Connect with us

BARISTAND

Gelar ICSTSI, Baristand Pertemukan Ilmuwan Cari Solusi Penelitian dan Teknologi Berkelanjutan (2-Habis)


Inovasi Berbasis Bahan Baku Lokal


Diterbitkan

pada

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Dr. Ir. Doddy Rahadi, MT, Foto : baristand

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU– Melalui inovasinya, Baristand Industri Banjarbaru telah melakukan terobosan melalui beberapa inovasi Litbangyasa berbasis sumberdaya berkelanjutan yang menggunakan bahan baku lokal. Seperti Pemanfaatan Clay Lokal sebagai Pengganti Clay Impor pada Pembuatan Papan Semen, Modifikasi Tepung Pati Sagu dari Pohon Rumbia (Metroxylon sagu Rottb) sebagai Bahan Baku Cangkang Kapsul dan Pengembangan Ekstrak Kulit Kayu Bangkal (Nauclea sp) dan Kayu Secang (Caesalpinia sappan. l) untuk Sediaan Bahan Baku Farmasi dan Kosmetika.

Kepala Baristand Industri Banjarbaru Budi Setiawan mengatakan, industri papan semen (fiber cement boards) selama ini masih tergantung pada beberapa bahan impor, salah satunya clay yang diimpor dari Taiwan.

“Menjawab tantangan tersebut maka Baristand Banjarbaru berinovasi dengan memanfaatkan clay lokal sebagai pengganti clay impor,” harapnya.

Untuk memperbaiki sifat permukaan kaolin yang masih lebih rendah dibandingkan clay impor dilakukan modifikasi, salah satunya dengan proses refining secara wet processing untuk mengurangi pengotor dan memperkecil ukuran partikel. Dari hasil penelitian tersebut menunjukan kaolin dapat digunakan untuk mengganti penggunaan clay impor dalam industri papan semen.



Ada juga inovasi Konversi Pati Sagu (Metroxylon sagu Rottb) sebagai bahan Baku pembuatan Gelatin-Like Cangkang Kapsul, penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan hasil hutan yaitu pohon rumbia (Metroxylon sagu Rottb) yang diambil kandungan patinya, untuk di konversi menjadi bahan baku pembuatan cangkang kapsul.

Cangkang kapsul sendiri memiliki komponen utama yaitu gelatin, dalam penggunaan secara keseluruhan gelatin yang beredar di dalam negeri hampir 90% adalah gelatin impor yang diketahui diproduksi dari bahan baku kulit dan tulang hewan. Pati sagu yang digunakan adalah pati sagu hasil modifikasi dengan metode cross linked. Proses gelatinasi yang terjadi pada pati sagu dimanfaatkan untuk pembuatan cangkang kapsul.

Hasil penelitian pati sagu memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku pembuatan cangkang kapsul. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengujian yang dilakukan, dan perlu dilakukan optimasi pengujian untuk dapat memenuhi srata mutu skala industri.

Selanjutnya dari produk kosmetika , Baristand Industri Banjarbaru mengangkat inovasi Masker Gel Peel off dan Masker Sheet dari Ekstrak Kulit Kayu Bangkal (Nauclea sp) yang bahan bakunya cukup melimpah di Kalimantan Selatan. Inovasi ini berupaya mengeksplorasi potensi dan manfaat kayu bangkal sebagai bahan aktif dalam masker gel / sheet untuk produk kosmetika. Selama ini masyarakat di Kalsel biasanya menggunaan bedak dingin bangkal (pupur dingin bangkal) untuk merawat kehalusan kulit dan mencegah jerawat peminatnya terus berkurang karena tidak praktis, mudah rontok, dan dianggap kurang modern.

Ekstrak kulit kayu bangkal mempunyai kemampuan menghambat bakteri S. aureus dan P. acne penyebab jerawat. Ekstrak terpilih untuk proses formulasi masker adalah ekstrak akuades dengan nilai MIC sebesar 400 µg/ mL dan IC50 sebesar 75 µg/mL. Ekstrak akuades selanjutnya diproduksi untuk sediaan masker dalam bentuk gel peel off dan masker sheet. Formulasi masker gel peel off diperoleh 3 formula dengan hasil organoleptik berupa warna kuning, tidak berbau dan kental, pH 5,0 waktu mengering 15 menit, campuran homogen, daya sebar 4,26 cm dan daya lekat berkisar antara 289-426 detik. Hasil formulasi masker sheet berupa serum dengan lembaran facial cotton yang memiliki karakteristik fisik berupa warna jingga, bau mawar, konsistensi cair dan pH 5,0

“Teknologi Industry 4.0 memiliki kemampuan memberikan solusi digital yang lebih baik untuk kehidupan kita sehari-hari selama krisis ini. Kementerian Perindustrian telah meluncurkan inisiatif Making Indonesia 4.0 untuk menyesuaikan strategi dan Roadmap adopsi industri 4.0 di Indonesia,” lanjut Doddy.

Seperti diampaikan Doddy Rahadi melalui seminar ini, Kementerian Perindustrian diharapkan mampu mendorong pengembangan ekosistem inovatif di sektor industri yang merupakan bagian dari program internalisasi sekaligus salah satu agenda untuk mendukung implementasi industri 4.0.

Kepala Baristand Industri Banjarbaru Budi Setiawan. Foto : baristand

Melalui penerapan Industri 4.0, diharapkan untuk meningkatkan pendekatan keberlanjutan yang ada seperti yang disepakati secara global dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Program pengembangan industri hijau diamanatkan oleh Peraturan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian. Industri hijau merupakan ikon industri yang harus dipahami dan dilaksanakan.

Industri harus menerapkan efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya yang berkelanjutan. Kriteria penilaian yang dibutuhkan untuk memenuhi difokuskan pada tiga aspek utama, yaitu:
1. Proses produksi yang terdiri dari efisiensi produksi;
2. Penggunaan material input, energi, air, teknologi dan sumber daya manusia; dan
3. Lingkungan kerja di ruang proses produksi.

Sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi menyatakan akan selalu mendukung dan membantu penyelesaian masalah industri melalui penelitian dan pengembangan Industri, terutama melalui Balai Riset yang yang ada di daerah.

Doddy juga memberikan apresiasi dan penghargaan luar biasa kepada setiap panitia yang telah memberikan pengorbanan besar, bekerja ekstra untuk mempersiapkan Seminar Internasional ICSTSI yang merupakan pertama kali di Baristand Industri Banjarbaru. (Kanalkalimantan.com/cel)

Reporter : Cel
Editor : Cell



iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->