10 Pramuka Dilarikan ke RSUD Raza, Diduga Keracunan Karbon Monoksida Genset - Kanal Kalimantan
Connect with us

Peristiwa

10 Pramuka Dilarikan ke RSUD Raza, Diduga Keracunan Karbon Monoksida Genset

Diterbitkan

pada

Petugas RSUD Raza saat memberikan perawatan kepada 10 anggota Pramuka dari SMPN 1 Gambut yang diduga keracunan asap buangan dari genset listrik. Foto : rendy

MARTAPURA, Diduga keracunan asap dari generator set alias genset listrik, 10 pelajar SMPN 1 Gambut dilarikan ke RSUD Ratu Zelcha Martapura, Kabupaten Banjar, Sabtu (10/11).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kanal Kalimantan, 10 pelajar tersebut merupakan peserta perkemahan besar Pramuka Penggalang Kwartir Cabang Kabupaten Banjar 2018 yang berlangsung di Bumi Perkemahan Lembaga Pendidikan Kader Gerakan Pramuka Daerah  (Lemdikada) Sungai Ulin, Kota Banjarbaru. Kegiatan Pramuka Penggalang itu diikutu sebanyak 892 peserta yang terdiri dari 48 sekolah di Kabupaten Banjar berlangsung 9-11 November.

Panitia Kegiatan Guari didampingi Ketua Panitia Isnu Wahyono mengatakan, kejadian tersebut bermula pada pukul 05.30 Wita saat terjadi hujan, dimana para perserta memasukan genset ke dalam tenda yang berisi para peserta perkemahan.

“Semua korban di satu tenda, saat hujan mereka memasukan genset ke dalam tenda, sehingga diduga keracunan gas dari hasil pembuangan genset tersebut,” ujarnya.

Setelah mengetahui kondisi para peserta yang mulai tidak beres itu, seperti ada yang muntah-muntah sampai mengeluarkan buih di mulut, panitia langsung memutuskan untuk mengevakuasi ke RSUD Ratu Zalecha Martapura dan langsung mendapatkan pelayanan medis.

Sementara itu, Direktur RS Ratu Zalecha Dr Topik Norman Hidayat mengatakan, pihaknya menerima 10 pasien korban keracunan gas Karbon Monoksida (CO) pada pukul 06.30 Wita, dan setelah dilakukan obserbasi di IGD terhadap seluruh korban diputuskan untuk dirawat inap, karena perlu pengawasan hingga keadaan para korban berangsur membaik.

“Keadaan korban saat ini, 1 dalam keadaan gawat darurat dan 9 pasien dalam keadaan perbaikan klinis dengan kondisi yang stabil dan nampak membaik,” ujarnya.

Hingga sampai saat sekarang tim medis dari RSUD Raza melakukan tindakan penanganan dari dokter spesialis paru dengan pemberian oksigen menggunakan patri mark agar meningkatkan tekanan oksigen untuk mengeluarkan monoksida tersebut.

Topik mengatakan, beruntung para pasien dibawa cepat ke rumah sakit, mengingat kesepuluh pasien itu sudah kebanyakan menghirup CO yang memiliki daya ikat 200 sampai 300 lebih besar dari O2 maupun lainnya. CO sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kematian.

Dikutip dari laman Wikipedia, keracunan karbon monoksida biasanya terjadi karena telah menghirup terlalu banyak karbon monoksida (CO).Gejala-gejalanya adalah sakit kepalapusing, rasa letih, muntah, sakit dada, dan kebingungan. Jika jumlah karbon monoksida yang dihirup terlalu besar, korban dapat kehilangan kesadaran, mengalami aritmia, kejang-kejang, atau bahkan meninggal dunia. “Kulit yang memerah seperti ceri” yang sering dideskripsikan sebagai gejala keracunan karbon monoksida sebenarnya jarang terjadi. Komplikasi jangka panjang yang bisa muncul adalah rasa lelah, kesulitan mengingat, dan kesulitan bergerak. Bagi mereka yang menghirup karbon monoksida dari asap, kasus keracunan sianida juga perlu dipertimbangkan.

Keracunan karbon monoksida dapat terjadi secara tidak sengaja atau dengan sengaja untuk bunuh diri. CO adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau dan juga awalnya tidak menyebabkan iritasi. Gas ini dihasilkan dari pembakaran materi organik yang tidak sempurna dari kendaraan bermotor, pemanas, atau alat memasak yang menggunakan bahan bakar berbasis karbon. Keracunan juga dapat terjadi karena terpapar dengan metilen klorida. Karbon monoksida merupakan senyawa yang beracun karena dapat menyatu dengan hemoglobin untuk membentuk karboksihemoglobin (HbCO) yang membuat darah tidak dapat mengangkut oksigen. Selain itu, mioglobin dan sitokrom oksidase mitokondrial juga terpengaruh. Diagnosis keracunan didasarkan pada kadar HbCO yang lebih tinggi dari 3% untuk mereka yang tidak merokok dan 10% untuk perokok. Risiko kematian pada mereka yang keracunan berkisar antara 1-30%.

Keracunan dapat dicegah dengan memiliki detektor karbon monoksida, membuat ventilasi yang cukup, membersihkan cerobong, dan memastikan agar sistem buangan di kendaraan tetap dalam kondisi baik. Untuk pasien yang sudah keracunan, mereka dapat dipulihkan dengan memberikan terapi oksigen 100% dan juga dengan memberikan perawatan suportif. Tindakan ini perlu dilakukan hingga gejala udah tidak lagi muncul dan kadar HbCO lebih rendah dari 10%. (rendy/wiki)

Reporter:Rendy/Wiki
Editor:Abi Zarrin Al Ghifari

Bagikan berita ini!
  • 20
    Shares
Advertisement

Headline

Trending Selama Sepekan