Connect with us

JENDELA

MENZIARAHI MERATUS

Diterbitkan

pada

Foto : Surreal nature illustrations/by Igor Morski

Hajriansyah
(Sastrawan dan Budayawan Kalsel)

Dua minggu yang lalu (26-27 Januari 2019) saya dan kawan-kawan Sanggar Seni Rupa Sholihin beranjangsana ke Nateh dan Kiyu, kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Kami berangkat tiga mobil, tiga keluarga, bersama kawan seniman lainnya. Sebelumnya kami singgah dan menginap di rumah seorang kawan pegiat lingkungan, di Pantai Hambawang dan di Birayang. Kami juga membawakan beberapa buku bacaan untuk kawan yang sedang mengupayakan perpustakaan kecil untuk masyarakat sekitar.

Sebelum memasuki kota Rantau kami sempat berhenti. Mobil yang saya tumpangi bersama keluarga pecah ban depannya, dan untung ada bengkel tepat di depan lokasi pecah ban. Kesempatan ini memungkinkan kami istirahat sebentar, bercanda dan mengobservasi lingkungan sekitar. Tiba di Pantai Hambawang kami berisitirahat lagi di rumah kawan, sekalian ngopi dan ngobrol-ngobrol ringan bersama kawan-kawan aktivis yang akan menjadi pandu wisata kami nantinya “menziarahi” Meratus, kawasan pegunungan yang membelah Kalsel menjadi dua kawasan geografis dan dua kawasan budaya—hulu dan kuala.

Perjalanan ini sudah kami rencanakan jauh hari, dikomunikasikan dengan kawan-kawan aktivis di HST, untuk memberikan dukungan terhadap gerakan #SAVEMERATUS dalam bentuk karya seni nantinya. Jadi kegiatan rihlah ini tak lain adalah “piknik” sekalian mengobservasi kawasan Meratus di kabupaten HST yang terancam penambangan skala besar oleh PT MCM, yang sempat menjadi polemik hukum dan budaya terkini di Kalimantan Selatan. Diharapkan dengan rihlah ini muncul inspirasi dalam berkarya, dan karya-karya ini setidaknya dapat menambahkan “kecemasan” yang sama jika atap atau benteng alam itu rusak.

Kecemasan bagaimana yang diharapkan?

Kecemasan akan nasib lingkungan dan masyarakat sekitar pegunungan Meratus yang imbasnya juga akan berdampak pada rusaknya lingkungan di sepanjang aliran sungai yang hulunya ada di Meratus. Kawasan ini adalah tandon air raksasa, lebih dari itu ia adalah “mata air” jernih yang menghidupi tidak hanya orang-orang yang tinggal di sekitar lereng sepanjang sabuk hijau Meratus. Jika mata air itu rusak dampaknya tidak sedikit, perlahan-lahan “hawa jahat”nya juga akan menyebari bentangan sungai hingga ke kuala.

Kerusakan meratus akan menjadi kerusakan kolektif kita. Kesadaran budaya, bahkan kesadaran spiritual, akan makin terpecah-pecah seperti cermin yang remuk ke tanah. Seperti digambarkan Sonny Keraf (dalam Etika Lingkungan Hidup), masyarakat adat tahu betul bagaimana menjalankan aktivitas kehidupan tertentu di alam ini, bagaimana bertani secara baik, berburu secara baik, menangkap ikan secara baik, menebang pohon, bepergian dan seterusnya. Semuanya terekam dalam pengetahuan praktis serta norma yang menuntun pelaksanaannya, yang kesemuanya ini tak lain adalah untuk menjaga relasi manusia dan alam yang harmonis, yang saling mengambil dan memberi. Inilah yang disebut kearifan tradisional yang bersifat holistik, menyeluruh, menyangkut pengetahuan dan pemahaman tentang seluruh kehidupan dengan segala relasinya di alam semesta. Dan pengetahuan itu kini begitu rentan untuk pecah, bahkan di beberapa daerah sudah menjadi mozaik-mozaik kecil yang sulit sekali dipunguti dalam penelitian, seiring benturan modernitas yang tak terelakkan.

Mari berwisata ke Meratus, ziarahi leluhur dan tengoklah alam yang makin terpinggirkan dari ingatan kolektif kita. Arungi jeram sungai-sungainya, dakilah bukit-bukitnya yang curam dan landai. Tengoklah sekitar, bagaimana saudara-saudara kita bertanam padi di tebing-tebing yang curam, menjaga mata air tetap jernih, mensyukuri alam dengan macam-macam ritual yang tertuju pada Sang Mahatunggal. Ajaklah anak-anak kita mandi di antara batu-batu dengan air sungai yang segar, agar mereka punya kesadaran “alangkah ruginya bila pemandangan indah ini yang menyediakan mata air kehidupan bagi kita” akan rusak jika ditambang secara brutal untuk kepentingan dunia yang sangat dangkal!

Meratus adalah bentangan alam yang menjaga bumi Kalimantan Selatan, secara kultural maupun ekologis. Dan seperti layaknya bagi para “penjaga” bumi yang dalam mistifikasi Islam disebut “wali”, ia pantas diziarahi. Orang-orang yang telah jauh darinya, seperti halnya keturunan Bambang Basiwara yang telah meninggalkan saudaranya Sandayuhan labuh ke muara saatnya kita menengok saudara tua kita, yang telah memilih menjaga Meratus kita. Tetapi tentu saja, seperti dikatakan Seyyed Hossein Nasr, seruan-seruan ini tidak akan memberi pengaruh nyata jika tidak ada kekuatan spiritual yang mengekang kecenderungan-kecenderungan buruk di dalam diri manusia.()

Bagikan berita ini!
  • 47
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    47
    Shares
-->