Dunia ‘Hitam Putih’ Ruslan yang Menolak Tunduk pada Era Digital - Kanal Kalimantan
Connect with us

Budaya

Dunia ‘Hitam Putih’ Ruslan yang Menolak Tunduk pada Era Digital

Diterbitkan

pada

Ruslan yang masih setia dengan gerobak cuci film hitam putih miliknya. Foto: Ammar

BANJARMASIN, Zaman berubah dengan turut membawa gaya baru. Apa yang hadir pada masa tempoe doeloe alias jadul, bisa jadi telah lama dikubur dalam kamus anak-anak muda zaman now. Mereka yang menyebut diri sebagai generasi milinial ini, sekarang hidup ditopang serangkai gawai yang serba canggih dan alam ‘demokrasi’ Republik Facebook, Twitter, atau Instagram!

Di negara maya itu, mereka menampilkan dirinya melalui berbagai foto yang diambil dengan kamera HP atau digital. Tingggal tekan tombol, lalu share di berbagai media sosial. Kemudahan teknologi inilah yang menopang eksistensi generasi sekarang!

Tapi, toh arus zaman tak begitu perkasa untuk ‘memaksa’ orang-orang seperti Ruslan (73). Di sela-sela gedung gedung baru yang mengisi Kota Banjarmasin, kakek ini tetap setia dengan gerobak foto analog miliknya. Tak seperti lainnya, Ruslan tetap memandang wajah dunia dari sisi ‘hitam putih’ lewat kamera lawas yang dimiliki.

Ruslan  yang seorang photographer tahun 70-an ini, masih menikmati pekerjaannya sebagai pencuci foto film hitam putih. Dengan dua kamera analog favoritnya, kamera dobel format Yashica 635 dan medium format Yashica 124– keduanya memakai engkol putar dengan bidang foto lebih besar dari SLR (Single Lens Reflect), ia terkadang masih memotret untuk mengisi waktu luang.

Ditanyakan kenapa masih bertahan di analog kamera, penggemar kretek linting ini sembari tertawa mengatakan kualitas kamera analog lebih bagus dibandingkan kamera digital. Terutama dalam hal memotret suatu objek ataupun memotret seseorang.

Berhenti menjadi seorang photographer di tahun 1973, tidak meredupkan dirinya untuk berhenti berbisnis cuci foto ini.  Di dalam gerobaknya yang gelap gulita itu tersimpan perangkat yang ia sebut kondensor, sebuah alat sejenis dengan pabrikan Fuji Film. Di rumahnya memiliki seperangkat lengkap negatif film yang akan membuat proses pencetak foto menjadi lebih cepat dengan rogohan kocek di tahun 1981 sekitar 50 gram emas hasil tabungan semasa muda.

Lahir di Amuntai tahun 1943, menjadikan dirinya ikon fotografer kamera analog dengan flash yang berbentuk bohlam ini. “Kalau ada mobil para orang belanda atau bule dari negara lain ke Banjarmasin selalu saya potret,” katanya ditemui Kanalkalimantan, bebrapa waktu lalu.

Dirinya pun sering memotret etnis Tionghoa di kota Seribu Sungai ini ketika melakukan foto keluarga ataupun poto perkawinan, bersama teman-temannya yang kini banyak sudah meninggal atau merantau ke Pulau Jawa.

Sekarang, dengan tarif satu roll pencucian foto Rp 25.000, dengan tubuhnya yang kurus renta ia masih menggantung harapnya terhadap dunia yang ia cintai sejak dulu. “Dulu bule-bule sering mencuci foto di tempat saya,” katanya.

Era digital menandai masa ketika memotret bukan lagi perkara wah. Kamera semakin murah dan praktis. Memotret dengan ponsel pun hasilnya terbilang bagus. Colok ke komputer dan printer, tinggal klik foto sudah tercetak.

Ruslan sebenarnya ingin pensiun. Bukan karena ia menyerah menghadapi era digital, tapi karena pinggangnya terasa nyeri. Tubuh kurusnya terus didera angin malam. Bahan baku berupa kertas foto dan cairan kimia pencuci juga makin sulit dicari.

Namun, niat itu dibatalkan setelah datang bantuan dari Analog Borneo, komunitas fotografer lokal pecinta kamera analog. “Katanya beli dari internet. Dikasih bahan baku, ya sudah nyuci lagi,” ujarnya tertawa.

Di balik itu, sebenarnya ada alasan yang lebih intim. Usaha yang ia cintai ini telah menafkahi dan menyekolahkan keenam anaknya. Juga penghiburan sejak istrinya meninggal lima tahun silam. Di rumah ia tinggal seorang diri, semua anaknya sudah berumah tangga dan hidup terpencar. “Di sini banyak kawan, kalau di rumah cuma ada televisi,” jelasnya.

Orang tuanya merantau ke Banjarmasin saat Ruslan masih SD. Tak ada uang untuk melanjutkan sekolah, Ruslan tak punya pilihan selain bekerja. Sepupunya kebetulan punya usaha cuci cetak foto. Setelah menumpang untuk belajar, Ruslan memutuskan untuk mandiri.

Rejeki nomplok biasanya datang pada tahun ajaran baru. Orang ramai mencuci untuk pas foto pendaftaran anak sekolah atau ijazah. Agar dapat borongan, Ruslan menemani para kepala sekolah. Atau mendekati pegawai Dinas Pendidikan.

Hubungan antara Ruslan dan Pasar Blauran bak sepasang kekasih. Kemanapun Pasar Blauran pindah, Ruslan pasti ikut. “Dulu saingannya 23 gerobak, itu yang mangkal di Pasar Blauran saja. Sekarang tinggal saya seorang diri,” kenangnya.

Sama seperti gerobak Ruslan yang makin sepi, pamor Pasar Blauran sebagai pasar malam terbesar di Banjarmasin juga kian redup. Jika Ruslan menghadapi era fotografi digital, maka Pasar Blauran menghadapi kejayaan mall, orang dari swedia pernah menawar alat cuci foto beserta kemeranya seharga 45jutan namun ditolaknya dan terucap sebuah kata di mulutnya.

“Analog sebuah bentuk perwujudan kekita mencintai lakyaknya keluarga. Kalau aku menjual barang itu, sama saja aku menjual keluargaku,” ungkapnya.(ammar)

Reporter : Ammar
Editor : Chell

Bagikan berita ini!
  • 92
    Shares