Connect with us

Budaya

Opera Caronong Samudra, Mengenal Sosok Sultan Suriansyah

Diterbitkan

pada

Pertunjukan kolosal Opera Caronong Samudra yang digelar Sabtu (2/1) di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin. Foto: mario

BANJARMASIN, Sebuah karya kolosal Opera Caronong Samudra yang digelar pada Sabtu (2/1) di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin. Dengan dua kali pagelaran yaitu pukul 16.00 WITA dan 20.00 WITA, opera ini sukses membuat daya tarik penonton.

Ketua STKIP PGRI Banjarmasin, Drs H Abidinsyah menyampaikan giat ini merupakan agenda ujian dari mata kuliah Manajemen Pertunjukan dan Produksi Tari. Dengan harapan agar saat lulus nanti, para mahasiswa bisa mengelola hal-hal yang nantinya akan mereka bawa saat terjun ke masyarakat.

Merupakan kali ke-3 sejak diadakan tahun 2017 lalu, opera kali ini bercerita tentang sejarah tokoh Kalimantan Selatan, Sultan Suriansyah dan mengajak penonton untuk mengenal sosoknya lebih jauh. Sebelumnya, pada tahun 2017 mereka mengangkat kisah Ramayanan Full Story dan pada 2018 mengangkat kisah Manjalung Ratu Zaleha.

Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Seni tari, Drs. Suwarjiya menyampaikan bahwa ada yang berbeda pada opera kali ini. “Jika dua karya sebelumnya berbentuk Sendratari, tahun ini mencoba menampilkan sajian dalam bentuk yang berbeda, yaitu dengan memasukkan unsur lagu dan dialog yang dilagukan” jelasnya.

Berdasarkan yang disampaikan oleh Ketua Pelaksaan, Siti Rahayu, kegiatan ini berisikan 39 tim manajemen, 20 tim teknis, serta 150 pemain yang tampil di panggung tersebut. Mahasiswi STKIP PGRI Jurusan Seni Tari ini menambahkan bahwa pemain-pemain tersebut merupakan gabungan antara mahasiswa STKIP, alumni STKIP, dan sekolah dasar yang ada di Banjarmasin yang bekerja sama dengan STKIP PGRI Banjarmasin.

Tentu musik dan naskah menjadi elemen penting dalam pagelaran ini. Penggarapan naskah dan musik sendiri memerlukan waktu sekitar 3 bulan. “Kesulitannya pada dialog, karena harus dilagukan dan disesuaikan dengan rima” jelas Anggi Pradana Irfansyah selaku penulis naskah dan juga pemusik.

Pun juga bagi Muhammad Syarif selaku kordinator musik, mengakui bahwa kesulitan yang harus ia hadapi adalah perihal memadukan instrumen tradisional dan modern, ditambah lagi harus menyelaraskannya dengan sentuhan dari paduan suara.

Penggabungan musik sendiri pun mereka lakukan agar tampilan opera ini nampak beda dan fresh. Sebagai alumni STKIP Banjarmasin, kedua pria ini menjelaskan bahwa meskipun membawa instrumen modern, mereka tidak akan melupakan tradisi Banjar. “Kami tidak pernah lepas dari tradisi. Untuk penggarapan musik bersandar pada lagu lagu Banjar, seperti Curiak, Ampar-ampar Pisang, dan Ma-Iwak. Suasananya diaransemen.”

Selain itu, mereka juga menyampaikan bahwa dialog dalam opera disampaikan melalui gurindam dan syair melayu Banjar. Hal ini tentu mereka lakukan agar suasanya khas Banjar semakin terasa.(mario)

Reporter: Mario
Editor: Chell

Bagikan berita ini!
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares
-->