Connect with us

JENDELA

LITERASI, KETERKUNGKUNGAN, DAN KENISCAYAAN

Diterbitkan

pada

Foto: burningbook/khittah.co

Catatan: Hajriansyah* (Sastrawan dan Budayawan Kalsel)

Kemampuan kita memahami kondisi atau keadaan di sekitar kita sangat tergantung pada akses informasi yang dapat kita jangkau dan dapatkan. Juga, sangat tergantung pada budaya yang melingkupi kita dan dasar filosofis bagaimana yang menjadi acuan masyarakat kita. Meskipun secara global kita telah hidup dalam alam yang serba canggih dan cepat, akibat dari perkembangan industri terkini, kita sebenarnya masih “terkungkung” dalam alam kebudayaan tradisional yang melahirkan kita.

Saya sengaja memberi tanda petik dua pada kata terkungkung, karena di dalamnya ada kontras sosial sekaligus kultural dan upaya untuk terus berkontestasi, menjadi maju dan berkembang secara dinamis. Kita terkungkung karena mencoba memahami diri kita sebagai masyarakat dalam lebih banyak cara pandang orang lain yang bersifat general. Dalam hal literasi misalnya, secara umum kita mengetahui bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang sangat rendah minat bacanya. Tapi, benarkah demikian?

Dalam pengalaman saya menggeluti dunia perbukuan, saya sering berdiskusi bersama teman-teman tentang sulitnya menjual buku karya penulis banua. Ini benar-benar kami rasakan sejauh ini. Namun pada kenyataannya, toko-toko besar berskala nasional hadir di tengah masyarakat kita, belum termasuk toko-toko buku lokal yang tetap bertahan lebih dari satu satu dasawarsa, bahkan lebih. Belum lagi jika kita melihat ada pedagang kaki lima, di pasar tungging misalnya, yang menjual buku-buku praktis untuk kegunaan sehari-hari. Perpustakaan sekolah, kampus, dan milik daerah yang terus berupaya membenahi pelayanannya, dan seterusnya. Mungkinkah ada kesenjangan dalam pemahaman kita mendistribusikan buku-buku hasil karya anak banua?

Ada contoh yang menarik terkait pasar hari ini. Secara umum, menurut sebagian orang, daya beli masyarakat di pasar terjadi penurunan. Namun di sisi lain, penjualan dengan cara lain berkembang, yaitu penjualan dengan menggunakan media online. Siapa yang tidak pernah disapa oleh iklan dan kemudian tergoda membeli melalui media sosialnya? Jika jawabannya banyak, maka bisa jadi yang bersangkutan tidak memahami prosedur pembelian online—atau, karena terbiasa dengan pola tradisional, tidak mau ribet mengikuti prosedur itu—padahal ia sudah sangat berhasrat membeli dengan harga-harga relatif murah yang ditawarkan.

Dalam hal penjualan karya penulis banua, ada banyak kemungkinan kenapa buku-buku itu tidak laku dan/ atau tidak terdistribusikan. Salah satunya, selain soal teknik marketing yang disinggung di atas, adalah soal konten (isi) buku yang boleh jadi tidak semua orang menyukainya. Andai buku-buku itu berkaitan langsung dengan kebutuhan dan wawasan seseorang, plus sosialisasi isi buku melalui teknik pemasaran yang pas, tentu akan berkembang keinginan orang-orang untuk memilikinya—dalam kata lain membelinya. Maka, masalah ini selesai sementara.

Budaya literasi sangat terkait dengan kebutuhan seseorang untuk memahami keadaan di sekitarnya. Pemahaman itu sendiri meningkatkan wawasan dan kepribadian seseorang, dan jika ditarik lebih luas secara sosial berarti meningkatkan wawasan masyarakatnya. Masyarakat yang memiliki pemahaman yang baik terhadap kondisi sekitarnya akan lebih bijak dalam menyikapi persoalan-persoalan yang hadir di tengah-tengahnya. Persoalan hoax yang massif melalui media sosial mudah untuk dinafikan, atau akan terjadi seleksi informasi terkait kebutuhan individual dalam lingkup politik, kebudayaan, tradisi, dan keberagamaannya. Akan sangat mudah bagi kita membedakan mana informasi yang ditulis secara serampangan, yang divisualisasikan (termasuk diaudio-visualkan) dalam bentuk yang menyalahi kaidah-kaidah pemisualan yang benar, sehingga dengan pengenalan itu kita dapat membedakan mana informasi yang benar dan mana informasi yang meragukan untuk dikonfirmasi lebih jauh.

Literasi berasal dari kata literatus, yang berarti pe(mbe)lajar. Masyarakat yang sadar literasi adalah masyarakat yang (terus) belajar, atau memiliki minat belajar yang tinggi sehingga mau membaca (dan menuliskan pikiran-pikirannya), dan dengan begitu mengerti kebutuhannya. Apalagi jika dikaitkan dengan urang Banjar, yang selama ini identik dengan masyarakat yang terbuka, egaliter, mudah bergaul dan cepat beradaptasi.

Masyarakat yang cerdas seperti ini akan mudah mengorganisir dirinya untuk kebutuhan perkembangannya yang lebih efektif dan efisien terkait hakikat tujuan dirinya. Masyarakat kita, adalah masyarakat yang memahami bahwa kebahagiaan hidup tidak sesingkat kehadiran dunia ini. Namun lebih jauh dari itu, meskipun kebudayaan lain mendesaknya untuk melihat secara sempit dunia ini, mengerti bahwa akan ada kehidupan akhirat yang bersifat gaib dan abadi.(*)

Editor:Cell

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->