Connect with us

Film

Alita: Battle Angel, Film Cyberpunk yang Asyik!

Diterbitkan

pada

Cuplikan adegan film Alita: Battle Angel yang saat ini masih tayang di bioskop Foto : net

Pada tahun 1982, Blade Runner karya Ridley Scott mengubah wajah fiksi ilmiah sepenuhnya dengan melahirkan sebuah sub-genre baru yang dinamai cyberpunk, yang mengedepankan kisah dan visual dunia di masa depan yang sepenuhnya bergantung pada teknologi.

Teknologi berubah, genre fiksi ilmiah pun demikian. Di era ’50 dan ’60-an, cerita tentang perjalanan manusia menjelajah angkasa dengan pesawat-pesawat roket menguasai industri film. Kemudian kita mengenal bahwa pada akhirnya komputer dapat berjejaring, kita dapat saling berkomunikasi dengan orang lain di belahan bumi mana pun, kita dapat bertukar data melalui internet, maka fiksi ilmiah mulai mengeksplorasi kisah-kisah konsekuensi dari dunia yang didorong data dan keterhubungan komputer di awal 1980-an dan 1990-an.

Ketika fiksi ilmiah semakin matang, ia mulai bergulat dengan isu-isu hari ini, seperti fenomena ketergantungan akan obat-obatan, kemajuan teknologi di bidang kecerdasan buatan dan perangkat kerasnya, namun juga tak meninggalkan masalah prasangka dan masalah ketimpangan kelas di masyarakat.

Cyberpunk memberi ruang kepada pembuat film untuk mengeksplorasi cerita sebuah peradaban distopia, biasanya, melalui karakter seorang pecundang marjinal, Alita dalam film menyebut dirinya seorang insignificant girl (cewek gak penting) yang dikalahkan oleh tekanan masa depan.

Selama dua dekade terakhir, cyberpunk telah bermetamorfosis dan berubah seiring perkembangan teknologi, selalu up to date dengan ‘masa depan’. Karena internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang biasa, fokus pada hacker (peretas) sebagai penghuni dunia maya yang berbahaya telah agak ditinggalkan, digantikan oleh kekhawatiran tentang privasi, identitas, dan ‘singularitas’ di mana kecerdasan buatan memperoleh kesadarannya sendiri.

Dengan begitu luasnya peluang kreativitas yang bisa dieksplorasi lewat genre cyberpunk, dan film dalam genre ini selalu bergantung pada pembangunan dunianya (world-building), coba saja lihat Blade Runner atau serial Netflix Altered Carbon, atmosfer dan visual keduanya memiliki ciri khas tersendiri, lanskap kota penuh pijar lampu neon yang menawan — untuk tak menyebutnya romantis, dan dari segi cerita.

Secara filosofis agak berat; misalnya mempertanyakan apa hakikat dari menjadi seorang manusia, tetapi tentu saja lewat suguhan visual, teknologi, action, dan mitologi yang dibangun, hal-hal filosofis itu tersamar dengan baik berganti spektakel yang, bila kita menontonnya tanpa mau sedikit berpikir, hanya berakhir menjadi tontonan yang, “Oh, ya filmnya seru”. Sesederhana itu.

Robocop, Total Recall, The Matrix adalah tiga dari sedikit contoh film cyberpunk yang berhasil mengawinkan diskursus filosofis ihwal kemanusiaan dengan spektakel hiburan yang jor-joran.

Sementara itu, Ghost in the Shell (versi Scarlett Johansson, bukan animenya ya!) berakhir jadi film yang butut dari segala lini; tak ada cerita tentang kemajuan teknologi yang menarik, lanskap kota yang seolah dibuat sejadinya yang penting terlihat ‘ada di masa depan’, karakter, cerita, dan spektakel action-nya tak menarik sama sekali, akibat ketidaktahuan dan kebebalan pembuat filmnya akan materi adaptasi yang diangkat.

Syukurlah, dalam Alita: Battle Angel, sutradara Robert Rodriguez dan produser James Cameron dapat menghidupkan dunia yang sangat keren ini berdasarkan manga berjudul Gunnm karya Yukito Kishiro. Yang membuat film ini keren adalah dunianya dengan lanskap kota di malam hari ala Blade Runner, keberadaan cyborg, robot, dan manusia yang koeksis di sebuah kota bernama Iron City di awal abad ke-26.

Visual dunianya sendiri dan kultur yang ditampilkan dalam film sudah cukup membuat saya terpukau andai kata film ini tak memiliki cerita yang asyik, tetapi alhamdulillah, Alita: Battle Angel berakhir menjadi sebuah tontonan yang memberikan pengalaman sinematik yang terbaik sejauh ini di tahun 2019.

Syahdan Alita (diperankan lewat motion capture ala Gollum The Lord of the Rings oleh Rosa Salazar), seorang cyborg, ditemukan oleh Dr. Ido (Christoph Waltz, Inglorious Basterds) di tumpukan rongsokan besi berkarat, mengetahui Alita dalam wujud sepotong leher hingga kepala yang masih aktif (atau hidup?), Dr. Ito membopongnya pulang lantas memberinya tubuh robot ciptaannya sendiri.

Saat terbangun, Alita menyadari bahwa ia kehilangan ingatan, terbangun 300 tahun kemudian di sebuah kota di mana di atas kota tersebut terdapat sebuah kota melayang di atas atmosfer ala film Elysium yang dinamai Zalem, tak terjamah oleh siapa pun yang tinggal di daratan.

Dapat pergi ke Zalem merupakan impian setiap orang, selayaknya pergi ke kayangan, termasuk bagi teman Alita bernama Hugo (Keean Johnson) dan seorang wanita misterius bernama Chiren (Jennifer Connelly) yang bermimpi untuk dapat naik ke atas, tetapi tak ada cara lain untuk menempuhnya selain dengan koneksi dengan ‘orang dalam’ atau melalui kompetisi pertandingan ‘basket masa depan’ yang mematikan yang dinamai motorball, nah, konon juara dari kompetisi tersebut dapat pergi ke Zalem.

Seiring waktu Alita sedikit demi sedikit mengingat potongan-potongan masa lalunya, siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya dahulu. Saat kita sampai pada momen tersebut, bersiaplah untuk spektakel action dan visual yang tiada duanya.

Alita adalah karakter CG yang dibaurkan dengan karakter-karakter hidup dan lingkungan — sebagian CG dan nyata, dipresentasikan lewat filmmaking seperti karakter Jake Sully dalam Avatar dihadirkan. Dalam film, mengikuti penggambaran sumber aslinya, karakter Alita dibuat bermata belo sebelo-belonya ala karakter-karakter dalam manga dan anime Jepang.

Teorinya penggambaran sosok Alita yang demikian mestinya gagal, sebab kan tak masuk akal bila kita memiliki mata sebelo karakter-karakter di komik Jepang — perlu bedah plastik mutakhir dari Korea Selatan untuk mewujudkannya. Tetapi, berkat cerita latar belakang karakter Alita (sengaja tak saya bahas agar tak spoiler), juga bagaimana teknologi motion capture semakin maju, ditambah performa seorang Rosa Salazar yang menghidupkan sosok Alita, saya betul-betul teryakinkan bahwa sosoknya sehidup dan senyata karakter manusia lain di film ini.

Segala hal tentang film ini begitu asyik dan menyenangkan. Para cyborg sangat menyenangkan untuk dilihat dengan desain karakternya masing-masing dan kemampuan mereka yang serba unik — bahkan ada karakter cyborg koboi dengan anjing peliharaan cyborg (cyberdog?). Dan, yang paling keren adalah adegan action-nya, yang secara visual bersih dan jernih — bedalah dengan adegan-adegan action di film Transformers yang suka bikin kepala kita jadi migren itu.

Lantaran bersumber pada komik Jepang, meskipun bergenre cyberpunk, Alita: Battle Angel memiliki kisah dengan kultur, sosiologi, dan masalah tersendiri yang agak lain seperti yang biasa diangkat dalam film-film cyberpunk lain yang senantiasa ceritanya dilatari permasalahan perubahan lingkungan/alam, ketamakan korporasi besar, pemisahan kelas di masyarakat, di luar visual dan fitur-fitur cyberpunk-nya.

Alita hanyalah kisah seorang gadis yang berusaha memahami dirinya sendiri, jatuh cinta pada seorang cowok ganteng, persis seperti cerita-cerita yang dapat kita temui dalam komik Jepang serial cantik terbitan Elex Media. Dan karena itu, film ini memiliki pesonanya sendiri, menggemaskan sekaligus seru!

Lewat Alita: Battle Angel, Robert Rodriguez memberikan karya terbaiknya sejak Sin City (yang juga adaptasi komik), sebuah fiksi ilmiah cyberpunk yang akan lama saya kenang dengan baik, dan saya nanti-nantikan kelanjutannya. (Shandy Gasella/kumparan)

Reporter : Shandy Gasella/kumparan
Editor : Chell

Bagikan berita ini!
  • 2
    Shares