Connect with us

Kota Banjarmasin

Introspeksi Diri, Umat Hindu Banjarmasin Ritual Nyepi di Pura Agung Jagat Natha

Diterbitkan

pada

Ritual perayaan Hari Raya Nyepi di Pura Agung Jagat Natha di jalan Gatot Subroto, Banjarmasin.

BANJARMASIN, Pemeluk agama Hindu kota Banjarmasin merayakan tiga tahapan Hari Raya Nyepi, sebelum hari raya, pada hari raya, dan sesudah hari raya.

Ditemui di Pura Agung Jagat Natha di jalan Gatot Subroto, Banjarmasin, Pemangku Pura Agung Jagat Natha, Jeromangku Made Sekrti menyambut baik tim Kanal Kalimantan.com

“Ada tiga tahapan. H-1 melaksanakan upacara Tawur Agung Kesanga, hari H melaksanakan Catur Brata Penyepian, dan H+1 melaksanakan Ngembak Geni,” jelasnya.

Tawur (membayar), Agung (besar), Kesanga (bulan ke-9 dalam kalender Hindu). Tawur Agung Kesanga mempuyai arti membayar kepada alam dengan cara melaksanakan pembersihan. Pembersihan yang dilakukan di perempatan mempunya arti tersendiri, karena di dalam kosmologi Hindu, perempatan adalah simbol dari alam semesta. Perempatan mewakili empat arah mata angin utara, barat, timur, dan selatan.

Kemudian pada hari H, Ada empat brata pantangan yang wajib diikuti pada saat Hari Raya Nyepi yang disebut Catur Brata Penyepian.

“Ada Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan,” jelas Jeromangku.

Amati Geni mempunyai arti tidak menyalakan api. Api dalam hal ini adalah dalam arti sebenarnya (listrik, kompor, tv, gawai) dan secara rohani (amarah, keinginan, hawa nafsu). Semua hal tersebut dimatikan di Hari Raya Nyepi. Amati Karya berarti tidak melakukan pekerjaan rumah maupun kantor.

Kemudian Amati Lelungan (lungo dalam bahasa Jawa berarti pergi). Maka umat Hindu tidak melakukan bepergian, termasuk keluar rumah. Serta Amati Lelanguan yang berarti kegiatan menghibur diri dari hal-hal seperti gawai, tv, musik dan semua yang bentuknya untuk menghibur diri tidak lakukan pada Hari Raya Nyepi. “Hari itu kita khusus intropeksi,” ungkap Jeromangku.

Selain itu, umat Hindu juga melakukan puasa 24 jam dari 6 pagi sampai jam 6 pagi lusa. Namun, dijelaskan lebih lanjut oleh Jeromangku, semua tergantung kemampuan masing-masing. Tidak apa-apa jika hanya mampu berpuasa selama tiga atau enam jam.

Kemudian khusus rohaniawan Hindu, biasanya melakukan Mona Brata yang berarti tidak berbicara selama 24 jam pada hari itu.

Keesokan harinya ada Ngembak Geni, di mana umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih.

Pemangku Pura Agung Jagat Natha, Jeromangku Made Sekrti. Foto : Mario

Mengingat bahwa sebentar lagi akan berlangsung pesta demokrasi, Jeromangku juga turut menyampaikan harapnnya agar Pemilu kelak bisa berjalan dengan damai.

“Harapan kami dengan melaksanakan Nyepi, kita akan menemukan kedamaian. Kedamaian itu tidak kita dapatkan di dalam keramaian, tapi di dalam suasan yang sepi. Dengan nyepi ini, saat menjelang pilpres kedamaian yang didapat pada saat Nyepi, kita bawa hingga Pilpres. Sehingga berjalan dengan damai,” harapnya.

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 masehi. (mario)

Reporter:Mario
Editor:Abi Zarrin Al Ghifari

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->