Connect with us

Budaya

Cara Melawan Pembredelan Buku Adalah dengan Membaca!

Diterbitkan

pada

BANJARMASIN, Pembredelan sejumlah buku oleh aparat TNI di beberapa daerah, menjadi keprihatinan. Meskipun dengan dalih mengantisipasi kebangkitan komunisme dengan merazia sejumlah tokoh buku yang menjual buku beraliran kiri, hal tersebut dianggap sebagai langkah mundur di era demokrasi. Terlebih, hal tersebut nyata-nyata melabrak aturan perundangan.

Menyikapi hal ini, penulis novel Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, dan sejumlah buku lainnya, Eka Kurniawan, mengatakan ketidaksepakatannya dengan model razia terhadap buku. Jika alasan pihak yang merazia ini adalah ingin meneliti apakah buku itu mengandung ajaran-ajaran ‘berbahaya,’ seharusnya tidak dengan cara sweeping. “Kalau mau meneliti, pergi ke toko buku dan beli saja. Tidak bisa langsung mengambil begitu saja. Sama saja dengan pencurian,” katanya ditemui di gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalsel.

Rka Kurniawan mengatakan, meski razia mengatasnamakan institusi negara, sudah sangat jelas hukumnya dilarang. Apalagi dalam hal ini merampas. “Sebenarnya tidak cuma buku, tapi segala jenis hak milik pribadi dirampas tanpa persetujuan dari pengadilan, tidak boleh,” tegasnya.

Bahkan jika benar terbukti ada ajaran atau apapun yang berbahaya dan terlarang, buku tidak bisa semena-mena dilarang. Karena Mahkamah Konstitusi (MK) sudah menyatakan bahwa tidak bisa buku dilarang di Indonesia, kecuali oleh putusan pengadilan.

“Jadi dia harus maju dulu ke pengadialan, dibuktikan, dan hakim harus mengambil keputusan. Prosedurnya panjang, tidak bisa semata-mata buku ini dilarang dan di-sweeping,” ungkapnya.

Pada 2010 Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutus bahwa pengamanan barang-barang cetakan secara sepihak sebagaimana tercantum dalam UU no. 4/PNPS/1963 bertentangan dengan UUD 1945. Menurut MK pelarangan atau penyitaan buku semestinya dilakukan setelah melalui proses peradilan.

Sedikit keluar dari isu ini, Eka menyampaikan bahwa buku, yang paling penting sebenarnya mau di-sweeping atau tidak, paling aman adalah jika buku tersebut dibaca. ‘Kalau buku itu dibaca, mau bukunya dirampas dan dibakar, ya tidak akan bisa dirampas, bukunya sudah ada di dalam kepala kita,” katanya.

Salah satu cara melawan sweeping, pembredelan, dan sensor buku adalah dengan membaca. Jika buku sudah ada di dalam kepala kita, satu satunya cara untuk menghapusnya adalah dengan buku lain. “Membaca buku misalkan tentang A, kamu setuju. Akhirnya kamu baca tentang B yang mengkritik A, lalu kamu setuju dengan B. Cara seperti itu lah yang sehat,” tambah penulis yang bukunya sudah diterjemahkan ke berbagai Bahasa.

Ia juga mengambil contoh bahwa Amerika juga bukan negara yang sepenuhnya liberal. Meski tidak di tingkat nasional tapi masih ada beberapa institusi pendidikan di beberapa daerah yang melarang beberapa jenis buku untuk dibaca muridnya. Hingga lahirlah gerakan membaca buku yang dilarang.

Pengaruh besar dari sweeping buku untuk dunia kesusastraan sendiri ia rasa masih belum berdampak. Tapi lahirnya rasa takut, mulai terasa. Terutama front bagian depan, yaitu penjual buku. “Karena mereka yang paling pertama didatangi. Mereka jadi takut menjual buku. Itu di Padang kan katanya ada toko buku yang mau tutup,” ungkapnya.

Ketakutan inilah yang harus diwaspadai. Bahkan penjual buku tidak hanya yang mempunyai toko, tapi yang daring pun tentu bisa merasa takut. Efek ini terus berantai. Jika penjual buku takut, toko buku pun akan tutup, para pembaca akan kesusahan mencari buku.

Ketakutan ini menurutnya juga adalah karena penjual buku tidak mempunyai organisasi atau perserikatan. Jika saja ada, misalkan kelompok buku diserang tentu anggota kelompok lainnya bisa mengadvokasi. Namun hingga saat ini advokasi itu masih relatif menurut Eka dan tidak ada yang kolektif.

“Pada akhirnya, cara kita melawan perlakuan terhadap buku yang kadang ada di luar nalar orang-orang normal adalah dengan terus membaca. Mengutip kata Soe Hok Gie, ‘hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah,” katanya.(mario)

Bagikan berita ini!
  • 1
    Share