Connect with us

Pendidikan

Tim PKM FTI Uniska Kenalkan APBAKUS di Dua Sekolah Inklusi

Diterbitkan

pada

Dua sekolah inklusi di Kabupaten Banjar mendapat hibah APBAKUS dari tim PKM FTI Uniska untuk digunakan guru pendamping khusus. Foto : pkm fti uniska

BANJARBARU, Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Muhammad Arsyad Al Banjari dari Fakultas Teknologi Informasi (FTI) menerima hibah dari Kemenristekdikti, setelah menerbitkan hasil PKM berjudul “Aplikasi Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Luar Biasa dan Inklusi di Kabupatan Banjar”.

Tim PKM FTI Uniska tak hanya berisi dosen FTI Uniska saja, ada juga Mirnawati SPd MPd dari FKIP Prodi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Kegiatan PKM berupa training berlangsung di dua sekolah inklusi di Kabupaten Banjar, dilanjutkan dengan seminar disertai workshop yang berlangsung pada Kamis (6/8) di Hotel Roditha Banjarbaru. Puncak dari kegiatan PKM berupa workshop di Hotel Roditha Banjarbaru diikuti 21 guru pendamping khusus dan kepala sekolah.

Saat workshop, tim PKM menghibahkan Aplikasi Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus (APBAKUS), modul APBAKUS dan juga tablet Samsung A8 kepada SDLBN 2 Sungai Paring dan SDN Keraton 4 Martapura -dua sekolah inklusi di Kabupaten Banjar-.

“Selaras dengan penelitian yang telah dilakukan, selanjutnya APBAKUS dapat diterima dan diterapkan di sekolah-sekolah yang menangani anak berkebutuhan khusus (ABK),” ujar Ketua Tim PKM, Fathul Hafidh SKom MKom. Nantinya para pengguna APBAKUS adalah guru pendamping khusus (GPK) yang merupakan aktor utama dalam pelaksanaan asesmen pada anak berkebutuhan khusus.

“APBAKUS telah hadir di playstore dan dapat didownload oleh siapa saja yang ingin memanfaatkan untuk melaksanakan asesmen,” kata Fathul Hafidh SKom MKom.

Masih menurut Ketua Tim PKM dari FTI Uniska ini, APBAKUS juga memiliki website resmi dengan nama apbakus.id, pada website tersebut terdapat menu download aplikasi, modul APBAKUS dan juga terdapat video dokumentasi dari kegiatan PKM.

Para guru pendamping khusus mendapatkan aplikasi dan cara penggunaannya, kemudian tim PKM mendapatkan umpan balik (feedback) dari guru untuk penyempurnaan aplikasi, baik SDLBN 2 Sungai Paring maupun SDN Keraton 4.

Saat workshop berlangsung, salah satu guru pendamping khusus, Rusmiani SPd mengatakan, ada kendala dalam kelas terutama pada ketunaan ganda, salah satu indikator keberhasilan pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah pengelolaan kelas dimana idealnya pemisahaan ketunaan ganda dengan ketunaan lainnya.

Guru pendamping khusus lain dari SDLBN 2, Dina Fuji Utami SPd memberikan kesan bahwa aplikasi tersebut sangat membantu. Mereka tidak perlu lagi berkutat dengan kertas asesmen yang sangat banyak. Dan ia berharap aplikasi nantinya dapat digunakan oleh seluruh guru pendamping khusus di Indonesia.

“Program ini terutama APBAKUS sangat membantu dan memudahkan pada SD inklusi, terutama proses asesmen tidak perlu lagi susah susah penyimpanan berkas dan pencarian asesmen mudah, hingga asesmen dapat berlangsung terus menerus,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Keraton 4, Hj Zuraidah SPd mengatakan, banyak hal mulai proses asesmen, Rencana Pembelajaran Persemester (RPP) pada sekolah Inklusi, proses ujian ABK hingga mengenai inklusi anak yang tidak mengenal tinggal kelas.

Ia mengatakan PKM ini sangat membantu terutama pada bidang asesmen. Kepsek SDN Keraton 4 ini menginginkan semua program kemitraan dilanjutkan, terutama hingga guru pendamping khusus benar-benar menerapkan APBAKUS.

Dilain pihak Plt Kepsek SLBN 2 Sungai Paring, Ernas Hudayanto SPd menyatakan, workshop ini sangat membantu terutama SDLB 2 Sungai Paring, adanya APBAKUS menjadikan penyimpanan data asesmen lebih mudah dan instrument sangat mudah. Dan berpesan untuk terus mengupdate aplikasi dan bersedia memberikan bantuan informasi untuk pengembangan lanjutan.

Mirnawati SPd MPd, dosen Pendidikan Luar Biasa ULM menyebutkan, melewat APBAKUS yang dipergunakan para guru pendamping khusus bisa mengoptimalkan potensi anak berkebutuhan khusus. “Lewat aplikasi ini bisa mengenal adanya ABK permanen dan ABK temporer, mengenal pendidikan inklusi dan menjelaskan indikator keberhasilan sekolah inklusi,” ujarnya.

Kepala Pusat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Uniska, Dr Nurul Listiyani SH MH mengungkapkan, tim PKM yang mendapatkan hibah telah mengharumkan nama UNISKA karena memenangkan hibah yang cukup sulit terutama hibah ini berskala nasional. (bie)

Reporter : Bie
Editor : Kk

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->