Connect with us

JENDELA

PELAJARAN MENDESAIN

Diterbitkan

pada

Foto : Digital Illustrations/by Van Orton Design

Oleh: Hajriansyah (Sastrawan dan budayawan Kalsel)

Salah satu pelajaran (mata kuliah) dasar dalam perkuliahan seni lukis yang saya dapatkan dulu adalah nirmana. Di dalamnya kami belajar tentang (standar) warna dasar, dari tiga warna–merah, kuning, biru–menjadi enam warna dasar. Nirmana satu di semester satu itu kerjaannya cuma utak-utik warna: warna dasar, warna komplementer, warna panas dan dingin, dst. Baru masuk nirmana dua, kami mulai belajar prinsip-prinsip desain.

Desain sendiri menurut Victor Papanek, seorang dosen dan desainer kelahiran Austria, adalah perkara mendasar bagi semua aktivitas manusia, perencanaan dan pemolaan setiap tindakan menuju hasil yang diinginkan dan terprediksi. Dalam konteks warna, garis dan bidang yang kami pelajari di awal saya belajar dulu, ia tentang perkara membuat perbandingan keruangan, membuat dinamika bentuk, mengomposisi (menyusun) semua unsur visual hingga memberi aksentuasi atau point of interest.

Soal dinamika misalnya, hanya bisa terjadi jika ada bentuk yang tidak sama, ukurannya maupun posisinya. Semakin “gerakan” bentuk, ukuran dan warna disusun menjadi sedinamis mungkin, maka makin “hidup”lah keseluruhan komposisi visual.

Begitu pulalah yang kita rasakan secara psikologis ketika menyaksikan pilihan-pilihan yang berbeda-beda. Pilihan apa saja, termasuk dalam hal politik praktis yang hari-hari ini makin melibatkan kita sebagai warga sebuah negeri yang akan memilih pemimpin (dan wakil) rakyatnya. Melibatkan kita dalam kontestasi pilihan warna, ruang, dan kepentingan yang akan mengatur negeri ini setidaknya untuk lima tahun ke depan.

Secara psikologis “kekacauan” dari pertentangan, beda ukuran melihat, yang makin kentara lewat media sosial berjaringan yang makin dekat dengan kehidupan privat itu benar-benar mengganggu. Namun bagi sebagian orang, pertentangan itu sendiri adalah wujud aktual dari pandangan dan keterlibatan mereka yang diintervensi sedemikian rupa oleh gawai yang mereka pegang. Yang memberikan akses terhadap informasi yang secara cepat berkelindan di hadapan mata dan pikiran mereka, massif digerakkan “desainer” dari dunia yang benar-benar maya.

Siapa yang bisa benar-benar membedakan hoax dan bukan hoax hari ini? Masing-masing kelompok saling menimpali bahwa lawannya-lah yang melempar hoax!

Dari prinsip dasar visual yang fisikal itu kemudian mempengaruhi kondisi ruhani atau, sebut saja, psikologis seseorang, kelompok, masyarakat, dan bangsa ini. Bagi beberapa orang yang tak terbiasa dengan dinamika semacam ini, yang demikian menggoncangkan ruhani mereka. Saya sebut ruhani, karena bagi kita orang Timur perkara ruhani itu niscaya dan penting ada di sisi struktur wadag jasmani kita, fisik(al) kita. Padahal dinamika adalah sesuatu yang niscaya ada, karena ukuran pandangan kita, yang dilatari wawasan dan pengetahuan, berbeda-beda. Besar-kecilnya, derajat tinggi-rendahnya, dan tentu saja kepentingannya.

Percayalah, seperti dikatakan Heraklitos, tak ada air yang sama menyentuh kaki kita dalam arus yang terus mengalir. Semua akan lewat pada masanya, dan akan ada air yang (mungkin) lebih segar yang segera akan menyentuh kulit kita. Sampai di sini saya sudah mencampur susunan komposisi seni rupa, ilmu ruhani (tasawuf, kata orang Islam), dan filsafat. Dan itu tidak lain karena yang demikianlah ciri zaman ini, campur-baur! Lalu apakah salah orang yang terlibat politik praktis, baik sedakar sebagai komentator atau pemain di dalam lapangan politik hari ini?

Saya kira demikianlah keniscayaan aktual dalam beberapa bulan ini hingga bulan april nanti (dan mungkin saja masih akan terus berlanjut beberapa bulan ke depannya lagi). Saya ingat cerita seorang murid yang bertanya kepada gurunya, bagaimana menghadapi kekacauan yang tampak, yang terlihat dan terdengar itu? Gunakan hati gunakan akal, rasakan benar-benar dan pikirkan, semua yang berjalan di hadapan seseorang akan lewat pada akhirnya, kata sang guru. Tinggallah kita sendiri memandang diri kita, mau ikut terlibat permainan yang meng”asyik”kan ini atau cuma ingin nonton. Ambil posisi, mainkan atau duduk dengan riang!

Belum habis sampai di situ. Kata Papanek, bahkan menyusun sebuah puisi, melukis sebuah masterpiece, menulis sebuah konserto, adalah kerja desain. Bahkan kerja lain keseharian, hingga termasuk menonton dan bermain di lapangan politik (yang terakhir ini dari saya). Maka jangan heran, sambungnya, jika dalam kenyataan sehari-hari kita melihat ketidakharmonisan atau ketakseimbangan bentuk, karena abai pada pentingnya desain. Desain orang di belakang layar, desain orang di depan layar, atau malah “desain” Tuhan.()

Bagikan berita ini!
  • 25
    Shares