Connect with us

Budaya

Puisi, Suara, dan Kecemasan Akan Sungai-Sungai yang Pucat..

Diterbitkan

pada

BANJARBARU, Sungai, sebagaimana disebut dalam puisi karya Trisia Chandra- sampai saat ini masih mengalirkan inspirasi kelahiran ribuan anak-anak puisi. Dalam puisi berjudul ‘Sungai Kita’ yang dibaca dalam acara Lomba Baca Puisi bertema ‘Jangan Bentak Sungai Kita’, Sabtu (17/8) di Mingguraya, Banjarbaru, ia menghadirkan tentang memori sungai-sungai di Kalsel.

Sungai memang jadi bagian tak terpisahkan kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan. Terutama warga yang bermukim di sepanjang aliran sungai. Di Banjarmasin saja, yang notabene merupakan ibukota provinsi, tercatat memiliki kurang lebih 190 sungai.

Dari jumlah itu, 102 dinyatakan sebagai sungai yang ‘masih hidup’ dan sisanya mati karena tertutup sampah atau permukiman.
Hubungan masyarakat dengan sungai telah berlangsung berabad lalu. Fungsi sungai tidak hanya sebatas untuk mandi dan minum, tapi juga jalur transportasi air untuk mengangkut hasil panen dari kebun atau sawah serta sejumlah pusat bisnis dari pasar tradisional.

Namun, pembangunan saat ini telah dengan congkak mengerdilkan peradaban sungai yang sebelumnya dijaga. Pesatnya transportasi darat, memaksa satu-satu jukung, kelotok, dan perahu tradisional lainnya tersisih. Pada saat sama, pesatnya laju penduduk, berdirinya industri, dan juga masifnya tambang, semakin mempercepat kematian sungai-sungai itu.

Hal ini terjadi, pada sungai Martapura dan Sungai Barito yang kualitasnya semakin buruk akibat pencemaran logam berat maupun bakteri ecoli. Tingkat kekeruhan yang tinggi saat penghujan dan kadar garam melebihi baku mutu saat kemarau karena interusi air laut.

Walhi Kalsel mencatat, bahwa kerusakan dan penurunan kualitas air di Kalsel salah satunya akibat pertambangan yang massif. Ratusan kilometer sungai, diperkirakan sudah berubah menjadi areal pertambangan.

Dari kegelisahan sungai inilah, anak-anak puisi lahir. Bukan sekadar meratap, tapi juga membawa ingatan dan peringatan dengan suara lantang!

Seperti dilakukan oleh 13 peserta Lomba Baca Puisi, pagi tadi. Lewat puisi ‘Sungai Kita’ yang ditulis oleh Trisia, suara-suara itu hadir untuk mempertanyakan kembali. Tentang komitmen, untuk menjaga sungai Kalsel tetap lestari.

Kegiatan yang digelar Akademi Bangku Panjang ini, merupakan rangkaian darai beberapa agenda sebelumnya. Dimulai dari lomba cipta puisi tentang sungai– yang dimenangkan oleh Trisia Chandra, pembutan klip video baca puisi, hingga penampilan di depan dewan juri.

Dari seleksi sebanyak 64 peserta yang mengikuti pembuatan klip video baca puisi, dewan juri yang terdiri dari Sandi Firly, Rika Hadi, dan HE Benyamine, akhirnya memilih 13 orang sebagai peserta Lomba Baca Puisi yang dilangsungkan di panggung bundar Mingguraya, Banjarbaru.

Benyamine mengatakan, seluruh peserta sudah memiliki kemampuan yang sangat baik mengekspresikan puisi. “Ya, yang tampil tadi memang sudah hasil pilihan. Maka kualitas mereka sudah cukup bagus,” kata Direktur Akademi Bangku Panjang ini.

Dari hasil penilian juri, Juara I diraih Ridha Novrihati Solehah (Banjarbaru), juara II oleh Rahmatus Sholehah Benya (Kotabaru), dan Juara III diraih Desy Arfianty (Banjarbaru). Sedangkan untuk juara Harapan I diraih Irma Suryani (Banjarmasin), Harapan II diraih Rahmat Akbar (Kotabaru), dan Harapan III oleh Maria Edi (Banjarmasin).

13 peserta terlebih dalam pembutan klip video puisi sebelumnya masing-masing mendapatkan uang Rp 250.000. Sedangkan untuk pemenang Juara I mendapatkan uang Rp 2,5 juta, Juara II Rp 1.250.000, dan Juara III Rp 1.000.000. Untuk juara Harapan masing-masing mendapatkan uang Rp 500.000.

Menariknya, juara III loma baca puisi adalah jajaran direksi sekaligus sekretaris redaksi Kanalkalimantan.com, Desy Arfianty. Penampilan di panggung bundar Mingguraya tadi, bagi Desy adalah comeback-nya, setelah hampir 20 tahun tak lagi tampil di pentas sastra, khususnya baca puisi. “Sempat grogi dikit sih, apalagi pas kondisi suara lagi kurang vit. Tapi saya tetap berupaya maksimal setelah lama tak menjamah panggung baca puisi,” katanya.

Desy mengatakan, terpanggil untuk membaca puisi lagi karena merasa prihatin dengan kondisi sungai di Kalsel saat ini. Menurutnya, cara apapun harus dilakukan guna menjaga sungai tetap lestari. “Baik lewat puisi, berita, ataupun kebijakan yang pro pada pelestarian lingungan sungai,” tegasnya.

Selain itu, salah satu peserta lain yang tak kalah menarik adalah Juara Harapan III, Maria Edi dari Banjarmasin. Peserta tertua yang berusia 64 tahun ini, masih tetap semangat mengikuti lomba dan bersaing dengan juniornya. Maria, bukanlah sosok sembarangan. Ia merupakan salah satu dosen FKIP ULM, Program Studi Bahasa Indonesia.

Lalu, apa yang menggerakkannya ikut lomba membaca puisi? “Saya ikut karena ingin memberikan rule model pembelajaran baca puisi. Yang oleh para guru-guru bayak diabaikan atau dilewatkan dalam pelajaran di kelas,” ungkapnya.(desy)

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->