Connect with us

Kota Banjarmasin

Aliansi Masyarakat Muslim Kalsel Serukan Peduli Uighur

Diterbitkan

pada

demo menyikapi kasus penindasan etnis Uighur Foto: ACT

BANJARMASIN, Kabar mengenai penindasan yang dialami oleh etnis Uighur pada Agustus 2018 yang lalu menuai aksi protes dari warga Kalimantan Selatan (Kalsel). Ratusan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Muslim Kalsel itu melakukan aksi protes dengan melakukan longmarch dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin menuju kantor DPRD Provinsi Kalsel, Jumat (28/12) siang tadi.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 14.00 wita itu merupakan aksi lanjutan setelah mereka melakukan diskusi kemanusiaan, Kamis (27/12) kemarin. Selain longmarch, mereka juga melakukan orasi kemanusiaan dan penggalangan dana.
Koordinator Aksi Haris Maulidinnor menyampaikan bahwa mereka bersepakat mengutuk kekerasan yang dialami oleh etnis Uighur di Xinjiang, Cina. “Kami di sini atas dasar kemanusiaan, bahwa saudara kami sedang mengalami penindasan atas hak-hak mereka sebagai manusia, maka kami mengajak masyarakat dari berbagai elemen di Kalimantan Selatan khususnya dan seluruh Indonesia umumnya, agar terlibat aktif untuk membantu memperjuangkan keadilan dan kedamaian bagi etnis Uighur,” serunya.
Orasi kemanusiaan disampaikan oleh masing-masing perwakilan organisasi, yaitu dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kalsel selaku inisiator aksi, tokoh agama, Alumni 212, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).


Muhammad Ridha Wardhana dari ACT Kalsel mengajak masyarakat Kalsel untuk bersama-sama membebaskan etnis Uighur dari pengekangan hak-hak mereka sebagai seorang muslim. “Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang harus disikapi. Mari bersama-sama memperjuangkan nasib etnis Uighur atas penindasan dan penjajahan yang dilakukan Pemerintah Cina,” tegas Ridha.
Suara pemuda digelorakan oleh Laili Masruri selaku perwakilan dari IMM. “Kami hadir di sini untuk bersama-sama meminta kepada pemerintah Cina agar segera menghentikan kekerasan dalam bentuk apapun atas etnis Uighur atas alasan apapun, karena bertentangan dengan Hak Asasi Manusia,” lantang Laili berucap. Laili juga menegaskan bahwa aksi tersebut murni adalah perjuangan untuk kemanusiaan.
Semangat persaudaraan juga disampaikan oleh M Taufik selaku perwakilan tokoh agama dari Kota Martapura. Taufik mengingatkan bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap ketika muslim lainnya disakiti. “Kita ibarat satu tubuh. Jika yang lain disakiti maka kita juga harus merasakan deritanya,” tuturnya syahdu.
Dalam pernyataan sikapnya yang disampaikan oleh Alfiansyah dari KAMMI, Aliansi Masyarakat Muslim Kalsel juga menyerukan kepada seluruh Negara-negara Islam atau yang tergabung dalam OKI, agar segera melakukan langkah-langkah strategis dan sikap yang tegas untuk membantu menyelesaikan kezaliman telah bertahun-tahun menimpa etnis Uighur. “Langkah nyata yang bisa kita lakukan saat ini adalah dengan memberikan tekanan ekonomi kepada Cina, dengan memboikot produk-produk Cina,” tandas Alfi.
Meski melibatkan ratusan massa, aksi berlangsung tertib dan aman. Sahutan takbir menggema sepanjang aksi berlangsung. Selama hampir dua jam berjalan, panitia juga berhasil mengumpulkan donasi kemanusiaan sebesar Rp 6.337.600,- yang akan disalurkan melalui ACT Kalsel.
Etnis Uighur merupakan suku minoritas muslim yang menjadi penduduk mayoritas di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang, Cina bagian barat laut. Dilansir dari berbagai sumber, sensus populasi etnik yang ditulis Departemen Statistik Populasi, Sosial, Sains dan Teknologi, Biro Statistik Nasional Tiongkok tahun 2000 menyebutkan, 45,84 persen penduduk di Xinjiang adalah suku Uighur. Beberapa bulan terakhir di tahun 2018 ini, sejumlah media internasional memberitakan adanya kamp indoktrinasi untuk warga etnis Uighur dari Pemerintah Cina.(retno/act)

Bagikan berita ini!
  • 3
    Shares