Connect with us

VOA

Bantu Perangi Sampah Plastik di Laut Indonesia, AS Hibahkan Dana Rp18 Miliar

Diterbitkan

pada

Sampah-sampah plastik tampak mencemari Laut Teluk Lampung, Bandar Lampung, 21 Februari 2019 lalu. Foto : AFP

Guna mengatasi permasalahan sampah plastik di Lautan di Indonesia, Pemerintah Amerika Serikat (AS) hibahkan dana sebesar Rp18 Miliar, kepada enam LSM di Indonesia. Bantuan ini sekaligus menandai 70 Tahun hubungan diplomatik RI-AS.

Masih segar dalam ingatan, ditemukannya bangkai ikan paus terdampar di pinggir pantai dengan banyak sampah plastik didalam tubuhnya. Hal ini menjadi peringatan kepada manusia agar tidak membuang sampah sembarangan, utamanya ke dalam lautan. Selain membahayakan mahluk laut, hal tersebut juga bisa membahayakan manusia juga.

Untuk mengatasi permasalahan sampah plastik yang tersebar di lautan Indonesia, Pemerintah AS melalui Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) pada program Municipal Waste Recycling Program (MWRP) memberikan dana hibah dan bantuan teknis kepada enam organisasi masyarakat sipil di Indonesia dengan total Rp18 miliar.

Duta Besar AS untuk Indonesia Joseph R Donovan Jr mengatakan, setiap tahunnya 8 juta ton sampah plastik dibuang ke laut, dan hal tesebut bisa mengancam bagi perekonomian, lingkungan dan juga kesehatan manusia di setiap negara, apalagi Indonesia menjadi kontributor utama sampah plastik ke lautan.

Oleh karena itu dibutuhkan sebuah solusi untuk mengatasi permasalahan ini, salah satunya dengan mengelola sampah secara inovatif dengan melibatkan beberapa pihak. Ditambahkan Donovan, dengan pemberian dana hibah ini diharapkan bisa membantu mengatasi permasalahan sampah sehingga bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik antar kedua negara di masa depan.

“Memperkuat pengelolaan sampah, di kota-kota urban yang semakin berkembang di negara yang berpopulasi tinggi seperti Indonesia, akan mengendalikan jumlah sampah di laut kita. Membersihkan sungai-sungai kita yang terinterkoneksi yang saling berhubungan satu sama lain, akan memberikan masa depan yang cerah bagi warga Indonesia, warga AS dan banyak orang di seluruh dunia. 2019, menandai hubungan ulang tahun ke-70 tahun hubungan diplomatik Indonesia dengan AS, dan dana hibah yang ditandatangani hari ini, memperkokoh komitmen kolektif kita untuk mencari solusi yang efektif untuk memajukan kesejahteraan dan kesehatan kedua negara kita,” ungkap Donovan dalam acara Penandatangan Pemberian Hibah dari Pemerintah AS melalui USAID Municipal Waste Recycling Program (MWRP) kepada enam LSM, di Jakarta, Rabu (27/3).

Donovan mengatakan pemberian dana hibah ke Indonesia ini sebagai bentuk kepedulian dari Pemerintah AS, bahwa sampah plastik ini adalah masalah bersama, sehingga harus bersatu padu dalam menyelesaikan permasalahan ini. Untuk di AS sendiri, kata Donovan edukasi terus digalakkan kepada generasi milenials untuk lebih peduli dalam menjaga lingkungan sekitar. Menurutnya, untuk mengubah kebiasaan memang tidak mudah, tapi harus terus dilakukan.

Dubes AS untuk Indonesia Joseph R. Donovan Jr, bersama perwakilan dari Kemenko Maritim, dan KLHK, serta dengan enam LSM Penerima Dana Hibah, di Jakarta, Rabu (27/3). Foto : VOA/Ghita.

“Jadi banyak upaya-upaya yang terus kita lakukan di AS, seperti tempat pengelolaan sampah berskala besar, dan juga berusaha mengedukasi para pemuda, dan masih banyak lagi yang kita lakukan. Tadi ada hal-hal yang kita sepakati bersama, harus ada sosialisasi atau peningkatan kesadaran yang bagus sekali, dan kemudian harus ada teknologi yang efektif yang sudah berkembang, ketiga harus ada sumber daya juga dan keempat harus ada program implementasi yang bisa kita petik dan kita pelajari untuk kedepannya,” jelas Donovan.

Dalam kesempatan yang sama, Staf ahli Kemenko Maritim Tukul Rameyo Adi mengatakan, selain bekerja sama dengan pemerintah AS, pemerintah juga melakukan beberapa hal lainnya untuk mengatasi fenomena sampah plastik ini, dan itu sudah tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) salah satunya dengan peningkatan literasi laut Indonesia yang jarang diketahui. Dengan menyasar kaum milenials, diharapkan cara ini akan efektif untuk meningkatkan kepedulian untuk senantiasa lebih menjaga lingkungan sekitar.

“Di samping itu kita juga punya in house program yang untuk lebih dikhususkan untuk generasi muda, mulai membangkitkan peningkatan literasi, pemahaman dan pengetahuan tentang apa sih sebetulnya sampah dan bagaimana bahayanya ketika itu sudah di laut, tidak hanya mengotori laut, tapi begitu dia dimakan ikan dan sebagainya. Ini dapat meracuni kita, itu luar biasa, dan dampaknya sekarang itu masih terus dikaji , lebih menakutkan sebetulnya kalau sudah itu menjadi bagian dari yang kita makan. Kita sebagai Kementerian Koordinator, kita mengkoordinasikan semua stakeholders baik di dalam maupun di luar negeri untuk saling isitilahnya kerja budaya,” papar Tukul.

Direktur Pengelolaan Sampah PSLB3 Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup Novrizal mengatakan pemerintah Indonesia menyambut baik bantuan dana hibah yang diberikan oleh AS. Menurutnya hal tersebut dapat meningkatkan partisipasi publik untuk mengelola sampah plastik ini.

“Ini sangat positif sekali karena memang seperti kita ketahui dalam dua tahun ini secara siginifikan kita bisa melihat statistik pengurangan sampah plastik itu turun satu persen dalam komposisi sampah plastik kita, dengan adanya grant ini, enam LSM yang mendapatkan grant ini semakin mendorong bahwa partisipasi publik itu, makin kuat dalam persoalan-persoalan pengurangan sampah di Indonesia,” jelas Novrizal.

Tumpukan sampah mencemari Pantai Sanur, di Denpasar, Bali. Foto : Reuters

Sementara itu, Direktur Eksekutif Divers Clean Action Swietenia puspa lestari salah satu LSM penerima dana hibah mengatakan uang yang didapatkan senilai USD170.000 ini akan digunakan untuk mengelola sampah masyarakat di Kepulauan Seribu selama dua tahun.

Adapun program yang dilakukan oleh Divers Clean Action adalah mengkampanyekan masyarakat di Kepulauan Seribu untuk mulai mengurangi sampah plastik rumah tangga dan juga menyediakan fasilitas daur ulang sampah bagi masyarakat. Dengan begitu selain pengetahuan masyarakat bertambah, jumlah sampah plastik pun bisa dikurangi dengan signifikan.

“Kita juga melatih dan menyediakan fasilitas bagi masyarakat untuk memilah sampahnya dari sumber sehingga sampah tersebut bisa didaur ulang dengan maksimal, ketika sampah itu telah didaur ulang dengan maksimal, bisa terhubung dengan pelapak dan juga private sektor yang bekerjama dengan kami, contohnya ketika sampah plastik dikumpulkan ternyata bisa dijadikan baju, dan baju ini sudah bisa diekspor ke Eropa, dan itu adalah sampah dari Kepulauan Seribu. Tentunya itu semua untuk meningkatkan kapasitas daur ulang di Pulau agar semakin sedikit sampah yang dibawa ke Bantar Gebang atau ke laut, serta bagaimana caranya mengurangi yang larinya ke laut,” ungkap Swietenia.

Selain dana hibah, kata Swietenia, pihak USAID pun memberikan bantuan lain berupa ilmu pengetahuan tentang pengelolaan sampah yang bisa dilakukan. Menurutnya dengan bantuan infomasi pengetahuan teknis tersebut bisa cukup membantu pihaknya untuk lebih bisa mengimplementasikan programnya di lingkungan masyarakat. (gi/em/kk/voa)

Reporter : Gi/em/kk/voa
Editor : Kk

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->