Connect with us

Kabupaten Banjar

Melihat Perencanaan Pembangunan Kabupaten Banjar 2016-2021 (3)

Ciptakan Inovasi, Jadikan OPD Tak Ubahnya sebagai Laboratorium

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Meningkatkan kreatifitas mencipta inovasi, Bappelitbang Kabupaten Banjar menerapkan 5D (Drump up, Diagnose, Design, Delivery, Display). Foto: Rudiyanto

MARTAPURA, Berbagai inovasi dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Banjar dalam mewujudkan percepatan pembangunan. Salah satunya, dengan menggandeng Lembaga Administrasi Negara (LAN).

Bersama LAN, menurut Dr Hary Supriadi SH MA, Kepala Bappelitbang Kabupaten Banjar, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) difungsikan tak ubahnya laboratorium. Dari laboratorium itu nantinya diharapkan tercipta banyak inovasi-inovasi kreatif.

Untuk menghasilkan inovasi, Bappelitbang menerapkan pola 4D. D pertama ujar Hary, ‘Drump up’ yang bermakna menyemangati agar OPD terus berkreasi menghasilkan ide-ide kreatif. Termasuk dalam ‘Drump up’ adalah suntikan semangat untuk dapat terus menemukan permasalahan-permasalahan yang selama ini menjadi kendala.

Dari permasalahan-permasalahan yang ditemukam, ujar Hary, diagnose menjadi D kedua dari komponen 5D. Diagnosa berarti mendiagnosa atau mengindentifikasi permasalahan-permasalahan yang ditemukan.

Dicontohkan Hary, permasalahan Angka Harapan Hidup (AHH) yang merupakan satu empat komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Semisal yang permasalahan utama adalah angka kematian ibu saat melahirkan. Terlebih dulu mesti diketahui penyebabnya. Jika ternyata diketahui tingginya angka kematian ibu melahirkan karena lambannya penanganan di pusat kesahatan atau rumah sakit, tentu bentuk intervensi permasalahannya adalah peningkatan pelayanan dan fasilitas bersalin.

Dari hasil identifikasi masalah di tahap Diagnosa, ujar Hary, akan mudah menentukan cara Design penanganan atau bentuk intervensi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.

“D ketiga adalah Design. Setelah desain pemecahan masalahanya, maka akan lebih mudah saat Delivery atau diteruskan ke tahun anggaran berikutnya. D yang keempat adalah Delivery,” kata Hary.

Namun sebelum desain pemecahan masalalah didelivery ke tahun anggaran berikutnya, tentu tetap harus ditetapkan pola skala prioritas dari sekian banyak perencanaan tersebut. Salah satu unsur skala prioritas adalah rencana kegiatan yang akan dilaksanakan wajib menopang dicapainya indikator sasaran yang memang sudah ditetapkan dalam RPJMD Kabupaten Banjar 2016-2021.

Cascading, begitu Hary menyebut prioritas perencanaan yang menopang pada visi dan misi RPJMD. “Jangan sampai perencanaan kegiatan yang dibuat masing-masing SKPD berdiri sendiri. Semua perencanaan pembangunan harus menopang tercapainya visi dan misi pembangunan Kabupaten Banjar yang udah tertuang dalam RPJMD,” kata Hary.

Rampung di Delivery, D terakhir dalam konsep 5D untuk meciptakan inovasi adalah Display. Dipaparkan Hary, dari tahapan yang telah dilaksanakan, semua inovasi yang dihasilkan akan ditampikan. Dalam ajang expo misalnya , tak hanya inovasi yang berhasil yang akan ditampilkan. Tapi juga inovasi yang belum dapat diapliasikan. Ini bertujuan sebagai pembelajaran untuk mengetahui kendalanya sebagai bahan pembelajaran.

Dari keseluruhan konsep 5D itu, diakui Hary, diakui Hary saat ini sedang ditahap D kedua, atau Diagnose. Dan dari hasil diagnosa sejumlah permasalahan, sudah tercetus sekitar 124 rencana inovasi.

Dari ratusan rencana inovasi itu, ujarnya, memang sudah ada beberapa yang dirilis beberapa OPD sebagai inovasi. Di Bappelitbang sendiri, sebuah inovasi perencanaan yang dihasilkan dari proses identifikasi masalah dan perubahan paradigma adalah Teman Desa (Terpadu Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa). (rudiyanto)

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca
Advertisement
Komentar
-->