Connect with us

HEADLINE

‘Kudeta’ Sunyi Subakhi Atas Kursi Darmawan Jaya di PPP Banjarbaru, Pecah Suara di Depan Mata?

Diterbitkan

pada

Subakhi ditunjuk sebagai Plt Ketua PPP Banjarbaru menggantikan Darmawan Jaya Foto: ilustrasi/mujib

BANJARBARU, Seperti diramalkan, konflik di tubuh PPP Banjarbaru imbas munculnya dua kader bertarung di Pilkada tak bisa dihindari. Kursi ketua yang diduduki Darmawan Jaya Setiawan pun didongkel oleh Wakil Ketua Subakhi, yang notabene loyalis Aditya Mufti Ariffin lewat ‘kudeta’ sunyi Surat Keputusan (SK) DPW PPP Kalsel. Kendali pasangan incumbent Nadjmi Adhani atas parpol berlambang ka’bah ini dilucuti, dengan status non aktif. Pecah suara PPP bakal tak terhindari?

Melalui SK pertanggal 15 November 2019, Subakhi ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPC PPP Banjarbaru. Dalam SK ini juga tertuang, bahwa Jaya sebagai Ketua sebelumnya dinonaktifkan sementara waktu dari statusnya.

Turunnya SK pergantian ketua ini merupakan buntut kontestasi dua kader PPP yang sama-sama maju di Pilkada Banjarbaru 2020. Kedua kader tersebut ialah, Darmawan Jaya Setiawan sebagai Bakal Calon Wakil Walikota Banjarbaru berpasangan dengan Nadjmi Adhani. Sedangkan Aditya Mufti Arffin—yang merupakan Ketua DPW PPP Kalsel, maju sebagai kandidat Bakal Calon Walikota Banjarbaru berpasangan dengan AR Iwansyah.

Kedua kader PPP ini digadang-gadang akan menjadi rival saat gelaran Pilkada Banjarbaru. Namun, faktanya PPP sendiri harus memilih diantara Jaya atau Aditya. Sebab, dengan perolehan 4 kursi di Parlemen membuat kondisi PPP tidak mungkin mencalonkan dua kader di Pilkada. Walhasil, perang dingin di internal PPP pun tidak terhindarkan.

Baca juga : ‘Surat Cinta’ DPP PPP untuk Pasangan Aditya-Iwansyah di Pilkada Banjarbaru 2020

Akhir dari puncak perang dingin ini terlihat, saat DPP PPP memilih Aditya sebagai kader yang satu-satunya didukung untuk maju dalam laga Pilkada Banjarbaru. Hal tersebut tercantum melalui SK DPP PPP Nomor 475/SK/DPP/C/X/2019 yang memutuskan dan menetapkan pasangan HM Aditya Mufti Ariffin sebagai Calon Walikota Banjarbaru didampingi H AR Iwansyah sebagai calon Wakil Walikota Banjarbaru 2020-2025.

Walhasil dengan adanya keputusan ini, Damawan Jaya Setiawan pun dipaksa melepaskan statusnya sebagai Ketua DPC PPP Banjarbaru jika masih ingin ngotot maju sebagai pasangan incumbent.

Pasca dirinya ditunjuk sebagai Plt Ketua DPC PPP Banjarbaru, Subakhi, mengatakan akan tetap akan melaksanakan tugas seperti biasa. Apalagi, dalam persiapan Pilkada Banjarbaru, dirinya juga akan mengkonsolidasikan dengan Pengurus Anak Cabang (PAC) dan Ranting untuk memperkuat dukungan kepada pasangan Aditya-Iwansyah.

“Tujuan kita, pengurus partai harus memenangkan yang sudah diusung dan direstusi oleh DPP PPP. Pertama, konsulidasi partai yang kita oerkuat. Langkah-langkah kemenangan harus kita lakukan. Saya all out, siap memenangkan,” ujarnya, Selasa (3/12).

Subakhi juga menegaskan apabila ada kader yang tidak mendukung keputusan dari DPP PPP, maka kader tersebut harus menerima sanksi sesuai aturan partai.

Terkait situasi internal PPP saat ini, Subakhi mengakui situasi masih kondusif. Dirinya juga menjelaskan untuk status Jaya telah dinonaktifkan sementara waktu sebagai ketua dan hanya menjadi kader biasa.

“Saya akan menjadi Plt DPC PPP Banjarbaru sampai pelaksanaan Musyawarah Cabang (Muscab) tahun 2021 nanti menggantikan Pak Jaya. Beliau tidak dipecat, hanya dinonaktifkan saja,” lanjutnya.

Meskipun begitu, hingga hari ini Subakhi sendiri belum mau menunjukan secara fisik SK yang berisikan penetapan dirinya sebagai Plt Ketua DPC PPP Banjarbaru dan penonaktifan Darmawan Jaya Setiawan. Alasannya, karena harus menunggu rapat pengurus terlebih dulu.

“Jadi SK ini ditunjukan ke pengurus DPC PPP Banjarbaru. Diterima oleh pengurus. Pak Jaya memang belum menerima secara langsung SK tersebut. Kalau sudah selesai rapat dengan pengurus, pasti kita akan publikasikan,” pungkasnya.

Sementara itu, Darmawan Jaya Setiawan memang mengakui dirinya belum menerima secara langsung bentuk fisik dari SK tersebut. Dirinya pun menyayangkan kondisi ini karena kabar penonaktifannya diketahui melalui berita media yang beredar.

“Saya tidak mengerti kenapa bukan saya yang menerima SK itu. Malah saya taunya dari media yang menulis berita tersebut. Saya rasa sebaiknya disampaikan ke yang bersangkutan,” jujurnya.

Dijelaskan Jaya, dirinya belum berani mengambil langkah-langkah terkait penonaktifan sementara statusnya sebagai Ketua DPC PPP Banjarbaru. Apalagi, dirinya juga ingin lebih tahu alasan mengapa dirinya dinonaktifkan. “SK nya belum saya lihat di depan mata sendiri. Saya ingin melihat apa pertimbangan sehingga dinonaktifkan dan apa saran-saran yang ditujukan kepada saya. Kalau sudah begitu, maka saya sesegera mungkin menentukan sikap,” tegasnya.

Walhasil, konflik internal di tubuh PPP Banjarbaru ini akan menjadi tantangan buat internal parpol ke depan. Sebab tidak menutup kemungkinan, pecah perahu tak bisa dihindari. Mengingat sebagai mantan Ketua PPP Banjarbaru, Jaya akan tetap memiliki pengaruh atas sejumlah kader yang masih duduk di kepengurusan.

Di sisi lain, ada kemungkinan juga Subakhi akan melakukan pembersihan atas loyalis Jaya dengan mereposisi struktur kepengurusan secara masif. Hal ini harus dilakukan untuk membendung atau membentengi agar dukungan atas paket Aditya-Iwansyah tetap solid. (Rico)

Reporter : Rico
Editor : Chell

 

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->