Connect with us

Hukum

Korupsi Dana Hibah KONI Banjarbaru Stagnan? Kasi Pidsus : Harus Selesai Tahun 2020

Diterbitkan

pada

Kejari Banjarbaru target kasus KONI rampung 2020 Foto : dok kanalkalimantan

BANJARBARU, Perkembangan kasus dugaan korupsi dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Banjarbaru senilai Rp 6,7 miliar belum ada perkembangan berarti. Hingga saat ini Kejaksaan Negeri (Kejari) Banjarbaru masih belum dapat menetapkan satu pun tersangka!

Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Banjarbaru, Mahardika, mengatakan sampai di awal tahun 2020 ini pihaknya masih berkutat pada pemeriksaan 40 orang saksi, yang mana 20 orang diantaranya berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Pemeriksaan saksi masih sama. Para atlet di masing-masing Cabang Olahraga (Cabor) juga sudah kita periksa,” katanya kepada awak media, Kamis (9/1) siang.

Baca Juga : Penyidikan Dugaan Penyelewengan Dana Hibah KONI Banjarbaru, 20 Saksi dari ASN Diperiksa

Pun, keterangan ini masih sama dengan berita yang telah diwartawakan Kanalkalimantan.com, pada bulan Desember tahun 2019. Disamping memerikan para saksi, Kejari Banjarbaru juga mengumpulkan alat bukti lain.

Dalam hal ini, Kejari Banjarbaru mengamankan uang Rp 9 juta yang nantinya dijadikan sebagai barang bukti. Diamankannya total uang pecahan Rp 100 ribu ini, diserahkan oleh seseorang yanh dirahasiakan.

Meski begitu, Kasi Pidsus Kejari Banjarbaru, meyakani bahwa kasus yang menggerkan seantero Kalsel ini akan selesai pada tahun 2020. “Kita juga tidak ingin kasus ini berlarut-larut. Harus selesai pada tahun 2020 ini. Itu yang saya pastikan bisa,”tegasnya. (Kanalkalimantan.com/rico)

Reporter : Kanalkalimantan.com/Rico
Editor : Chell

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hukum

Gelar Pesta Mewah saat Corona, Kapolsek Kembangan Kompol Fahrul Dipecat!

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Kapolsek Kembangan Kompol Fahrul Sudiana menggelar pesta pernikahan di tengah wabah corona. Foto: Dok. Instagram/Pauull_21

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Kapolsek Kembangan Kompol Fahrul Sudiana resmi dicopot dari jabatannya. Fahrul dicopot lantaran dinilai telah melanggar aturan Maklumat Kapolri Jenderal Polisi Idham Aziz bernomor MAK/2/III/2020 tertanggal 19 Maret 2020.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan pelanggaran tersebut berkaitan dengan acara pernikahan yang digelar Fahrul pada 21 Maret 2020.

“Hasil Propam Polda metro Jaya telah melanggar disiplin dan juga melanggar maklumat Kapolri yang sudah tegas dalam maklumat itu dalam rangka menghadapi penyebaran Covid-19 sekarang ini agar tidak ada kegiatan masyarakat yang sifatnya mengundang massa yang berkumpul,” kata Yusri kepada wartawan, Kamis (2/4/2020).

Yusri menegaskan bahwa Maklumat Kapolri tidak hanya berlaku bagi masyarakat saja, melainkan juga bagi seluruh anggota Polri. Berdasar perintah dari Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana kekinian Fahrul pun dicopot dari jabatannya sebagai Kapolsek Kembangan.

“Berdasarkan perintah Kapolda Metro Jaya, sejak hari ini yang bersangkutan di mutasikan ke Polda Metro Jaya sebagai analis kebijakan,” kata Yusri.

Sebelumnya, acara pernikahan Fahrul yang digelar di Hotel Mulia Senayan, Jakarta mendadak viral di media sosial. Pasalnya pernikahan itu digelar setelah Maklumat Kapolri Jenderal Polisi Idham Aziz dikeluarkan pada 19 Maret 2020.

Maklumat Kapolri Nomor Mak/2/III/2020 tentang Kepatuhan terhadap Kebijakan Pemerintah dalam Penanganan Penyebaran virus corona (Covid-19) itu ditandatangani Idham tertanggal 19 Maret 2020. Idham pun menginstruksikan personelnya untuk menertibkan masyarakat yang masih berkerumun dan berkumpul di tengah mewabahnya Covid-19.

Berdasar isi maklumat tersebut, setidaknya ada lima jenis kegiatan massa yang dapat dibubarkan. Diantaranya;

Pertama, pertemuan sosial, budaya, keagamaan, dan aliran kepercayaan dalam bentuk seminar, lokakarya, sarasehan, dan kegiatan lainnya yang sejenis.

Kedua, kegiatan konser musik, pekan raya, festival, bazar, pasar malam, pameran, dan resepsi keluarga.

Ketiga, kegiatan olahraga, kesenian, dan jasa hiburan.

Keempat, unjuk rasa, pawai, dan karnaval.

Kelima, kegiatan lain yang menjadikan berkumpulnya massa.

Sementara, acara pernikahan Fahrul di hotel mewah itu digelar pada 21 Maret 2020 atau dua hari setelah Maklumat Kapolri itu diteken. Foto resepsi pernikahan tersebut pun diunggah oleh Fahrul lewat akun Instagram miliknya @pauull_21.

“Alhamdulillah lancar terima kasih untuk Detasemen Akademi Kepolisian Angkatan 38 Setia 2006 @38setia yang telah mengantarkan prosesi pedang pora pernikahan saya. Kalian luar biasa 21.03.2020 #ricafahrullovestory,” tulis @pauull_21 dalam keterengan foto resepsi yang lokasinya tertera di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta seperti dikutip Suara.com -jaringan Kanalkalimantan.com, Rabu (2/4/2020).

Hal itu pun mengundang reaksi dari warganet. Salah satunya pemilik akun Twitter @riotuasikal.

Lewat akun Twitter, @riotuasikal membandingkan sekaligus mempertanyakan adanya perbedaan sikap aparat kepolisian dalam menertibkan kegiatan resepsi pernikahan di tengah mewabahnya Covid-19. Dia tampak mengunggah dan menyandingkan dua gambar tangkapan layar terkait resepsi pernikahan Fahrul di Hotel Mulia Senayan dengan pernikahan warga Cisoka, Banten, yang dibubarkan oleh aparat kepolisian dalam rangka upaya pencegahan penyebaran Covid-19.

“Dua tipe polisi saat COVID-19,” kicau @riotuasikal.

Sejumlah warganet lainnya pun turut merespons hal tersebut. Mulai dari sindiran halus hingga keras.

“Pengen gua maki nanti kena UU ITE,” kicau @SixFreaks.

“Selamat dan didoakan agar menjadi keluarga berbahagia ya, kalian pasangan di Cisoka Banten,” tulis @dansatriana.

“Maklumat udah keluar dari tanggal 19 mas,” tegas @belym00dy seraya mengunggah foto Maklumat Kapolri Jenderal Polisi Idham Aziz. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Hukum

Imbas Covid-19, Kasus Gusti Makmur Belum Bisa Dilimpahkan ke PN Banjarbaru

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Gara-gara Corona, berkas perkara kasus pencabulan Gusti Makmur belum dilimpahkan ke PN Banjarbaru. Foto: dok.kanal

KANALKALIMAMTAN.COM, BANJARBARU – Masih ingat dengan kasus Gusti Makmur, Mantan Ketua KPU Banjarmasin yang membuat geger atas aksi pencabulan terhadap anak di bawah umur? Rupanya, sampai saat ini kasusnya masih bergulir di ranah kejaksaan.

Setelah dinyatakan lengkap berkas perkaranya (P21), Gusti Makmur dititipkan di Lapas Kelas II Banjarbaru pada 10 Maret 2020 sembari menunggu jadwal sidangnya digekar. Kabar terbaru yang diterima Kanalkalimantan.com, pelaku pencabulan tersebut nampaknya harus mendekam lebih lama lagi di balik jeruji tahanan.

Kondisi daerah yang saat ini dihadapkan pandemi virus corona (Covid-19), membuat pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Banjarbaru tidak bisa melanjutkan proses penegakan hukum mantan Ketua KPU Banjarmasin tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Banjarbaru, Budi Muklis.

“Saat ini, Kota Banjarbaru sedang dalam status Tanggap Darurat Covid-19. Jadi sementara waktu ini kita tidak bisa melimpahkan berkas perkara GM (Gusti Makmur) ke Pengadilan Negeri Banjarbaru,” katanya, Rabu (1/3/2020) sore.

Selain itu, Budi menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan perpanjangan masa penahanan Gusti Makmur di Lapas Banjarbaru, yang mana statusnya ialah sebagai tahanan kejaksaan. Hal ini dilakukan sesuai dengan arahan yang tertera di Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomor 1 tahun 2020.

“Sesuai surat edaran, maka kita melakukan perpanjangan masa penahanan. GM akan dititipkam di Lapas Banjarbaru hingga pada tanggal 28 April 2020. Permintaan perpanjangan penahanan ke pengadilan juga sudah sesuai dengan pasal 25 KUHAP selama 30 hari,” ujar Kasi Pidum

Terkahir, Budi menegaskan bahwa belum adanya kelanjutan kasus Gusti Makmur adalah murni karena kondisi daerah yang saat ini menghadapi pandemi covid-19. Padahal, pihakmya sendiri telah sangat siap dalam melanjutkan kasus ini.

“Sebenarnya, kami telah menyiapkan Surat Dakwaan sebetulnya beberapa waktu lalu. Tapi, karena situasi dan kondisi seperti ini, kita belum bisa limpahkan. Intinya, kita berpedoman pada asas keselamatan rakyat yang ada adalah hukum tertinggi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Polres Banjarbaru resmi menahan mantan Ketua KPU Banjarmasin Gusti Makmur atas tindak pidana pencabulan anak di bawah umur, pada Januari lalu. Penahanan Gusti Makmur setelah pihak kepolisian memeriksa 7 orang saksi termasuk tersangka.

Kapolres menceritakan awal terjadinya aksi pencabulan yang dilakukan Gusti Makmur yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua KPU Banjarmasin, terjadi pada tanggal 25 Desember 2019, saat korbannya sedang membersihkan toilet. Korban merupakan anak magang di Grand Dafam Q Hotel, Banjarbaru.

“Korban dan GM bertemu di toilet dan terjadilah aksi pencabulan itu. Tersangka mengiming-imingi korban akan dibelikan pakaian sambil melakukan aksi pencabulan itu. Setelah aksi ini, kondisi korban trauma. Untuk itu, kita melakukan trauma healing kepada korban,” terang Kapolres. (kanalkalimantan.com/rico)

 

Reporter : Rico
Editor : Cell

 

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Hukum

Gara-gara Ingin Viral Sebar Video Hoax Wanita Tergeletak Korban Corona, BZ Diamankan Polres Banjarbaru

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Polisi mengamankan BZ selaku penyebar video perempuan tertidur di halaman rumah yang disebutnya korban corona. Foto: rico

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Polres Banjarbaru menindaklanjuti terkait beredarnya sebuah rekaman video yang memperlihatkan sesosok perempuan yang sedang terkapar di depan halaman rumah, di Kelurahan Komet, Banjarbaru. Pengunggah video tersebut memberikan informasi bahwa wanita yang ada di dalam video tersebut merupakan korban dari virus corona.

Mencuatnya video ini di sosial media, menimbulkan kehebohan di kota Banjarbaru. Hingga akhirnya pihak kepolisian mencari siapa penyebar video tersebut. Dalam konfrensi pers, Jumat (27/3/2020) malam, Kapolres Banjarbaru AKBP Doni Hadi Santoso mengatakan pihaknya telah menangkap penyebar video tersebut.

Tersangka berinisal BZ, 27 tahun, warga jalan Bumi Berkat, Kelurahan Sungai Besar, Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru.

Kapolres menceritakan awal mula kejadian ini, saat pihaknya mendapat informasi dari masyarakat adanya seorang perempuan yang tergeletak di depan rumah jalan Pangeran Hidayatullah, Kelurahan Komet, Banjarbaru.

Baca Juga : HEBOH. Tergeletak di Halaman Rumah, Seorang Perempuan Dikira Terpapar Corona ternyata Cuma Tertidur!

Setibanya di lokasi kejadian, petugas kemudian berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru dan menolong wanita tersebut yang ternyata hanya tertidur. Namun, untuk lebih memastikan Dinas Kesehatan Banjarbaru melakukan pemeriksaan meliputi suhu tubuh yang bersangkutan.

“Yang bersangkutan dinyatakan sehat dan tidak ada gejala terpapar Covid 19. Keadaan psikis wanita tersebut terganggu karena permasalahan keluarga,” kata AKBP Doni.

Sekitar pukul 11.30 Wita, Tim Patroli Cyber Polres Banjarbaru menemukan adanya video tidak benar  alias hoaks yang viral di grup whatsapp dan media sosial yang mana dalam video tersebut mengatakan “ada seseorang yang terkena virus corona dan diamankan anggota Polsek Banjarbaru Kota”. Akibatnya video tersebut membuat resah masyarakat.

Menindak lanjuti penyebaran berita hoaks tersebut petugas kemudian mencari pelaku yang merekam dan menyebarkan video yang tidak benar tersebut. Sekitar pukul 15.00 Wita, tim gabungan dari Unit Tipidter dan Polsek Banjarbaru Kota berhasil mengamankan pelaku saat tengah bekerja di sebuah warung di jalan Pangeran Hidayatullah Kota Banjarbaru.

“Jadi, alasan BZ menyebar video tersebut hanya karena ingin viral. Yakni dengan memberitahukan bahwa di Kota Banjarbaru ada korban Virus Corona sehingga pelaku membuat video hasil rekamannya ke status whatsapp dan mengupload video tersebut ke Facebook miliknya atas nama Dika Nanda,” kata Kapolres Banjarbaru.

Atas tindakan menyebar video yang terindikasi adalah informasi hoaks, BZ disangkakan dengan UU ITE sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat 2 dan atau pasal 15 UU RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana terhadap pelaku penyebar Berita Bohong / Hoaks dengan ancaman hukuman 3 Tahun Penjara.

“Kami imbau kepada masyarakat agar berhati-hati dalam membagikan  suatu berita yang belum tentu kebenarannya ke media sosial maupun grup-grup whatsapp karena penyebar berita bohong/hoax dapat dijerat UU ITE dan bagi penerima suatu berita agar selalu cek fakta sebenarnya terlebih dahulu melalui sumber yang kredibel,” pungkas Kapolres. (kanalkalimantan.com/rico)

Reporter : rico
Editor : cell

 

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->