Connect with us

Kabupaten Tanah Laut

#IndonesiaMakinCakapDigital: Internet Bukan Musuh Orangtua, Rasa Malas Mendamping Anak Itu Masalahnya!

Diterbitkan

pada

Webinar Literasi Digital Nasional 2021 bertema “Menyelam di Dunia Digital Dengan Segala Keragamannya”, Kabupaten Tanah Laut, berlangsung Senin (5/7/2021) pagi. Foto: al

KANALKALIMANTAN.COM, PELAIHARI – Internet dalam ruang digital itu sejatinya netral, tergantung pengguna, bisa jadi membahayakan atau menjadi lebih baik.

Webinar Literasi Digital Nasional 2021 bertema “Menyelam di Dunia Digital Dengan Segala Keragamannya”, Kabupaten Tanah Laut, berlangsung Senin (5/7/2021) pagi, Indonesia Makin Cakap Digital gelaran Kemkominfo RI, dengan moderator Amal Bastian.

Nara sumber Billy Purwocaroko mengatakan, di tengah teknologi informasi yang makin pesat, akses internet dan informasi berpotensi menjadi sumber bullying.

Lalu bagaimana menekan angka siberbully. Ada “Egois dan atau altruis,”.



 

 

Netizen Indonesia kekinian disebut menjadi netizen paling tidak sopan se Asia Tenggara, hasil survei Microsoft.

“Kita tidak boleh gagap internet, sehingga kita jadi pembully di internet,” katanya.
Perilaku kita sekarang selalu menunduk, melihat HP, lihat komputer, lihat PC.

Bagaimana kita membedakan bulliying atau guyonan di internet?. Internet sebenarnya netral, tergantung penggunanya, apakah lebih berbahaya atau lebih baik.

“Internet sebenarnya ruang inklusif, maksudnya adalah aman. Akses dan aman,” kata Billy.

Kekuatan altruis, untuk bisa menjadi kontrol egois. “Kita bisa bersih di internet, kita bisa tidak bersih di internet,” sambungnya.

“Perlu dicatat, ruang digital itu, bukan mading sekolah, yang nempel mingguan, tindak tanduk kita saat ini nempel selamanya di internet atau ruang digital. Kita rusak dengan setitik noda bagi perasaan orang lain,” bebernya.

Sementara itu, Ahmad Romawi Yunani, konsultan kreatif (Medialektika), saat ini semua orang harus memahami multikulturisme dalam ruang digital.

“Negara multikultur vs masyarakat multikultur. Indonesia mempunyai beragam kultur, tetapi bukan berarti masyarakat itu multikultur,” katanya.

Ciri masyarakat multikultur adalah plural (beragam), tapi tidak otomatis punya pluralisme.

“Pluralisme adalah cara hidup berdampingan beragam dengan menghormati orang lain,” kata Romawi Yunani.

Karena menurut Ahmad Romawi Yunani, saat ini tempat paling plural di dunia itu ada di ruang digital!. “Ruang digital adalah dunia paling plural di alam semesta,” sebutnya.

Keragaman di ruang digital jangan dipandang sebagai halangan. “Paling pintar hingga paling bodoh ada di sana. Itulah keragaman, selama anda memahami, itulah ruang digital,” kata Ahmad Romawi Yunani.

Faktor pelengkap ketika akan berinteraksi, diantaranya imitasi, duplikasi atau copy paste. “Hoax ada di sini,” kata konsultan kreatif media ini.

Identifikasi, kemudian memverifikasi, mengakurasi, memvaliditasi. “Memastikan keakuratan,”

Simpati dan empati, menghindari perundungan atau siberbullying, simpati dan empati yang harus kita lakukan. Di tengah keragaman apapun kita bisa menjadi lebih bijak.

“Dunia digital tidak bisa lagi kita tidak menjadi diri sendiri, karena ada aturan,” kata Romawi.

Kehidupan anda di dunia nyata bisa juga terblokir ketika anda diblokir di dunia digital.

“Mudah saja, jadilah diri anda sendiri. Anda butuh dihormati, anda butuh dihargai, begitu pula orang lain. Konsep paling dasar etika di dunia digital.”

Nara sumber lain, Rizky Rachmadhani membahas motivasi anak dalam mengakses internet. Tentu, ada dampak positif dan negatif.

Dampak positif, anak lebih kreatif. Dampak negatif, memperoleh apa yang seharusnya belum boleh didapat.

“Orangtua harus mengikuti apa yang dipelajari anak, anak itu ngapain, sukanya apa,” kata Danis. “Peran orangtua harus mendampingi,” kata Danis -biasa disapa-.

Masuk ke dunia online anak, bisa dengan langkah, membuat aturan tertulis, ada batasan waktu. “Jangan los begitu saja tanpa batas waktu menggunakan internet,” kata Danis.

Nah, musuh orangtua saat ini bukan internet dan televisi, tapi musuh orangtua adalah rasa malas. “contoh rasa malas mendampingi dan mengawasi anak,” tegas Danis.

M Nicko Farizki, Owner Amang Ojek Banjarmasin (PT Via Digital Indonesia).

Generasi alpha (Gen Alpha) kelahiran 2010 ke atas. “Sangat membutuhkan peran orangtua dalam pendampingan, karena teknologi hadir di masa mereka yang sudah sangat cepat dan terbuka,” kata Nicko. (kanalkalimantan.com/al)

Reporter : al
Editor : kk


iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->