Connect with us

HEADLINE

LAPAN Ungkap Penyebab Banjir Kalsel karena 139 Hektare Hutan Hilang

Diterbitkan

pada

Banjir Kalsel yang terjadi di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Banjar pada Rabu (13/1/2021). Foto: kanalkalimantan/yuda
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengungkap penyebab banjir Kalsel atau Kalimantan Selatan. Penyebab banjir Kalsel karena 139 hektare hutan berkurang dalam kurun waktu 10 tahun.

LAPAN menganalisa penyempitan kawasan hutan telah meningkatkan risiko banjir di Kalimantan Selatan. Ini hasil kajian LAPAN.

Hasil analisis menunjukkan adanya kontribusi penyusutan hutan dalam kurun 10 tahun terakhir terhadap peningkatan risiko banjir di wilayah Kalimantan Selatan.

Data tutupan lahan menunjukkan bahwa dari tahun 2010 sampai 2020 terjadi penyusutan luas hutan primer, hutan sekunder, sawah, dan semak belukar masing-masing 13 ribu hektare (ha), 116 ribu ha, 146 ribu ha, dan 47 ribu ha di Kalimantan Selatan.



Sedangkan area perkebunan di wilayah itu menurut data perubahan tutupan lahan luasnya bertambah hingga 219 ribu ha.

 

 

Presiden Jokowi kunjungi korban banjir Kalsel (instagram)

“Perubahan penutup lahan dalam 10 tahun ini dapat memberikan gambaran kemungkinan terjadinya banjir di DAS Barito, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu masukan untuk mendukung upaya mitigasi bencana banjir di kemudian hari,” kata Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh LAPAN M Rokhis Khomaruddin.

Selain itu, hasil analisis curah hujan berdasarkan data satelit Himawari-8 menunjukkan bahwa liputan awan penghasil hujan terjadi sejak 12 hingga 13 Januari 2021 dan masih berlangsung hingga 15 Januari 2021 di wilayah Kalimantan Selatan.

“Curah hujan ini menjadi salah satu penyebab banjir yang melanda Provinsi Kalimantan Selatan pada tanggal 13 Januari 2021,” kata Rokhis.

LAPAN juga meneliti luas genangan akibat banjir pada 12 Juli 2020 (sebelum banjir) dan 13 Januari 2021 (saat/setelah banjir) dengan menggunakan data satelit Sentinel 1A.

Menurut hasil perhitungan, banjir menimbulkan genangan paling luas di Kabupaten Barito Kuala (sekitar 60 ribu ha) disusul Kabupaten Banjar (sekitar 40 ribu ha), Kabupaten Tanah Laut (sekitar 29 ribu ha), dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (sekitar 12 ribu ha).

Genangan juga muncul di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (sekitar 11 ribu ha), Kabupaten Tapin (sekitar 11 ribu ha), dan Kabupaten Tabalong (sekitar 10 ribu ha).

Sementara di Kabupaten Balangan, Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara, Hulu Sungai Utara, Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Murung Raya luas genangannya menurut data LAPAN antara delapan ribu sampai 10 ribu ha.

Tim tanggap darurat bencana LAPAN menganalisis penyebab banjir yang terjadi 12 sampai 13 Januari 2021 di Provinsi Kalimantan Selatan dengan menggunakan data cuaca dan luas tutupan lahan.

LAPAN menganalisis perubahan tutupan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito menggunakan data mosaik Landsat tahun 2010 dan 2020.

Data-data yang digunakan merupakan data satelit penginderaan jauh dengan resolusi menengah. Hasil pengolahan data masih bersifat estimasi, belum dilakukan verifikasi serta validasi untuk mengetahui tingkat akurasinya. (Suara.com)

Editor : Suara.com 

 

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

HEADLINE

Nominal Akuisisi Martapura FC Tak Disebut, Slot Pemain Banua Tak Ada Lagi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ketum MFC Hilman: Realistis di Tengah Pandemi dan Ketidakjelasan Kompetisi


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ketua Umum (Ketum) Martapura FC HM Hilman. Foto: bie
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Kesulitan pendanaan ‘menghidupi’ klub di tengah kompetisi yang serba tidak jelas mengharuskan manajemen Martapura FC menjual klub ke pemilik baru.

Ya, dalam setahun terakhir diketahui Martapura FC yang sudah berumur 12 tahun (2009-2021) harus ‘disuntik’ mati pihak manajemen. Ngos-ngosan di tengah ketidakpastian kompetisi sepak bola Indonesia yang dipukul pandemi Covid-19.

Ketua Umum (Ketum) Martapura FC HM Hilman kepada Kanalkalimantan.com, ditemui Rabu (24/2/2021) siang, mengakui memang manajeman klub sudah tidak mampu lagi menghidupi klub, sehingga ada proses akuisisi kepemilikan kepada manajemen baru.

“Walaupun akuisisi atau proses pengalihannya masih belum dilaksanakan, harapannya cepat dilakukan” aku Hilman.



Ditanya berapa nominal penjualan Martapura FC akuisisi ke pemilik baru -ganti nama menjadi Dewa United-, Ketua Umum Martapura FC tidak menyebutkannya. “Itu off the record,” katanya.

Pihak manajemen klub Martapura FC memastikan semua kontrak pemain maupun pelatih selama proses akuisisi terjadi dipastikan akan diselesaikan sepenuhnya. “Jadi ibaratnya tidak ada lagi utang gaji pemain dan yang lainnya. Karena semua yang ada di klub berdasarkan kontrak-kontrak kerja, dan sepenuhnya kita penuhi,” beber Hilman.

Pertimbangan yang mendasari kenapa Martapura FC harus diakuisisi, pertama tujuan dibentuknya klub sebagai wadah pemain sepak bola lokal atau pemain Banua berlaga di liga profesional, kekinian skuad Laskar Sultan Adam asli pemain lokal sudah sangat terbatas, bahkan terakhir tidak ada lagi pemain daerah Banua.

“Bisa diamati musim-musim terakhir, tidak ada lagi pemain lokal Banua, atau pemain daerah yang masuk skuad,” kata Hilman.

“Pemain Banua, lokal daerah hampir tidak ada lagi, karena dianggap tidak kompetitif bersaing pada saat kompetisi,” akunya.

Yang kedua dari industri sepak bola Indonesia, sudah tidak kondusif lagi. Dengan kondisi keuangan itulah, manajemn tidak bisa lagi bertahan di musim ini. Juga dampak dari pandemi corona di Indonesia yang memukul industri sepak bola Tanah Air.

“Perkembangan industri sepakbola, tidak kondusif lagi, dengan demikian kondisi keuangan finansial klub tidak memungkinkan lagi berlaga dalam kompetisi,” kata Hilman.

Sekadar diketahui, tahun 2020 lalu Martapura FC sempat melakukan persiapan berlaga dalam kompetisi, bahkan sempat bertanding sekali, sebelum kompetisi tahun 2020 dihentikan.

Nah, selama persiapan kompetisi yang tidak jelas manajemen terus mengeluarkan dana yang tidak sedikit.

 

Tahun 2021 ini, jadwal kompetisi semakin tidak jelas, terkait persiapan tim hingga industri sepak bola yang tidak jalan. Bahkan kabarnya pertandingan juga tidak lagi home away, seperti biasa kompetisi berlangsung.

“Kondisi normal saja kita sudah tidak support, bahkan rugi, karena salah satu pendukung bagaimana klub itu hidup adalah pertandingan home and away,” jelasnya.

“Itu hitungan realistisnya, jadi kita tidak mungkin lagi bertahan, itu pertimbangan kenapa Martapura FC kita lepas,” pungkasnya. (kanalkalimantan.com/bie)

 

Reporter : Bie
Editor : Kk

 

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Pengaron Kembali Banjir, Tiga Desa Terendam

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Banjir kembali melanda tiga desa di Kecamatan Pengaron, Rabu (24/2/2021). Foto: polsek pengaron
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Curah hujan tinggi beberapa hari terakhir membuat jalan dan beberapa rumah warga di Kecamatan Pengaron kembali terendam banjir, Rabu (24/2/2021) siang. Beberapa warga langsung bersiaga mengungsikan barang-barang berhaga milik mereka ke tempat yang lebih aman.

Kapolsek Pengaron, Iptu Herry Bombay mengatakan, air kembali menggenangi 3 desa di Kecamatan Pengaron, dengan ketinggian air sekitar 50 centi meter. Tiga desa itu adalah Desa Pengaron, Lubang Baru, dan Lok Tunggul.

“Banjir tersebut diakibatkan meluapnya air sungai Riam Kiwa pada pukul 13.30 Wita,” ungkapnya.

 



Dia juga mengungkapkan, pada banjir kali ini warga lebih waspada dan mengamankan barang berharga ke tempat yang lebih aman.
“Bebeapa warga sudah mengamankan barang barang berharga milik mereka ke tempat yang lebih aman, termasuk para pedagang di pasar Pengaron,” bebernya.

Air berwarna kuning yang kembali menggenangi permukiman warga di tiga desa tersebut disebabkan oleh curah hujan tinggi dalam tiga hari terakhir.

“Memang hujan kemarin cukup deras, namun di daerah gunung kabarnya tidak terlalu deras,” ucapnya.

Mengantisipasi terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap barang-barang milik warga petugas kepolisian melakukan patroli.
“Kita juga melakukan patroli guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan pada saat banjir ini, ke tempat tempat warga mengungsikan barang-barangnya,” tutupnya. (kanalkalimantan.com/wahyu)

 

Reporter : Wahyu
Editor : Bie

 

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->