Connect with us

HEADLINE

410 Orang Idap HIV di Banjarbaru, Mayoritas Jalani Hubungan Homoseksual

Diterbitkan

pada

Ilustrasi kasus HIV di Banjarbaru. Foto : ist

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjarbaru per September 2022 berhasil mendeteksi 50 pengidap HIV di Kota Banjarbaru. Dengan demikian, total jumlah pengidap HIV sepanjang tahuan 2005-hingga 2022 saat ini terdeteksi sebanyak 410 orang. Sementara dipastikan masih banyak penyintas HIV di Banjarbaru belum terdeteksi.

Sekretaris KPA Kota Banjarbaru, Edi Sampana mengatakan pengidap HIV banyak ditemui di RS Idaman Banjarbaru.

“Kemarin ada mencek ke rumah sakit, banyak ditemukan pengidap HIV di sana ketimbang di Puskesmas,” katanya, Selasa (27/9/2022).

Dia mengatakan, jika pengidap HIV ditemukan di RS, maka orang itu bergejala berat ketimbang yang ditemukan di Puskesmas maupun tempat hiburan malam (THM).



 

Baca juga : 49.600 Siswa SD akan Pecahkan Rekor Pakai Sasirangan Serentak di Puncak Harjad Banjarmasin Besok

“Warga Banjarbaru yang sudah terdeteksi 410 orang, tetapi ini dibawah dari angka sebenarnya, artinya seperti fenomena gunung es, angka tersebut bukan angka sebenarnya,” bebernya.

Bahkan, selama pandemi Covid-19 dari tahun 2020 hingga sekarang tercatat sudah ada 4 orang pengidap HIV meninggal di RS Idaman Banjarbaru.

Dikarenakan pandemi Covid-19 saat ini kata Edi, pihaknya lebih mengandalkan pemeriksaan dari rumah sakit dan puskesmas yang setiap harinya memberikan pelayanan, sehingga jika didapati gejala klinis yang mirip HIV, akan langsung dilakukan tes HIV.

“Dulu sebelum pandemi ada kegiatan pro aktif langsung ke lokasi seperti karaoke, billiard, salon, namun setelah pandemi kegiatan itu diistirahatkan hingga sekarang,” jelasnya.

 

Sekretaris KPA Banjarbaru, Edi Sampana.
Foto: ibnu

Baca juga  : HSU Target Tekan Stunting Hingga 14 Persen di 2024

Diakuinya, pencegahan HIV di Banjarbaru masih terbilang kurang untuk masyarakat.

Di samping pandemi Covid-19, pihaknya juga terkendala anggaran dalam melakukan tracking kepada penyintas HIV di Kota Banjarbaru. Lebih dari setengah anggaran mereka dipangkas oleh pemerintah.

Masih kata Edi, pengidap HIV di Banjarbaru mayoritas yang terdeteksi saat ini adalah lelaki seks lelaki (homoseksual) dan ibu rumah tangga. Sementara sebelum pandemi pengidap HIV lebih banyak dari wanita tuna susila dikarenakan pihaknya lebih banyak turun ke lapangan.

Sementara hingga saat ini penularan HIV di Banjarbaru hampir 95 persen dari hubungan seksual dan ditularkan dari lelaki tidak setia.

Baca juga : Dirugikan Proyek Renovasi Taman Sanggam, Pedagang Pujasera Curhat ke DPRD Balangan

“Mayoritas penularan lewat seksual, di Banjarbaru cukup banyak penularan dari laki-laki dengan laki-laki selain hubungan laki-laki dengan perempuan tanpa menggunakan kondom, dari ibu ke anak, transfusi darah dan jarum suntik sangat sedikit,” rincinya.

Adapun rata-rata pengidap HIV di Banjarbaru rentan umur 20 tahun keatas, sementara anak-anak terbilang sedikit.

“Lebih banyak 20 tahun keatas dan orang tidak mampu, kalau anak-anak (dibawah 15 tahun) kurang dari 10 orang ini disebabkan sebagian besar dari ibunya atau sementara hanya sedikit dari transfusi darah,” tuturnya.

Edi berharap agar masyarakat Banjarbaru yang merasa memilik gejala klinis mirip HIV agar dapat memeriksakan ke Puskesmas atau rumah sakit dan tidak perlu malu agar mendapatkan perawatan secepatnya.

Baca juga : Sebuah Toko di Pasar Lima Banjarmasin Ambruk, 4 Orang Selamat

“Dimasyarakat banyak stigma negatif dan diskriminasi kepada pengidap HIV seharusnya itu tidak boleh, yang harus tahu itu keluarga sebab sebagai motivator untuknya dalam mengingatkan minum obat,” tegasnya.

Dirinya berharap dalam melakukan tracking HIV di Kota Banjarbaru, untuk anggaran KPA sendiri agar ditingkatkan untuk mempermudah pihaknya memberikan penyuluhan dan melakukan tracking ke lapangan.

“Yang jelas anggaran ditingkatkan, SDM kita cukup tidak kurang dan berlebih,” tumbahnya.

Pengidap HIV tidak bisa dilihat secara kasat mata, pengidap HIV harus dites secara medis.

“Tidak bisa dibedakan, harus dies medis, HIV ini tertularnya hari ini baru terdeteksi 6 bulan kemudian, pengobatannya gratis,” tuntasnya. (Kanalkalimantan.com/ibnu)

Reporter : ibnu
Editor : cell


iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->