Connect with us

HEADLINE

Dua Wajah Pemilu 2019, Antara Air Mata dan Pertaruhan Demokrasi

Diterbitkan

pada

Pelaksanaan pemilu 2019 memunculkan banyak evaluasi terkait banyaknya korban meninggal akibat kelelahan. Foto: kompas
Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

BANJARBARU, Sejumlah catatan kelam mewarnai proses pelaksanaan Pemilu 2019 kali ini. Jatuhnya ratusan korban—baik dari KPPS, pegawas, hingga polisi, menjadi goresan luka mendalam bagi proses demokrasi dengan sistem baru yang menggabungkan lima pemilihan secara serentak ini. Belum lagi ditimpali aksi elite politik yang berebut mempertontonkan ‘drama’ kemenangan ditengah suasana duka yang mestinya dirasakan seluruh anak bangsa.

Ibarat dua sisi koin, terselenggaranya pemilu secara lancar dan aman oleh KPU patut diapresiasi. Meski ada catatan terkait teknis pelaksanaan di sejumlah daerah, namun secara umum tetap terselenggara dengan baik. Ini tentunya tak lepas dari peran Bawaslu, serta pengamanan yang dilakukan Polri dan TNI yang memastikan pesta demokrasi berjalan aman.

Namun di sisi lain, harapan bahwa pemilu akan menjadi pesta bagi masyarakat masih jauh panggang dari api. Ribetnya mekanisme pelaksanaan, lamanya waktu, hingga kurangnya persiapan penyelenggara yang meskipun disokong anggaran Rp 24,8 triliun lebih, masih nampak belepotan di sana-sini.

Padahal sejak awal, hal ini sudah dibaca oleh KPU pada pelaksanaan simulasi pemilihan yang digelar beberapa waktu sebelum hari H pencoblosan. Di Kalsel, simulasi pemilu sempat dilaksanakan oleh KPU Kalsel di Jalan Gunung Paikat, Banjarbaru, Kamis (4/4). Dari 205 pemilih yang diundang saat itu, hanya 129 orang yang datang.

Divisi Teknis KPU Kalsel Hatmiati Mas’ud saat itu menyampaikan, simulasi tersebut pembukaan TPS seolah-olah dimulai pada pukul 07.00 Wita dan berakhir pada pukul 13.00 Wita. Setelah itu, dilanjutkan dengan proses penghitungan suara. Usai diumumkan, KPPS pun meminta waktu istirahat untuk makan dan shalat. Setelah itu, dilanjutkan pada pukul 14.00 Wita dilakukan perhitungan suara untuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. “Begitupula selanjutnya hingga selesai tadi. Ini baru saja selesai pukul 20.30 Wita untuk penyalinan dari formulir C1 plano besar menjadi C1 salinan yang berhologram,” katanya.

Dalam catatan Hatmiati, petugas KPPS dinilai masih gugup dalam melakukan tugasnya. Ini mengingat, mereka tidak semuanya berpengalaman. Ambil contoh, ketika ada pemilih datang, yang sudah diatur olehnya untuk membawa undangan berupa formulir C6, tetapi tidak membawa KTP elektronik.

Maka benar saja, jika dalam pelaksanaannya pada tanggal 17 April 2019, terdapat berbagai persoalan di lapangan. Hingga akhirnya, beberapa TPS harus melakukan pemilihan suara ulang seperti halnya yang terjadi di dua TPS di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) hari ini. (Baca: 2 TPS di HSU Lakukan Pemungutan Suara Ulang, Red).

Dan hal ini, juga terjadi di sejumlah daerah lain di Indonesia. Termasuk, jatuhnya korban KPPS yang meninggal karena kecapekaan mengawal proses pemilihan. Salah satunya adalah Abdul Hadi, anggota KPPS di TPS 03 Kelurahan Basirih, Banjarmasin Barat, yang menghembuskan nafas terakhir setelah sebelumnya sempat dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin, Kamis (25/4) pukul 01.40 Wita.

Wafatnya Hadi, menambah deretan petugas KPPS yang meninggal dunia di Kalsel. Pada waktu yang sama, ada juga Ahmad anggota KPPS TPS 03 Desa Muning Tengah, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) yang meninggal dunia diduga akibat kelelahan saat proses penghitungan suara.

Tak hanya itu, sederet ‘korban pemilu’ saat ini masih banyak yang dirawat di rumah sakit. Berdasarkan catatan KPU Kalsel, mereka adalah anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Banjarmasin Utara Siswanto, Ketua PPS Kertak Baru Ilir Kecamatan Banjarmasin Tengah Kameliah Areda, Ketua KPPS Kelayan Barat, Banjarmasin Selatan saat ini juga masih dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin.

Di Kabupaten Tanah Laut, ada Ahmad Yani, anggota KPPS TPS 06 Desa Sungai Pinang, Kecamatan Tambang Ulang. Lalu ada Arbani petugas KPPS 1 Kampung Baru, Rusmlinawati yang bertugas di TPS 8 Kelurahan Pabahanan Kecamatan Pelaihari, dan Ketua PPS Liang Anggang, Basuki Rahmat, yang juga  dirawat di rumah sakit.

Di Kotabaru, ada Ansari Maulana, anggota PPK Pulau Laut Utara, Kotabaru dan PPK Kecamatan Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu, I Wayan Sarna.

Di Kabupaten Banjar, terdapat Pasrah Ridhoni, anggota PPK Sungai Pinang dan Syamsul Supian, KPPS TPS 01 Kelurahan Tambak Baru Ilir yang dirawat di RS.

Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), ada anggota PPS Desa Limbar Kecamatan Batang Alai Selatan, Raudatul Jannah dan Lisda Safitri yang merupakan anggota PPS Desa Kalibaru, Kecamatan Batu Benawa.

Di HSS, Ketua KPPS TPS 7 Desa Danau Panggang, Ahmad Mujahit pun dirujuk ke rumah sakit bersama anggota KPPS TPS 5 Desa Teluk Labak, Sayyidul Aslamiah yang melahirkan pas hari H pencoblosan.

Di Tapin, ada Ahyar  anggota PPS Desa Pantai Cabe, Kecamatan Salam Babaris dan Ahmad Efendy anggota KPPS TPS 03 Desa Baramban Kecamatan Piani, yang juga harus dirawat di RS karena kelelahan.

Komisioner KPU Kalsel Edy Ariansyah menyatakan duka cita atas meninggalnya anggota KPPS. Ia menganggap almarhum merupakan salah satu pejuang demokrasi yang ingin berpartisipasi menyukseskan pemilu. “Semoga beliau diterima oleh Allah SWT,” katanya.

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->