ACT KALSEL
Bagus dan Rima, Dua Relawan ACT Kalsel yang Memilih Tetap Bertahan di Sulteng!
Perjalanan Tim Jurnalis Kemanusiaan Bersama ACT Kalsel di Sulteng (1)
DONGGALA, Ribuan warga Palu dan Donggala meratap pilu setelah gempa dan tsunami menerjang provinsi Sulawesi Tengah. Peristiwa tersebut dengan cepat meratakan rumah-rumah warga dengan tanah. Ribuan telah ditemukan jadi korban dan selebihnya masih dalam pencarian.
Keprihatinan terhadap nasib saudara sebangsa di Provinsi Sulawesi Tengah menjadi motivasi besar bagi para relawan yang tergabung dalam (Marayakat Relawan Indonesia) MRI yang dibentuk Aksi Cepat Tanggap (ACT) dalam membantu para korban yang tertimpa bencana.
Tidak ketinggalan ACT Cabang Kalimantan Selatan, juga mengirim 5 relawan anak-anak Banua pada awal Oktober lalu. Namun seiring berubahnya fase bencana dari emergency menjadi recovery, beberapa relawan mulai dipulangkan ke kampung halamannya.
Hingga kini, hanya tersisa 2 relawan Kalsel yang masih bertahan. Mereka adalah Bagus Setiawan (24) dan Rima Nur Anjani (20). Keduanya merupakan warga Kota Banjarmasin dan saat ini masih duduk di bangku perkuliahan.
Ditemui jurnalis Kanalkalimantan di Posko Sindowe Induk, Kabupaten Donggala, Kamis (1/11), keduanya terlihat dalam kondisi sehat dan berbaur dengan masyarakat disana. Mereka tinggal di sebuah rumah milik Zani, yang sekaligus digunakan sebagai Posko Sindowe Induk dan halamannya digunakan sebagai tempat berdirinya tenda para pengungsi.
Bagus menjelaskan, pada 10 Oktober tiba di Palu, 70% masyarakat saat itu masih bingung mengungsi bahkan ada yang tinggal di sawah. Ia menjelaskan masuknya ACT di sana, barulah ada tempat mengungsi serta distribusi pangan.
“Saat itu pengunsian sedikit, sehingga saat itu kita bangun tenda pengungsian. ACT yang baru masuk saat itu barulah tersalurkan distribusi pangan untuk masyarakat disini,†ungkapnya
Tugasnya menjadi relawan di Palu, merupakan kali pertamanya di luar Kalsel. Namun ia dapat menyesuaikan kondisi tersebut karena Ia juga aktif menjadi rekanan Palang Merah Indonesia (PMI) di Tagana. Kendalanya sewaktu bertugas saat pertama datang saat pendistribusian sulit dilakukan karena cara berkomunikasi.
“Saat itu kesulitan mendistribusikan bantuan karena cara komunikasi kita berbeda dengan masyarakat di sini. Jadi harus berbaur dan membiasakan dulu,†ungkap Mahasiswa STKIP PGRI Banjarmasin ini.
-
HEADLINE3 hari yang laluSepekan Operasi Modifikasi Cuaca di Kalsel, Perpanjangan Tunggu Rekomendasi BMKG
-
Kalimantan Selatan3 hari yang laluKarhutla di Kawasan Perkantoran Gubernur dan Permukiman Warga Cempaka
-
kampus2 hari yang laluEmpat Bakal Calon Rektor ULM 2026-2030 Paparkan Visi Misi
-
Gadget1 hari yang laluMemilih Laptop Investasi Jangka Panjang, Axioo Lengkapi Perlindungan Axioo ADP XTRA hingga 3 Tahun
-
PUPR PROV KALSEL2 hari yang laluDinas PUPR Kalsel Gelar Sosialisasi Peningkatan Akses Aman Air Limbah Domestik
-
Kalimantan Selatan2 hari yang laluKementan RI – DPKP Kalsel Monitoring Luas Tambah Tanam Padi di Batola


