Connect with us

Kota Banjarbaru

Tenaga Rekam Medik Putar Haluan Jadi Pelaku UKM Berbahan Tomat

Diterbitkan

pada

Kreasi olahan tomat Katuju yang menjadi perhatian di Borneo UMKM Expo 2021. Foto : ibnu

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Rumah Kreasi Tomat Banjarbaru menjadi salah satu stand yang diburu pengunjung di hari pertama Borneo UMKM Expo 2021, Kamis (25/11/2021).

Hasil UKM yang dimotori oleh Dhianita Prawitri ini diletakkan di stan ‘experience show’, dimana pengunjung bisa langsung melihat dan belajar cara mengolah bahan baku tomat menjadi olahan produk berkualitas. Tentunya ini menjadikan pengalaman tersendiri bagi para pengunjung Borneo UMKM Expo 2021.

Dhianita Prawitri memulai jejak bisnisnya dengan membuka usaha bahan baku tomat dari tahun 2018. Di bawah bendera Rumah Kreasi Tomat Banjarbaru, produknya diberi lebel “Katuju.”

Terinspirasi dari buah tomat yang sedang di panen dan harga yang sangat murah waktu itu, menjadikan perempuan yang dulunya bekerja sebagai tenaga rekam medik di salah satu rumah sakit Kota Banjarbaru memilih putar haluan menjadi pelaku UKM berbahan tomat.



 

Baca juga : Pasca Demo Serikat Buruh, MK Tangguhkan UU Cipta Kerja untuk 2 Tahun ke Depan

“Pertama kali membuat manisan dari tomat, terus berlanjut berinovasi mengeluarkan produk baru dari buah tomat,” ujar Dhianita.

Ia mengatakan hingga saat ini sudah mengeluarkan produk berbahan tomat berupa manisan, permen, sirup, selai hingga saos yang semuanya berbahan dasar tomat.

“Semua produk dibanderol dengan harga 15 ribuan, dari manisan tomat yang berukuran 100 gram, selai 200 gram, permen 100 gram dan sirup 350 gram,” rincinya.

Diungkapkannya dari dari penjualan hasil olahan ini dia dapat meraup untung 8-10 juta perbulan sebelum terjadinya pandemi Covid-19.

“Di tengah pandemi ini keuntungan hanya setengahnya saja yang berhasil didapat,” ungkapnya.

 

Baca juga : BPBD HSU Jadikan Desa Babirik Hilir sebagai Desa Siaga Bencana

Dirinya mendapatkan bahan baku tomat dari pengepul yang ada di Kota Banjarbaru, yang sudah paham betul akan keperluannya dalam menyediakan bahan baku. Baik dari ukuran hingga kualitas tomat itu sendiri.

Namun, dirinya saat ini masih terkendala dengan harga tomat yang fluktuatif yang kadang harganya bisa murah dan sebaliknya.

“Tomat ini kadang murah sekali, tapi juga bisa mahal sekali, saat murah harganya hanya Rp 2,4 ribu sampai Rp 5 ribu per kilogram. Tetapi pas mahal bisa mencapai Rp 8 ribu hingga Rp 16 ribu per kilogram,” katanya.

Diterangkannya produknya sudah dijajakan dibeberapa toko modern yang ada di Kota Banjarbaru. Sedangkan untuk sirup dia memakai sistem pree order karena tidak tahan lama ketika diletakkan diluar ruangan.

Menurutnya kunci strategi bersaing UKMnya hanya dengan menjadi unik dari UKM lain, yang mana masih belum banyak produk yang mengangkat tomat sebagai bahan baku utamanya.

 

Baca juga : HKN ke-57 di HSU, Capaian Vaksinasi 38 Persen, Akhir Tahun Bisa 60 Persen

Kerennya lagi, dengan dia berkreasi membuat olahan dari bahan baku tomat,  membuat dirinya sudah beberapa kali mengisi kuliah umum di salah satu kampus yang ada di Kota Banjarbaru dan beberapa daerah yang ada di Kalimantan Selatan.

“Kita juga pernah mengisi materi paling jauh sampai ke Kabupaten Balangan,” ungkapnya.

Dijelaskan Dhianita, dirinya mampu menyesuaikan komoditi yang ada di daerahnya masing-masing, guna tidak terpaku pada bahan baku tomat seperti buah salak, semangka dan lain sebagainya.(Kanalkalimantan/ibnu)

Reporter : ibnu
Editor : cell


iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->