Connect with us

ACT KALSEL

Perjalanan ke Yaman: Pusat Krisis Itu Bernama Sana’a

Diterbitkan

pada

Teks: Kondisi Yaman memperlukan perhatian masyarakat internasional Foto: ACT

SANA’A, Tidak mudah bagi siapa pun untuk berkunjung ke sebuah negara yang sedang dirundung perang. Serupa dengan pengalaman Rudi Purnomo dari Tim Sympathy of Solidarity (SOS) for Yemen I – Aksi Cepat Tanggap (ACT) dalam perjalanannya menuju ke Yaman, salah satu negara Jazirah Arab yang terletak di barat daya Asia. Negara ini juga belakangan disebut-sebut sebagai negara terdampak krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Krisis diawali dengan perang, dan semakin buruk dengan kondisi ekonomi yang ambruk, wabah kolera, juga kelaparan akut di seluruh negeri.

Dari Indonesia menuju Yaman, perjalanan ditempuh melalui jalur Yordania, Senin (5/11) lalu. Setibanya di Tanah Yaman, kekhawatiran sempat menghampiri Rudi. “Saya mereka-reka, seperti apa eskalasi konflik yang sedang menderu sepanjang hari di sana?” ungkap Rudi. Namun pertanyaan itu perlahan terjawab ketika ia berhasil sampai di Sana’a, ibu kota Yaman, pada Selasa (13/11) dini hari.

Bagi Rudi, perjalanan menuju Kota Sana’a tidaklah mudah. Ia harus menempuh waktu 39 jam perjalanan dan menembus 35 pos keamanan. Rute dan buruknya sarana komunikasi menjadi kendala selama perjalanan.

“Dua pos terakhir pengamanannya sangat ketat, makanya di Sana’a cukup jarang orang asing. Namun, alhamdulillah semuanya lancar dan (saya) bisa masuk Yaman ,” cerita Rudi.

Sejak api konflik mulai berkobar, Sana’a lah yang menjadi pusat terjadinya krisis pengungsi terbesar. Wajar, di kota inilah konflik sipil itu dimulai. Sana’a sebelum konflik pernah menjadi ibu kota negara, namun ibu kota dan pusat pemerintahan darurat akhirnya dipindahkan ke Aden, kota besar lain di pesisir Teluk Aden.

Rudi bercerita, dari diskusinya dengan warga lokal di Yaman, mereka mengatakan bahwa Sana’a adalah pusat dari krisis. “Sampai hari ini, semua warga Yaman yang bermukim di Sana’a mencoba pergi melarikan diri ke kota-kota terdekat yang dirasa lebih aman. Salah satunya adalah Hodeidah yang sekarang justru tengah menjadi pusat pertempuran untuk mengambil alih pelabuhan,” tutur Rudi.

Ya, krisis di Yaman memang rumit dan meluas. Faksi-faksi yang berkonflik kini mengincar Hodeidah untuk dikuasai. Pasalnya, Hodeidah adalah kota terakhir yang menjadi pintu masuk kebutuhan logistik via jalur laut.

Namun akhirnya, konflik di Hodeidah ini pun membuat setidaknya 2 juta jiwa melarikan diri, berbalik arah ke Kota Sana’a. Rudi menemukan kenyataan, di Sana’a sepanjang jalan adalah penyintas perang yang tinggal dengan kondisi yang memprihatinkan.

“Di Distrik Jedar, misalnya, mereka bernaung hanya di bawah bangunan bekas yang hampir roboh, serta di lingkungan dengan sanitasi yang buruk. Rata-rata satu bangunan rumah dihuni oleh lebih dari enam anggota keluarga,” kata Rudi, melalui pesan yang dikirimkan menggunakan jejaring internet yang amat terbatas di Sana’a.

Para perempuan membawa jeriken untuk mencari air bersih. Berada di tanah gurun, sulit bagi mereka mendapat air.

Bercerita lebih lanjut, Rudi mengatakan, mereka yang berada di Sana’a tak berdaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sejak Hodeidah menjadi pusat konflik, biaya hidup di Sana’a menjadi sangat mahal. Harga barang pokok dan bahan bakar melonjak secara tidak wajar.

“Alhasil, mereka hanya mengharapkan bantuan kemanusiaan. Namun, Hodeidah sendiri yang menjadi pintu utama masuknya bantuan kemanusiaan beberapa kali sempat ditutup,” papar Rudi.

Terakhir Rudi mengabarkan bahwa dirinya masih berada di Distrik Jedar, Kota Sana’a. Ia ditemani oleh mitra dan seorang relawan lokal bernama Mohammed.

“Insya Allah, Distrik Jedar akan menjadi titik lokasi implementasi bantuan paket pangan, sambil melakukan assessment ke beberapa daerah lain. Saya di sini, memohon doa kepada masyarakat Indonesia semua, agar kami diberi kemudahan dalam menunaikan aksi kebaikan untuk warga Yaman, khususnya di Sana’a,” tuturnya. (act)

Reporter:ACT
Editor:Cell

Bagikan berita ini!