Connect with us

Budaya

Agus Makkie : Perfilman di Banua Masih Masuk Tahap ‘Berkenalan’

Diterbitkan

pada

Agus Makkie, sutradara kelahiran Banua. Foto : fb agus makkie

BANJARMASIN, Malam penganugerahaan Mandau Emas & Mandau Perak penutup dari kegiatan Aruh Film Kalimantan (AFK) 2018 diikuti 12 nominasi Mandau Perak dan 3 nominasi Mandau Perak. Untuk juri sendiri, AFK 2018 tak sembarang memilih juri, orang-orang berkompeten di bidang perfilman tentunya.

Putra asli Kalsel yang menjadi juri AFK 2018 adalah Agus Makkie -sutradara iklan sejak tahun 2003- sebelumnya malang melintang sebagai Creative Director di McCan. Kemudian ada Lulu Ratna, lahir dan besar di Jakarta. Lulusan Antropologi FISIP UI. Aktif di Organisasi Boemboe dan pernah bekerja di beberapa festival film baik dalam negeri maupun festival internasional.

Terakhir ada Andibachtiar Yusuf yang dikenal sebagai sutradara film bertema sepak bola seperti “Romeo & Juliet” dan “Hari Ini Pasti Menang”. Pada tahun ini merilis film drama komedi berjudul “Love for Sale”. Kanalkalimantan.com pun sempat berbincang dengan dua orang juri AFK 2018 yaitu Agus Makkie dan Lulu Ratna.

Sebagai seorang putra Banua kelahiran Amuntai, HSU, Agus Makkie megatakan, perfilman di kota Seribu Sungai baru memasuki level ‘berkenalan’.

“Seperti kita baru ‘berkenalan’, jadi perlu melakukan pendekatan, perlu merangkul, perlu mencari teman yang baik. Sehingga kita bisa ‘pacaran’ dengan baik,” ujarnya.

Hingga saat ini, menurutnya para sineas sebagaian hanya kerja secara berkelompok dan sendiri-sendiri. Mengenal satu sama lain dengan cakupan yang lebih luas, itu sangat perlu, saling mengetahui dan belajar. Ia ingin agar semua pegiat film yang berpotensi saling bertemu.

“Ini yang perlu. Nanti (akan menyadari) ‘wah ini cocok jadi editor saya, oh ini cocok jadi kameraman saya, sehingga menjadi tim yang solid,” jelasnya.

Sementara itu, Lulu Ratna menambahkan, masih kurang eksposur di Banjarmasin. “Mungkin di sini (AFK) eksposur itu sudah oke. Tapi kan eksposur itu butuh film ini bergerak ke pulau lain. Bertukar program dengan festival lain misalnya,” ujarnya.

Untuk potensi, Lulu mengakui bahwa semuanya sudah bagus. Tinggal bagian promosi yang harus dikembangkan. Karena Lulu pun tahu bahwa di Banjarmasin, para pegiat film masih berupaya menggaet penonton lokal. Jadi ia memberi pesan agar setelah AFK 2018 berakhir, Forum Sineas Banua dan para pegiat film lebih berani mengirim filmnya ke luar daerah atau bekerja sama dengan bioskop alternatif  di Jakarta. (mario)

Reporter : Mario
Editor : Abi Zarrin Al Ghifari

Bagikan berita ini!