Connect with us

Kota Banjarmasin

Warga Banjarmasin Sambut Baik Pembagian Bakul Purun di Pasar Tradisional

Diterbitkan

pada

Aksi bagi-bagi purun di sejumlah pasar tradisional di Banjarmasin Foto: mario

BANJARMASIN, Menandai tiga tahun kepemimpinan Walikota Banjarmasin Ibnu Sina dan Wakil walikota Hermansyah, Pemko menggelar pembagian ribuan bakul purun kepada para pedagang dan pembeli di lima pasar tradisional , Kamis (14/2). Gerakan bakul purun dilaunching di Pasar Teluk Dalam sebagai komitmen pemerintah menanggulangi sampah plastik. Selain itu, aksi sama juga dilakukan di pasar lainnya yakni Pasar Teluk Dalam, Pasar Pandu, Pasar Pekauman, Pasar Cemara, Pasar Banjar Raya.

Ibnu Sina mengatakan, penggunaan bakul purun di pasar tradisional sebagai proyek uji coba penerapan penggunaan. “Karena dari enam bulan lalu, dua pasar ini sangat mendukung dan akan kita lanjutkan seterusnya,” tegasnya.

Ia berharap, kegiatan ini bisa terus mendapat dukungan masyarakat. Dimana sebelumnya, Pemko Banjarmasin juga telah menerapkan kebijakan zero plastik untuk ritel maupun pusat perbelanjaan.

Bakul purun sendiri digunakan karena melihat orang tua zaman dulu yang menggunakan saat berbelanja ke pasar. Selain itu bakul purun ramah lingkungan dan bisa digunakana berkali-kali juga menjadi alasan lainnya. Serta tentu dalam rangka menghidupkan UKM dalam sektor pemberdayaan masyarakat.

Sebagai gambaran, saat ini ada 600 ton sampah setiap hari di Banjarmasin. Dari jumlah tersebut, 15 persennya adalah sampah plastik. “Dengan program ini, target pengurangannya bisa mencapai tiga hingga lima persen. Dengan masuknya bakul purun ke pasar tradisional, pemko akan lebih mengontrol dan berharap lebih tinggi lagi pengurangan sampah plastik setiap harinya dari lima hingga sepuluh persen,” katanya.

Walaupun di Banjarmasin sudah ada kampung purun, Ibnu Sina mengatakan bahwa ia mengajak seluruh kabupaten/kota untuk mensupply bakul purun ke Banjarmasin. Tentunya, penggunaan bakul purun untuk pasar tradisonal akan terkendala jika membeli beberapa hal yang basah seperti ikan.

Ibnu Sina mengatalan hal itu bisa dimodifikasi seperti menggunakan daun pisang, tapi jika tidak bisa, gunakan plastik yang direkomendasikan untuk makanan. “Tapi dikurangi seminimal mungkin” pungkasnya.

Melihat hal ini, Iis, yang pekerjaannya adalah sebagai penjual plastik ikut memberikan tanggapannya. “Ada sisi positif dan negatif. Sisi positifnya ya bagus, jadi lebih rapi dan sampah tidak berserakan. Negatifnya ya yang jual plastik kasihan, contohnya seperti saya. Gimana kalau plastik ditiadakan di pasar ini?” ungkapnya.

Iis mengatakan juga jika plastik sudah tidak bida digunakan lagi, ia akan berpindah menjual bakul purun.

Pun juga bagi Mahriah sebagai pembeli. Meski bentuk bakul tidak fleksibel dan harganya lebih mahal dari kantong plastik, ia merasa penggunannya lebih nayaman dan memuat bahan belanjaan lebih banyak dan lebih nyaman. Ditambah lagi bisa dipakai berulang-ulang.

Sebagai warga, ia setuju dengan program bakul purun ini karena bisa mengurangi sampah plastik dan membuat lingkungan lebih bersih. Ia juga sedikit memberi saran agar ke depannya pemko harus tegas dalam menjalankan program ini. “Kalau bisa kasih sanksi bagi yang masih menggunakan kantong plastik,” katanya.(mario)

Reporter:Mario
Editor:Cell

Bagikan berita ini!
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share
-->