Kisah Saksi Hidup Pembuat Bendungan Ir PM Noor Riam Kanan (1) - Kanal Kalimantan
Connect with us

Historia

Kisah Saksi Hidup Pembuat Bendungan Ir PM Noor Riam Kanan (1)

Mempunyai peranan dalam menjaga kestabilan daya tampung air yang dimanfaatkan untuk penggerak turbin air, sebagai sumber penghasil listrik tenaga air yang digerakkan oleh air dari waduk itu sendiri, merupakan salah satu fungsi dibangunnya waduk atau bendungan.

Bagikan berita ini!
  • 96
    Shares

Diterbitkan

pada

PEKERJA WADUK RIAM KANAN, Dokumentasi yang kini masih dimiliki salah satu pekerja pembuat Waduk Riam Kanan di tahun 1970. Foto : Istimewa

Di Kalimantan Selatan terdapat 1 bendungan yang terkenal besar dan dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik tenaga air yakni Waduk Riam Kanan.

Nama resminya Waduk Ir Pangeran Muhammad Noor (sang pencetus pembuat waduk asli urang Banjar) tapi lebih familiar dikenal dengan sebutan Waduk Riam Kanan kini masih berdiri kokoh menahan gempuran arus air sungai yang telah ditampung di dalamnya. Tidak sedikit tenaga kerja yang diperlukan dalam pembuatan Waduk Riam Kanan ini, bisa dikatakan harus benar-benar selektif dalam pencarian tenaga kerjanya.

Sudja’i Sarmo adalah salah seorang saksi sejarah pembuatan waduk itu. Pria perantauan dari Kota Surabaya ini merupakan salah seorang tenaga kerja yang pernah bekerja dan berperan dalam pembuatan Waduk Riam Kanan.

Pada tahun 1969, Dja’i (sapaan akrab beliau), membaca adanya lowongan pekerjaan di PLTA Riam Kanan di Harian Surabaya pada bulan September. Kemudian, dirinya tertarik dan berminat untuk melamar pekerjaan di tempat tersebut.

Untuk menempati satu posisi sebagai tenaga kerja cukup ketat dan harus melalui beberapa tahap ujian tertulis dan wawancara. Dari 900 orang yang melamar, hanya 32 orang saja yang dicari untuk direkrut, Sudja’i termasuk salah seorang dari 32 orang yang berhasil direkrut tadi.

Satu tahun setelah dirinya dan rekan-rekan kerjanya terpilih untuk bekerja dalam proses lebih lanjut pembuatan bendungan dan PLTA Riam Kanan atau tepatnya pada tanggal 3 Maret 1970, Sudja’i dan rombongan berangkat dari Kota Surabaya, Jawa Timur, menuju Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan menggunakan kapal laut.

Keesokan harinya, tanggal 4 Maret 1970, kapal laut yang mereka tumpangi bersandar di pelabuhan Banjarmasin. Tidak berselang lama, para pria terpilih ini langsung diberangkatkan lagi menggunakan transportasi darat yang telah disediakan, menuju lokasi yang telah direncanakan sejak awal yakni Riam Kanan.

Saat telah sampai di lokasi rencana pembangunan bendungan, Sudja’i dan rekan-rekan lainnya diberikan pelatihan oleh tenaga ahli di bidangnya selama 3 bulan, yang meliputi pelatihan mengendarai dan menjadi operator alat-alat berat, terutama bagaimana cara membuat bendungan yang kokoh dan kuat bertahan selama ratusan tahun.

Menurut Sudja’i, rangka dasar bendungan Riam Kanan terbuat dari beberapa lapis tanah tanpa ada lapisan atau campuran beton, yang di bagian tengah rangka itu terdapat filter atau penyaring air.

Filter itu berfungsi agar air yang ditampung dalam bendungan tidak merembes ke bagian sisi luar bendungan,” ujarnya.

Pembangunan bendungan, tambah Sudja’i, dimulai dari tahap survey awal lokasi dan kondisi lahan pada tahun 1963.

“Dalam proses pembuatan bendungan itu melibatkan 2.000 sampai 3.000 orang pekerja dari seluruh Indonesia, termasuk dari Jepang. Tenaga ahli dari teknik sipil, teknik mesin dan teknik listrik juga dilibatkan di dalamnya. Untuk teknik sipil, dibagi menjadi 2 teknik, yaitu teknik basah dan teknik kering,”

jelas pria yang dulunya bekerja sebagai operator alat berat ini. (bersambung)/(dema)

 

Bagikan berita ini!
  • 96
    Shares
Lanjutkan membaca
Advertisement
Komentar