapura FC akuisisi ke pemilik baru -ganti nama menjadi Dewa United-, Ketua Umum Martapura FC tidak menyebutkannya. “Itu off the record,” katanya.

Pihak manajemen klub Martapura FC memastikan semua kontrak pemain maupun pelatih selama proses akuisisi terjadi dipastikan akan diselesaikan sepenuhnya. “Jadi ibaratnya tidak ada lagi utang gaji pemain dan yang lainnya. Karena semua yang ada di klub berdasarkan kontrak-kontrak kerja, dan sepenuhnya kita penuhi,” beber Hilman.

Pertimbangan yang mendasari kenapa Martapura FC harus diakuisisi, pertama tujuan dibentuknya klub sebagai wadah pemain sepak bola lokal atau pemain Banua berlaga di liga profesional, kekinian skuad Laskar Sultan Adam asli pemain lokal sudah sangat terbatas, bahkan terakhir tidak ada lagi pemain daerah Banua.

“Bisa diamati musim-musim terakhir, tidak ada lagi pemain lokal Banua, atau pemain daerah yang masuk skuad,” kata Hilman.

“Pemain Banua, lokal daerah hampir tidak ada lagi, karena dianggap tidak kompetitif bersaing pada saat kompetisi,” akunya.

Yang kedua dari industri sepak bola Indonesia, sudah tidak kondusif lagi. Dengan kondisi keuangan itulah, manajemn tidak bisa lagi bertahan di musim ini. Juga dampak dari pandemi corona di Indonesia yang memukul industri sepak bola Tanah Air.

“Perkembangan industri sepakbola, tidak kondusif lagi, dengan demikian kondisi keuangan finansial klub tidak memungkinkan lagi berlaga dalam kompetisi,” kata Hilman.

Sekadar diketahui, tahun 2020 lalu Martapura FC sempat melakukan persiapan berlaga dalam kompetisi, bahkan sempat bertanding sekali, sebelum kompetisi tahun 2020 dihentikan.

Nah, selama persiapan kompetisi yang tidak jelas manajemen terus mengeluarkan dana yang tidak sedikit.

 

Tahun 2021 ini, jadwal kompetisi semakin tidak jelas, terkait persiapan tim hingga industri sepak bola yang tidak jalan. Bahkan kabarnya pertandingan juga tidak lagi home away, seperti biasa kompetisi berlangsung.

“Kondisi normal saja kita sudah tidak support, bahkan rugi, karena salah satu pendukung bagaimana klub itu hidup adalah pertandingan home and away,” jelasnya.

“Itu hitungan realistisnya, jadi kita tidak mungkin lagi bertahan, itu pertimbangan kenapa Martapura FC kita lepas,” pungkasnya. (kanalkalimantan.com/bie)

 

Reporter : Bie
Editor : Kk

 

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->