Connect with us

Pendidikan

Berbagi Sukses Story, Denny Indrayana Motivasi Ribuan Santri Ponpes Darul Ilmi Banjarbaru

Diterbitkan

pada

Denny Indrayana Motivasi Ribuan Santri Ponpes Darul Ilmi Banjarbaru

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU, Perjalanan karir Prof Denny Indrayana sebagai Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham) era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga jadi profesor tamu di  Melbourne University, Australia, memukau ribuan santriwan dan santriwati Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ilmi, Banjarbaru. Di hadapan santri dan pengurus pondok, Rabu (29/1/2020), Denny menceritakan sukses story dirinya sebagai motivasi pelecut semangat belajar untuk mengejar cita-cita setinggi-tingginya.

Didampingi pengasauh Ponpes Darul Ilmi, KH Himran Mahmud, mantan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum ini menceritakan, semua yang terjadi pada dirinya diawali dengan syukur kepada Allah SWT. Melalui ketekunan, belajar sungguh-sungguh, menggali potensi diri, dan menangkap peluang, Denny yang lahir di Stagen, Kotabaru ini, bisa berkeliling dunia dan bergaul dengan orang-orang penting di Indonesia. “Ini sudah menjadi janji Allah dalam Al Qur’an, bahwa siapa yang beriman dan berilmu, akan ditinggikan derajatnya,” kata Denny mengawali paparannya.

Ia mengatakan, bahwa dengan pengetahuan banyak hal bisa diraih. Bukan hanya sekadar sukses dalam urusan dunia, tapi ilmu bisa menyelamatkan kehidupan di akherat. “Pada sisi ini, saya merasa iri dengan para santri di sini. Seandainya bisa membalikkan waktu, saya tentu ingin belajar di pesantren. Dimana tidak hanya belajar tentang pengetahuan umum, tapi juga ilmu agama. Karena saya ingin memiliki kepribadian utuh dengan keseimbangan dunia dan akherat,” ungkapnya.

Awalnya mungkin terasa mustahil, bagi seorang anak yang lahir di pelosok desa, untuk bermimpi menjadi profesor di luar negeri dan masuk dalam lingkaran elite pemerintahan. Tapi ilmu pengetahuan, memungkinkan semua hal yang sepertinya tak terjangkau tersebut menjadi mungkin. “Saya mengawali pendidikan di TK Tunas Rimba, Stagen Kotabaru. Lalu pindah ke Banjarbaru, melanjutkan sekolah di SDN Mawar Kencana Banjarbaru, SMPN 2 Banjarbaru, dan SMAN 1 Banjarbaru,” kisahnya.

Denny mengatakan, sekolah atau belajar dimana pun sepanjang serius, pasti ada manfaatnya. “Keseriusan kita untuk menuntut ilmu ditentukan banyaknya waktu kita untuk belajar,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya bersosialisasi dan berorganisasi. Hal tersebut dilakukan sepanjang pendidikan di SMP, SMA, hingga kuliah, terus berkecimpung dalam organisasi. Dia menegaskan, kemampuan berinteraksi dengan lingkungan menjadi modal penting bagi santri kelak dalam menjalani kehidupan nyata. “Tantangan interaksi saat ini tak semudah dulu. Di luar banyak hal telah mengubah pergaulan. Hadirnya teknologi, internet, membuat orang saling terhubung yang harus digunakan untuk menambah relasi dan pengetahuan. Dengan berinteraksi, kita bisa mengerti karakter orang,” terangnya.

 

Baginya, organisasi apapun, baik internal pesantren, hingga seni dan olahraga sangat penting. Dengan saling mengenal, seseorang akan bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan masing-masing. “Hal ini yang kemudian memaju kita untuk menutupi kekurangan dan lebih mengasah kemampuan kita lebih bagus lagi,” kata Denny.

Termasuk saat kuliah, kesukaan ayah tiga anak ini untuk berorganisasi terus diasah. Ia pun terjun dalam Pers Mahasiswa dan Senat (sekarang Badan Eksekutif mahasiswa). Kenapa itu terus dilakukan? Karena Denny percaya, pada sebuah buku yang ia beli di sebuah kios shoppin agency, berjudul ‘Surat Ayah kepada Anaknya’. Dalam buku tersebut dikatakan, jika ingin sukses ada tiga hal yang harus dilakukan! Pertama perbanyak membaca, selalu diskusi, dan sampaikan gagasan melalui tulisan.

“Kalau ingin menguasai bidang pengetahuan, tak ada lain kecuali rajin membaca. Banyak ilmu yang ada baik di tembat belajar maupun internet. Teman teman saya yang lain seperti pakar hukum tata negara Refly Harun juga Anis Baswedan (gubernur Jakarta), mereka adalah orang-orang yang rajin membaca, menulis dan berorganisasi. Dengan berorganisasi kesempatan maju lebih besar. Orang besar, biasanya adalah para aktivis. Selain mereka yang bekerja keras dan tekun belajar,” ungkapnya.

Pentingnya pengetahuan bagi Denny, juga terlihat dari pilihan hidupnya. Ia menceritakan, selepas lulus dari fakultas hukum UGM, ia diberikan sejumlah modal orangtuanya untuk menjalni kehidupan barunya. “Tapi saya bilang ke ayah saya, boleh nggak saya guna uangnya untuk kuliah lagi? Ayah saya pun mendukung keputusan itu, Maka akhirnya saya gunakna uang yang semula untuk modal kerja untuk melanjutkan S2 di Amerika Serikat. Itu satu keputusan yang saya syukuri sampai sekarang. Karena uang untuk sekolah, saya bisa melihat dunia yang berbeda,” katanya.

Usai S2 di AS, Denny pun diterima menjadi dosen di UGM. Lalu ia pun melanjutkan study dengan beasiswa S3 atau doktor di Australia. “Dari situ saya terus belajar, menulis di berbagai media. Terutama terkait dengan pemerintahan dan hukum yang menjadi bidang saya. Sampai kemudian  ditawari jadi staf khusus di bidang hukum dan Wakil Menteri Hukum dan HAM era Presiden SBY,” katanya.

Terkait masalah hukum, Denny mengatakan, berbagai masalah yang ada saat ini sebenarnya bisa dijawab oleh pesentren. “Ajaran tentang sistem keadalan dalam Islam, sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW, menjadi kunci. Seperti hadist yang disampaikan, Nabi pernah bersabda bahwa seandainya Fatimah sendiri, yang merupakan putri kesayangan beliau mencuri, maka Rasulullah sendiri yang akan memotong tangannya. Ini adalah sebuah prinsip keadilan yang tidak terjadi saat ini. Dimana hukum hanya tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Tak bisa menyentuh elite dan penguasa,” ungkapnya.

Berbagi Ilmu

Sementara itu, pengasuh Ponpes Darul Ilmi KH Himran Mahmud, M.I.Kom mengatakan, sudah sejak lama mengidolan Denny Indrayana terkait pemikiran dan sepak terjangnya di bidang penegakan hukum. “Saya beberapa tahun lalu berharap dapat mengundang beliau untuk memberikan motivasi kepada santri. Pingin mendapatkan charge pengetahuan. Anak-anak yang seharian menggeluti ilmu agama, agar juga bisa membuka wawasan tentang dunia lain,” katanya.

KH Himran mengatakan, tidak hanya Denny, sejumlah tokoh lain juga pernah diundang. Di antaranya Muhaimin Iskandar. Ia menegaskan tak ada embel-embel lain, kecuali kehadiran tokoh di pesantrennya adalah untuk silaturhami dan berbagi pengetahuan. “Harapannya, apa yang disampaikan bisa menginspirasi. Terkait perjalanan beliau sampai melanglang buana ke luar negeri, bahkan menjadi orang penting di pusat,” tegasnya. (Kanalkalimantan.com/cel)

 

Editor : Cell

 

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->