Connect with us

Budaya

Eka Kurniawan, Bicara tentang Sastra Global hingga Daerah

Diterbitkan

pada

Diskusi sastra bersama Eka Kurniawan di Dispersip Kalsel Foto : mario

BANJARMASIN, Temu wicara yang berlangsung di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalsel berlangsung seru. Menghadirkan penulis yang karyanya sudah melalang buana hingga diterjemahkan ke banyak bahasa ini, tentu menjadi hadiah awal tahun yang menyenangkan bagi para penggiat literasi di banua.

Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau adalah sedikit dari banyaknya karya tulis yang dilahirkan oleh pria lulusan Filsafat Fakultas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Adalah Eka Kurniawan, yang kali ini dengan senang hati menerima undangan dari Kadispersip Kalsel, Nurliania Dardie, untuk mengisi kegiatan sekaligus menjadi narasumber dalam agenda temu wicara yang berlangsung Minggu (20/1) pagi ini. Tentu hal ini juga merupakan salah satu upaya Kadispersip demi lebih menumbuhkembangkan minat baca masyarakat di Kalsel.

Selain diskusi, tanya jawab juga terjadi antara Eka dan kawan-kawan penggiat literasi di Banjarmasin ini. Salah satu pembahasan yang menarik adalah tentang sastra global. Eka menyampaikan bahwa kesusastraan global bukanlah definisi yang mudah untuk diterang-jelaskan.

Seperti kita tahu, kesusastraan umumnya berpijak pada bahasa, dan di dunia ini ada ribuan bahasa. Besar maupun kecil. Tak semaunya barangkali menghasilkan kesusastraan tertulis, tapi bahkan yang aktif melahirkan tradisi kesusastraan tertulis pun jumlahnya masihlah sangat banyak.

Bagaimana kita bisa memetakan semua hasil kesusastraan dunia ini dan menjadikannya sebagai peta kesusastraan global?

“Kita bisa berpendapat bahwa kesusastraan global adalah puncak pencapaian yang terhimpun dari masing-masing kesusastraan nasioanal, atau kesusastraan yang berasal dari rahim bahasa-bahasa yang ada,” jelasnya.

Dari pendapatnya itu pun dapat diketahui bahwa ini merupakan persoalan yang tidak sepele. Di luar itu, masih banyak hal-hal lain yang ikut berpengaruh seperti industri perbukuan, ekonomi, bahkan politik.

Secara mudahnya, sastra global, adalah sastra yang banyak dibaca oleh masyarakat global. “Artinya masyarakat warga negara mana pun membacanya. Haruki Murakami, Salama Rushdie adalah contohnya (sastra global),” jelasnya.


Secara tidak langsung para pembaca di mana pun, hingga saat ini masih mengikuti ‘pasar’ sastra global sesuai dengan tolok ukur Amerika dan Inggris. Biasanya, percetakan di kedua negara tersebut lah yang menerbitkan dan menyebarluaskan buku-buku sastra berbagai negara dengan menggunakan bahasa Inggris.

“Ada problem di sana. Di mana yang kita kenal sebagai sastra global, terbit dalam bahasa Inggris. Ada proses seleksi yang sebenarnya proses itu tidak melulu soal kualitas. Apa yang menurut mereka bagus dan bisa di jual, ya itu.”

Sehingga kesannya bahwa sastra global adalah buku-buku sastra negara lain yang kebetulan disukai oleh warga Inggris dan Amerika, kemudian dialihbahasakan, lalu menyebar ke berbagai negara dan menjadi sastra global.

Lalu bagaimana dengan karya tulis yang bahkan tidak menggunakan bahasa Indonesia melainkan bahasa daerah? Seperti bahasa Banjar misalnya yang kita tahu, ada buku ‘Pilanggur’ dan ‘Setipis Apam Barabai,’ apakah bisa menembus pasar global.

Mungkin saja. Dua kata itu yang Eka sampaikan. Namun, apakah akan sukses? “Pasar global itu mirip rimba raya. Buku bisa terbit hingga ke Amerika atau Inggris, itu sudah merupakan sebuah jalan. Tapi jalan itu tidak selalu mulus”.

Di sini Eka menjelaskan bahwa bisa saja buku-buku berbahasa Banjar diterbitkan dengan bahasa Inggris dan dibaca oleh khalayak yang lebih luas. Namun belum tentu hal-hal seperti mitos Banjar dan gurindam bisa diterima, dikarenakan masing-masing negara dan budaya punya masing-masing cara pandang yang berbeda.

“Artinya, ketika kita berpikir untuk menjadikan sebuah karya menjadi global, masalahnya bukan semata-mata menerjemahkan karya itu. Tapi kita harus memperkenalkannya, ambil contoh, si pembaca harus diberi tahu tentang apa itu arti gurindam. Setelah mengerti, si pembaca juga harus paham apa konteks lokalnya” terang Eka.

Setelah diskusi sastra berakhir, Eka Kurniawan mengapresiasi antusiasme para peserta yang telah berhadir. Di samping baru pertama kalinya memasuki dan mengetahui sisi kota Banjarmasin dari giat literasinya, ia yakin bahwa literasi di banua ini mampu untuk berkembang pesat.”Saya rasa kalau kita bisa mengembangkan jauh lebih banyak, akan ada peta perubahan. Sastra daerah di Indonesia bisa lebih menarik.”

Hal ini tentu karena didukungnya dengan teknologi internet. Di mana orang-orang bisa lebih bebas menulis seperti di blog dan situs sastra. Meski ada sedikit problem seperti situs dan blog sastra daerah yang kadang hanya dikenal oleh masyarakat lokal saja, ia yakin bahwa paradigma seperti itu bisa dan harus diubah. “Meskipun (situs) ada di Banjarmasin, kita harus punya asumsi yang membaca adalah seluruh Indonesia. Artinya (semua isu lokal) bisa dibicarakan dan semua (yang membaca) bisa merasa memiliki” terangnya.(mario)

Reporter : Mario
Editor : Chell

Bagikan berita ini!
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares
-->