HEADLINE
Masjid Assuada yang Tetap Kokoh Mempertahankan Wajah Lawasnya
AMUNTAI, Masjid Assuada atau Masjid berbentuk limas lancip yang berlokasi di Desa Waringin Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), merupakan sedikit dari masjid di Kalsel yang masih mempertahankan arsitektur lawasnya.
Mesjid yang berjarak sekitar 7 km dari Kota Amuntai ini, terletak di tepi Sungai Tabalong. Dimana pada zaman dulu, sungai merupakan transportasi satu-satunya, sehingga jamaah masjid ini biasanya berasal dari daerah di sekitar tepian sungai tersebut seperti desa Palimbangan, dan Haur Gading dengan menggunakan perahu atau kapal.


Masjid ini memang unik, karena tidak seperti masjid kebanyakan yang mempunyai kubah berbentuk bundar, namun masjid ini masih mempertahankan arsitektur lamanya berbentuk limas tumpang yang terdiri dari tiga tingkatan. Pada tingkatan pertama atau paling atas berbentuk limas sangat lancip sesuai dengan budaya Banjar atau mesjid-mesjid lawas yang umumnya berada di Indonesia
Oleh karenanya, masjid ini termasuk salah satu cagar budaya yang tertuang dalam undang-undang Republik Indonesia N0 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Berdasarkan keterangan pengus Masjid H. Gusti Mastur dan tokoh masyarakat setempat H. Abdul Wahab, masjid ini diperkirakan dibangun pada tahun 1886 dan berbentuk segi empat yang mana tinggi termasuk pataka kurang lebih 40 meter, dengan awal pembangunannya menggunakan atap sirap, bertiang tiang ulin (jenis kayu besi dari pulau Kalimantan) serta terdiri dari 4 buah tiang guru, 12 buah tiang bantu dan 20 buah tiang yang terdapat pada dinding-dinding masjid.
Sementara lantainya menggunakan marmer yang khusus didatangkan dari negara tetangga Singapura.
Masjid ini berdiri di tanah wakaf berukuran 38 x 24 meter dan bangun pertama kali oleh Syekh H. Abdul Gani. Masjid pun saat pembanguna pertamanya tidak menggunakan paku, namun memakai pasak yang terbuat dari serutan ulin atau bambu, Bahkan untuk menyatukan sambungan pun menggunakan tali ijuk.


Masjid ini juga pernah didatangi para ahli dari luar negeri, seperti tampak pada dokumentasi foto. Masjid ini berornamen dalam bentuk ukiran yang tampak pada daun pintu, ventilasi, serta mimbar khotbah yang masih mempertahankan keasliannya.
Dalam perjalanannya, masjid ini juga pernah mengalami beberapa kali renovasi, namun bentuk dan tiang masih dipertahankan, terkecuali atap yang dulunya menggunakan atap sirap sekarang sudah memakai atap seng.
Seperti pada tahun ini dilakukan renovasi dan pelebaran ruang masjid, mengingat jumlah jamaah semakin bertambah, terlebih pada bulan ramadhan, masjid ini menjadi sentral kegiatan keagamaan warga masyarakat desa disekitar kawasan masjid.
Adapun selama ini biaya renovasi berasal dari Pemerintah Daerah, di samping juga swadaya masyarakat. (dew)
Editor:Cell
-
Bisnis2 hari yang laluSejak Dini Siapkan Dana Pensiun, Bonus Saldo BRI DPLK Lewat BRImo
-
NASIONAL2 hari yang laluImpor Kapal Virgo Berusia 39 Tahun Diselidiki
-
HEADLINE3 hari yang lalu11 Sopir Korban Kapal Virgo Belum Ditemukan, Rekan Gelar Doa dan Tabur Bunga
-
Kabupaten Kapuas2 hari yang laluPemkab Kapuas Perpanjang Tanggap Darurat Karhutla 14 Hari Kedepan
-
HEADLINE1 hari yang laluLima Sekoci Kapal Virgo Transport 8 Terdampar di Pesisir Pantai Seruyan
-
HEADLINE2 hari yang laluMK Kabulkan Gugatan MBG Watch, Batasi Kewenangan Pemerintah Ubah APBN


