Connect with us

Budaya

Buku “SBT Melawan Lupa”, Sebuah Kumpulan Catatan Misbach Tamrin

Diterbitkan

pada

Peluncuran buku “SBT Melawan Lupa” di Kampung Buku, jalan Sultan Adam Banjarmasin. foto : Mario
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, Usia senja tidak membuat Misbach Tamrin berhenti berkarya. Pelukis kelahiran 25 Agustus 1941 asal Amuntai ini melahirkan buku “SBT Melawan Lupa”. Peluncuran berlangsung di Kampung Buku, jalan Sultan Adam Banjarmasin, Misbach Tamrin membagikan sedikit cerita tentang buku yang ia buat.

Dari judul bukunya, SBT sendiri adalah singkatan dari Sanggar Bumi Tarung, sanggar seni sayap kiri di Indonesia. Sanggar ini didirkan oleh beberapa orang, termasuk Misbach Tamrin di dalamnya pada pertengahan 1961 di Yogyakarta. Buku ini sendiri merupakan kumpulan catatan-catatan Misbach Tamrin yang ia tulis di media sosial Facebook pada rentang tahun 2010 hingga 2012.

Buku ini merupakan oase rekonsilisasi budaya sesungguhanya. Seperti yang dicontohkan oleh Misbach Tamrin yang tertulis di bagian belakang bukunya, “Masa lalu menjadi alas untuk menguatkan kaki kita berpijak kokoh, untuk menapak bergerak ke depan. Kita terus melawan lupa untuk menagih sejarah, supaya tragedi kemanusiaan yang terburuk sepanjang sejarah kita, tak terulang kembali,” tulisnya.

Selain agar karya-karyanya bisa jadi bahan pembelajaran bagi generasi muda, Misbach Tamrin juga berharap agar buku barunya ini lebih diniatkan sebagai doa agar bangsa kita ke depan, selalu menghargai sejarah bangsa dengan meninggikan peradaban dan memuliakan kemanusiaan. Apalagi tajuk dari “melawan lupa” itu sendiri berarti melawan lupa atas sejarah bangsa, meski buruk, dan semoga tidak ditakdirkan untuk terulang.



Misbach Tamrin.

Hajriansyah, editor “SBT Melawan Lupa” mengatakan, tulisan buku ini dibuat di era yang sangat berbeda sekali untuk Tamrin Misbach. Ketika dulu orang harus berhadap-hadapan di ruang publik untuk mengemukakan gagasan, tapi kini berbeda ketika semua orang bisa berhadap-hadapan di dunia maya. Namun, satu hal yang tetap sama, yaitu situasi panasnya.

Hajriansyah melanjutkan, situasi yang ‘panas’ itu kini terlihat dalam situasi sosial-politik Indonesia terkini. Ideologi politik misalnya, dalam catatan Misbach Tamrin yang kadang dibuat spontan ini dapat menjadi kaca benggala perbandingan situasi politik Indonesia saat ini. Sehingga semangat Misbach Tamrin melalui tulisan-tulisan ini bisa dijadikan teladan bagaimana seseorang terlibat secara intelektual dalam periode jamannya, tutur Hajriansyah.

Atas dorongan pelukis Sholihin, Misbach Tamrin berangkat ke Yogykarta tahun 1959 untuk belajar melukis di Akademisi Senin Rupa Indonesia (ASRI). Sebagai mahasiswa yang hidup dalam suasana yang progresif-revolusioner bersama kawan-kawannya ia mendirikan SBT yang berafiliasi ke Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Peristiwa 65 menyeretnya ke penjara Orba selama 13 tahun. Pada tahun 80 hingga 90-an Misbach Tamrin banyak membuat karya monumen di kota dan kabupaten di Kalsel yang rata-rata merupakan pesanan penguasa daerah orde baru. (mario)

Reporter : Mario
Editor : Bie

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Budaya

Tayang Online, Prodi Seni Tari STIKIP PGRI Banjarmasin Pentaskan 3 Garapan Sinema Tari

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Jumpa pers penggarapan sinema tari yang berjudul ‘Ma'anjung Kisah Bamula Lastari Budaya Banua’ oleh mahasiswa Prodi Seni Tari STIKIP PGRI Banjarmasin, Kamis (25/2/2021) Foto: tius
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Program Studi Pendidikan Seni Tari STIKIP PGRI Banjarmasin akan menggelar sebuah acara sinema tari yang berjudul ‘Ma’anjung Kisah Bamula Lastari Budaya Banua’. Sinema tari ini akan ditayangkan secara online di youtube channel APM Production21, pada tanggal 5, 6 dan 7 Maret pukul 20.00 Wita.

Hal tersebut disampaikan Ketua STKIP PGRI Banjarmasin Dr Dina Huriaty M.Pd dalam jumpa pers yang dilangsungkan di Aula STIKIP PGRI, Kamis (25/2/2021).

Berbeda dengan sebelumnya, pementasan sinema tari dilakukan secara live streaming melalui youtube.
“Mengingat masih maraknya penyebaran covid-19, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan secara offline,” ujarnya.

Ia mengatakan, sangat mengapresiasi dan berbangga hati atas pencapaian atas terciptanya sinema tari ini. Harapannya meski dalam kondisi pandemi, tetapi karya seni Banua tetap bisa eksis dan bisa didaftarkan hak kekayaan intelektualnya.



Sinema tari ini merangkum 3 judul berbeda. Yakni ‘Manyingkai Pangambangan’ yang digarap di Banjarmasin, lalu ‘Darau Purun’ yang digarap di Banjarbaru dan yang terakhir ‘Tamula Gunung Hantanung’ yang digarap di Desa Ajung, Kecamatan Tinggi Tebing, Balangan.

Ketua prodi (Kapodri) Pendidikan seni tari STIKIP PGRI Drs Suwarjiya M,Pd menjelaskan bahwa sinema merupakan kata lain dari film.

“Jadi sinema tari ini merupakan sebuah karya seni tari yang dapat dinikmati secara visual melalui media virtual,” terangnya.

Proses karya yang digarap selama kurang lebih 4 bulan tersebut melalui tahapan panjang. Tidak terkecuali kendala yang dihadap seperti faktor cuaca, pencarian tema, pencarian narasumber, sampai terbatasnya sponsor yang masuk akibat pandemi covid-19.

Ia menambahkan, karya yang digarap oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Tari angkatan 2017 ini, guna memenuhi ujian mata kuliah manejemen seni pertunjukan dan mata kuliah produksi tari.

“Ya yang penting mahasiwanya aktif dan serius melakukan penggarapan sinema tari ini, mereka bisa dipastikan lulus dalam mata kuliah tersebut,” tambahnya. (Kanalkalimantan/Tius)

 

Reporter : Tius
Editor : Cell

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Budaya

Sandiaga Uno Minta Endorsement Rhoma Irama Agar Dangdut Jadi Warisan Budaya

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Rhoma bersama Sandiaga Uno Foto: suara
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA– Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno telah berkomunikasi dengan Rhoma Irama terkait rencananya mengusulkan musik dangdut masuk warisan budaya dunia kepada Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO. Sandiaga mengaku meminta dukungan dari Rhoma sebagai musikus dangdut senior.

“Langsung saya terhubung dengan Bapak Profesor KH Rhoma Irama yang terkenal sebagai raja dangdut untuk memohon endorsement dari beliau,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya.

Sandiaga menyebut Rhoma mendukung rencana Kementerian mendorong musik dangdut menjadi warisan setelah sebelumnya sempat tersendat.

Sandiaga berharap, dengan masuknya dangdut sebagai warisan budaya, semangat para seniman untuk bergerak cepat memulihkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif nasional terpacu. Ia meyakini dangdut bisa mendunia selevel Hollywood dan K-Pop.



“Jadi kalau Amerika punya Hollywood, Korea punya K-Pop, sudah saatnya Indonesia punya dangdut sebagai music of my country,” tutur dia.

Sandiaga mengimbuhkan, dangdut telah sejak lama menjadi hiburan masyarakat di berbagai kalangan. Di samping itu, musik tersebut memiliki potensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Saat ini, tutur Sandiaga, terdapat 18 juta masyarakat Indonesia yang mengantungkan penghidupannya di sektor ekonomi kreatif, termasuk dangdut. Dia menilai lapangan kerja pada industri musik dangdut tak hanya merujuk pada pasar penyukanya, tapi juga kegiatan-kegiatan usaha yang terhubung dengan pertunjukan tersebut.

Besarnya peluang usaha itu ia contohkan lewat meledaknya pengagum dangdut campur sari yang dipopulerkan oleh Didi Kempot. Di masa pandemi Covid-19, Sandiaga mengatakan dangdut telah efektif meningkatkan kebahagiaan masyarakat.

“Jadi dangdut banyak dipakai untuk senam maupun juga untuk kegiatan lainnya, membawa satu konsep menjadi mood booster, yaitu meningkatkan mood atau meningkatkan semangat bagi para pendengarnya maupun juga bagi para pemusiknya,” kata Sandiaga Uno. (tempo)

Editor: tempo

 

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->