Connect with us

Budaya

Perjuangan Panjang Penghasil Kayu Manis dari Meratus, 6-7 Tahun Baru Panen

Diterbitkan

pada

Andol saat mengupas kulit kayu manis di teras rumahnya. Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, KANDANGAN – Siang itu, Andol bersama istrinya tengah mengupas kulit kayu manis di teras rumahnya.

Warga asli Desa Lok Lahung, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan memang banyak menekuni usaha pengolahan kulit kayu manis.

Menurut Andol, pekerjaan ini sudah turun temurun diwariskan nenek moyangnya. Sebagai keturunan suku Dayak Meratus, dia meneruskan peninggalan orangtua untuk menghidupi keluarganya.

Baca juga: Mafia BBM ‘Larikan’ Solar ke Tambang, Sopir Angkutan Logistik Berteriak

Kulit kayu manis yang sedang dijemur. Foto: fahmi

Prosesnya memerlukan waktu panjang, pertama Andol harus menyemai biji kayu manis di kebunnya di hutan Meratus. Saat anak biji sudah tumbuh, barulah proses menanam kayu manis dimulai dengan memperhatikan kondisi cuaca.

“Kalau menanam itu kada kawa musim panas, tapi di musim penghujan supaya inya cepat hidup,” ujar Andol saat ditemui Kanalkalimantan.com, Sabtu (9/5/2026).

Ketika proses penanaman, harus rutin membersihkan ladang tempat kayu manis ditanam. Setidaknya satu kali dalam tiga bulan, kalau setahun minimal tiga kali membersihkan kayu manisnya. Jika umur kayu manis sudah 2-5 tahun, pembersihan cukup sekali dilakukan.

Baru pada usia 6-7 tahun, pembersihan tidak perlu dilakukan karena tinggal menunggu panen. Saat waktu panen tiba, Andol tinggal menebang kayu manis di kebunnya lalu mengambil kulitnya untuk dibawa ke rumah.

Baca juga: Turnamen Pickleball se Kalsel di Amuntai

Langkah selanjutnya adalah mengupas kulit kayu manis. Setelah itu menjemurnya dalam waktu 1 hari jika cuaca panas. Namun, jika tidak panas itu membutuhkan waktu pengeringan sampai 3 hari.

Setelah kering, kayu manis kemudian diikat dengan tali rotan lalu dibawa ke pasar untuk dijual. Kebutuhan masyarakat akan kulit kayu manis membuat usaha Andol laku di pasar. Dalam sepekan bisa menghasilkan Rp1 juta.

“Pendapatan kita tergantung jika meambil kayu manisnya banyak, banyak juga pendapatannya,” jelas Andol.

Dalam 1 kilogram, kulit kayu manis dihargai Rp53 ribu, namun harga ini bersifat tidak tetap karena bergantung kebutuhan pasar. Harga bisa naik dan bisa turun.

“Bila harganya bagus bisa mencukupi kebutuhan kami,” harap Andol.

 

Perjuangan Andol Mengambil Kayu Manis

Di umur memasuki 62 tahun, tak mudah bagi Andol mengambil kulit kayu manis ladang miliknya. Usai kepala enam, ia mengaku energi sudah jauh berkurang dibanding usia muda dulu.

“Kalau hujan itu biasanya kada jadi berangkat, soalnya jauh masuk ke dalam gunung,” ungkap ayah tiga anak ini.

Dari jam delapan pagi, Andol berangkat menggunakan sepeda motor sejauh 1 kilometer. Selepas itu, akses jalan yang sudah terputus mengharuskan berjalan kaki menempuh perjalanan 1kilometer memasuki lebatnya hutan Meratus.

Tak habis sampai di situ, Andol harus mendaki lereng gunung sebab kebunnya terletak di tengah Pegunungan Meratus. Setelah mengambil kulit kayu manis, dia harus mengulang kembali perjalanan yang sama untuk pulang hingga tiba di rumah jam 12 siang.

Baca juga: Setelah 35 Tahun, Rumah Jabatan Gubernur Kalsel Direhab Total 

Kendati demikian, banyaknya halangan tersebut tidak membuat Andol mengeluh-sebagai pemimpin keluarga, dia harus tetap bekerja untuk menafkahi keluarga mau sebanyak apapun rintangannya.

Dikutip dari Wikipedia, kayu manis dengan nama ilmiah Cinnamomum ialah jenis pohon penghasil rempah-rempah. Di dalam kamus Biologi, Cinnamomum zeylanicum, termasuk ke dalam jenis rempah-rempah yang dihasilkan dari kulit bagian dalam yang kering, yang amat beraroma, manis, dan pedas. Orang biasa menggunakan rempah-rempah dalam makanan yang dibakar manis, anggur panas dan juga dipakai untuk keperluan medis.

Kayu manis secara tradisional juga dijadikan sebagai suplemen untuk berbagai penyakit, dengan dicampur madu. Ramuan ini bisa bermanfaat untuk pengobatan penyakit radang sendi, kulit, jantung, dan perut kembung.

Beberapa jenis kayu manis dapat tumbuh pada ketinggian hingga 2.000 meter di atas permukaan laut (m dpl), tetapi C. burmanni akan berproduksi baik bila ditanam pada daerah dengan ketinggian 500 – 1.500 m dpl. Bila ditanam di daerah kurang dari 500 m dpl, tanaman akan tumbuh lebih cepat tetapi kualitas kulit kayunya rendah yaitu ketebalan kulit dan aromanya berkurang bila dibanding jika jika ditanam di daerah yang lebih tinggi. Untuk jenis C. zeylanicum, tumbuh baik pada ketinggaian antara 0–500 m dpl.

Baca juga: Turnamen Pickleball se Kalsel di Amuntai

Kayu manis tumbuh baik di daerah yang beriklim tropis basah. Iklim tropis basah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Faktor iklim yang harus diperhatikan adalah curah hujan, kayu manis menghendaki hujan yang merata sepanjang tahun dengan jumlah cukup yaitu sekitar 2.000-2.500 mm/tahun, jika curah hujan terlalu tinggi akan berpengaruh pada hasil rendemennya yang rendah

Jenis tanah yang sesuai untuk pertumbuhan kayu manis adalah tanah yang banyak mengandung humus, remah, berpasir dan mudah menyerap air seperti latosol. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca