Connect with us

VOA

BNPB: Tren Bencana Meningkat, 4.231 Orang Meninggal

Diterbitkan

pada

Kepala BNPB Willem Rampangilei sedang menjelaskan tentang hasil evaluasi bencana selama tahun ini. Foto: VOA/Fathiyah
Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

JAKARTA, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melansir hasil evaluasi bencana selama tahun ini. Lembaga pemerintah tersebut mencatat sejauh ini ada 2.426 bencana terjadi sepanjang 2018, mengakibatkan 4.231 orang meninggal dan hilang.

Dalam jumpa pers di kantornya di Jakarta, Rabu (19/12), Kepala BNPB Willem Rampangilei menjelaskan banjir (627 kejadian), longsor (440 kejadian), dan angin puting beliung (750 kejadian) masih tetap mendominasi kejadian bencana tahun ini. Dia menambahkan per 14 Desember lalu, bencana yang terjadi berjumlah 2.426.

“Itu menyebabkan 4.231 orang meninggal dan hilang. Lalu ada 6.948 orang luka, sedangkan masyarakat yang terdampak jumlah keseluruhannya 9,9 juta orang. Rumah rusak 374.023 unit, ini belum termasuk kerusakan infrastruktur dan bangunan,” kata Willem.

Selain itu, bencana sepanjang 2018 juga mengakibatkan 1.928 fasilitas pendidikan, 110 fasilitas kesehatan, dan 1.120 rumah ibadah rusak.

Dari 2.426 bencana tahun ini, 96,9 persen bencana bersifat hidro meteorologis dan sisanya bersifat geologis. Meski hanya 3,1 persen, bencana geologis menyebabkan dampak yang lebih besar.

Lebih lanjut Willem mengungkapkan sebanyak 20 gempa besar tahun ini menyebabkan 572 orang meninggal, 2.012 orang cedera, 483.364 orang mengungsi, dan 16.520 rumah rusak.

Tahun ini hanya terjadi satu kali gempa diikuti tsunami dan likuifaksi, yakni di Sulawesi Tengah, yang menyebabkan 3.397 orang meninggal, 4.426 luka, 221.450 orang mengungsi, dan 69.139 rumah rusak berat.

Menurut Willem, sejak 2009 hingga 2018 tren bencana di Indonesia meningkat, baik dalam hal intensitas maupun frekuensi. Dia menambahkan ada beberapa faktor yang membuat tren itu meningkat.

“Pertama adalah terjadinya kerusakan lingkungan yang terus menerus, jadi masih berlangsung kerusakan lingkungan. Kedua, DAS (daerah aliran sungai) kritis. Faktor lainnya adalah perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, masalah tata ruang, begitu juga perilaku masyarakat yang belum mencerminkan budaya sadar bencana,” imbuhnya.

Sedangkan tahun lalu untuk periode serupa, 1 Januari-14 Desember 2017, jumlah bencana yang terjadi lebih banyak. Namun akibat dari bencana tahun ini lebih mengerikan: jumlah korban meninggal dan hilang, korban cedera, rumah rusak naik.

Sepanjang tahun ini, lanjut Willem, lima provinsi dengan jumlah bencana terbanyak adalah Jawa Tengah (551 kejadian), Jawa Timur (422 kejadian), Jawa Barat (322 kejadian), Aceh (150 kejadian), dan Kalimantan Selatan (95 kejadian).

Sedangkan lima kabupaten dengan jumlah bencana terbanyak adalah Bogor (76 kejadian), Cilacap (57 kejadian), Wonogiri (54 kejadian), Serang (46 kejadian), dan Ponorogo (41 kejadian).

Sebagai negara rawan bencana, Willem menegaskan Indonesia wajib berinvestasi dalam pengurangan risiko bencana. Sebab bencana juga mengakibatkan pelambatan pertumbuhan ekonomi di daerah lokasi bencana atau yang terdampak dan juga mengakibatkan naiknya jumlah penduduk miskin.

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Bagikan berita ini!
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share
-->