Connect with us

ACT KALSEL

Dongeng Kemanusiaan dan Layanan Kesehatan di Desa Terpencil

Diterbitkan

pada

Bantuan yang diberikan ACT Kalsel pada masyarakat desa terpencil Foto: ACT

BALANGAN, Akses jalan rusak dan listrik mahal. Demikian lah gambaran kesulitan warga di Desa Kambiyain. Sebuah desa terpencil di kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan. Mayoritas masyarakat di sana berasal dari suku Dayak. Kebutuhan terhadap listrik mereka peroleh dengan menggunakan genset. Untuk satu jamnya memerlukan 2 liter bensin dengan harga per-liternya sebelas ribu rupiah. Mereka kemudian mensiasatinya dengan menggunakan aki, yang sedikit lebih hemat.

Butuh waktu sekira dua setengah jam menuju Desa Kambiyain. Selain persoalan kondisi jalan dan listrik, layanan kesehatan yang cukup jauh dari pemukiman penduduk, menyebabkan mereka sulit merasakan pelayanan yang sama dengan desa-desa lain.

Berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi itulah Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Kalimantan Selatan berkunjung ke desa Kambiyain, Minggu (7/4) tadi. Sebanyak 25 relawan berbagi kebahagiaan bersama masyarakat Desa Kambiyain melalui kegiatan berupa dongeng kemanusiaan dan layanan kesehatan gratis. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Balai Adat Desa Kambiyain.

Dokter Muthmainah selaku pengurus MRI Kalsel menyampaikan bahwa aksi tersebut adalah bentuk kepedulian relawan kepada masyarakat di desa terpencil. “Ini adalah aksi kedua di Desa Kambiyain. Semoga ke depan makin banyak kepedulian untuk warga di sini sehingga kami bisa menyapa kembali,” ucapnya.

Dokter Muthmainah juga bertindak sebagai relawan dalam aksi layanan kesehatan gratis. Hasil pemeriksaan kesehatan masyarakat Desa Kambiyain, ditemukan beberapa penyakit seperti hipertensi. Namun, menurut Dokter Muthmainah secara umum warga dalam keadaan sehat. “Pada saat pemeriksaan, beberapa warga tadi berharap dapat dilaksanakan sunatan massal karena banyak anak-anak yang belum disunat,” ungkapnya.

Di sisi lain balai nampak anak-anak asik menikmati cerita dari salah seorang relawan. Alfina Sumayya dengan penuh keceriaan bercerita tentang pohon yang sombong. Sesekali anak-anak yang mengerumbunginya tergelak tertawa. Meskipun tawa itu terkesan malu-malu, namun kebahagiaan jelas menyelimuti mereka. Terlebih diakhir ada pembagian nutrisi berupa roti, susu, snack dan sereal. “Terima kasih kakak,” teriak mereka bersamaan.

“Senang sekali masih ada yang perhatian dengan kami di desa ini,” ujar Didi selaku perwakilan Dewan Adat Dayak Balangan. “Semoga kedepan desa kami bisa seperti desa-desa yang lain, maju dalam hal pendidikan, ekonomi, juga infrastruktur. Untuk para relawan, majulah terus membantu yang membutuhkan,” pungkas Didi.

Ketua MRI Balangan Nurul Yaqin menyampaikan keinginannya untuk terus mendampingi masyarakat Desa Kambiyain. “Insya Allah Desa Kambiyain akan dijadikan sebagai salah satu desa binaan dalam program MRI Balangan yaitu Aksi Kemanusiaan Dacil (Daerah Terpencil) agar kita bisa sama-sama membangun daerah ini,” terangnya.

Bicara soal infrastruktur desa yang belum layak, rupanya menjadi pengalaman tersendiri juga bagi perjuangan relawan hari itu. Jalan desa yang berbatu, banyak kelokan, tanjakan dan turunan menjadi tantangan yang luar biasa. Lajur yang tersedia tidak bisa dilalui dua mobil sekaligus, jadi harus bergantian. Salah satu relawan yang berangkat sempat terjatuh, dikarenakan jalanan yang becek sekaligus berbatu. Tapi, hal itu tidak menyurutkan langkahnya. Ia tetap melanjutkan niatnya dan membagi tawa bersama anak-anak di Desa Kambiyain.

Di sisi lain, perjalanan menembus pegunungan meratus itu dipenuhi dengan pemandangan hijau dan tebing tinggi nan indah. Keindahan yang tak akan pernah bisa tergantikan dengan apapun. Menjadi kewajiban kita semua untuk menjaga alam ini. (Sherly Sasmita)

Reporter: Sherly Sasmita
Editor: Chell

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->