Connect with us

HEADLINE

Desa Krisis Air di Pesisir Kabupaten Banjar, Beli Air Jirigen Cukupi Hajat Harian

Diterbitkan

pada

Krisis air bersih di Desa Haur Kuning, Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar. Foto: nh

KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Krisis air bersih puluhan tahun sudah dialami warga Desa Haur Kuning, Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Warga dipaksa keadaan harus membeli air bersih untuk mencukupi keperluan air rumah tangga sehari-hari.

Meski sejatinya kesulitan mendapatkan air bersih sudah dialami warga sepanjang tahun, paling terasa saat memasuki puncak kemarau, seperti sekarang ketika kemarau El Nino terjadi.

Baca juga: OC Kaligis Bacakan Pledoi Terdakwa Korupsi Mantan Bupati HST

Sekretaris Desa Haur Kuning, Abdul Majid menceritakan, ketersedian air bersih di kampung mereka sudah berlangsung sejak berpuluh tahun hingga sekarang.

“Berpuluh-puluh tahun warga di sini membeli air untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari,” ujar lelaki 48 tahun ini kepada Kanalkalimantan.com, Selasa (5/9/2023) siang.

Ketika musim kemarau mulai masuk Mei 2023 lalu, warga sudah mengalami kekeringan air, saat ini 1.029 jiwa (406 kepala keluarga) yang tinggal dalam empat Rukun Tetangga (RT) di Desa Haur Kuning tidak bisa lagi mengharapkan air hujan.

“Awal Agustus 2023, ketika hujan berkurang hingga tidak terjadi hujan di daerah pegunungan, air laut pasti masuk dan menjadikan air di wilayah desa kami menjadi asin, namun jika intensitas curah hujan meningkat di Sungai Barito, maka air laut tidak akan masuk ke wilayah kami,” ujar Abdul Majid.

Baca juga: MoU Pemko Banjarbaru dengan 3 PKBM, 9 Ponpes Ikut Program Paket

Sekitar dua bulan lalu, warga Desa Haur Kuning masih dapat bertahan dengan menggunakan air sumur di sekitar rumah masing-masing, namun saat ini air sumur juga sudah kering tak dapat diambil lagi.

Kondisi semakin parah, tidak hanya berdampak pada warga, tetapi hewan ternak unggas ikut merasakan kesulitan akibat krisis air di salah satu wilayah pesisir Kabupaten Banjar ini.

M Husaini SPdI, kepala lingkungan Desa Haur Kuning mengatakan, masyarakat di desa yang mayoritas petani yang hanya mengharapkan dari hasil tanam padi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sudah dalam dua tahun berturut gagal panen.

Lelaki 58 tahun ini menambahkan dengan krisis air yang kini dialami mengharuskan warga untuk membeli air bersih sepenuhnya.

Baca juga: Masih Ada Anak Putus Sekolah di Banjarbaru, Terjadi dalam Empat Tahun Terakhir

“Jadi air sumur kering dan air sungai menjadi asin, pilihan terakhir kami hanya dengan membeli air bersih yang dijual biasa untuk memenuhi semua kebutuhan pokok, keperluan untuk minum, mencuci pakaian, mencuci perabot rumah tangga dan lain sebagainya,” beber M Husaini.

Kondisi kekeringan ekstrim dengan masuknya air laut ke wilayah Desa Haur Kuning, menjadi salah satu faktor gagal panen karena intrusi air laut yang menghambat dan menjadikan tanam padi gagal.

Dalam sehari, membeli air bersih tergantung pada kemampuan ekonomi masing-masing kepala rumah tangga, air bersih dijajakan menggunakan mobil pikap.

“Satu jerigen ukuran isi 20 liter dibayar seharga Rp2.500, sedangkan untuk jerigen isi 35 liter seharga Rp3.500,” kata Abdul Majid.

Baca juga: Temuan Tiap Bulan Dana Bansos Rp140 M Dinikmati 23,8 Ribu ASN

Terjadi perbedaan harga air bersih ketika musim hujan dan musim kemarau, ada kenaikan harga air dari Rp500 hingga Rp1.000 per jerigen.

Warga membeli air bersih dari penjual mobil pikap tersebut, air dijual itu berasal dari air sumur di kawasan Maluka Baulin, Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanah Laut.

“Ada penjual air jerigen menggunakan mobil pikap yang datang dari Maluka Baulin Kurau ke desa kami,” ujar Abdul Majid.

Warga menampung dan menyimpan air bersih di dalam sebuah jerigen, lumrah dan sudah menjadi kebiasaan warga Desa Haur Kuning tidak hanya pada saat kemarau.

Karena selama musim hujan warga masih bisa memenuhi kebutuhan hajat harian terbantu air hujan yang ditampung dalam wadah atau tempat air.
“Air hujan itu biasa digunakan sebagai air minum untuk konsumsi mereka sehari-hari. Sedangkan untuk kegiatan mencuci pakaian, mencuci piring dan kebutuhan yang lain bisa menggunakan air sumur,” ungkap Sekretaris Desa Haur Kuning.

Baca juga: AIPF Dibuka Presiden, PLN Paparkan Green Enabling Supergrid

Pasokan air bersih dari BPBD Banjar di Desa Haur Kuning, beberapa waktu lalu. Foto: bpbd

Saat ini pihak pemerintah desa Haur Kuning dalam menghadapi krisis air bersih di wilayah permukiman mereka dengan mengajukan permohonan kepada dinas terkait, agar semua warga desa dibantu dalam menghadapi krisis air di musim kemarau panjang.

“Dua pekan yang lalu, kami mendapatkan bantuan air dari Dinas PUPR Kabupaten Banjar dan BPBD Kabupaten Banjar untuk desa kami,” kata Abdul Majid.

Dinas PUPR Banjar memberi pinjam pakai sementara alat tampung air ketika menghadapi musim kemarau. “Ada tujuh buah tandon, dapat menampung 2.000 liter per tandonnya,” sebut Sekdes Haur Kuning.

Sementara itu, BPBD Kabupaten Banjar membantu dalam pendistribusian air bersih kepada warga sebanyak 5.000 liter, sebagian warga masih ada yang membeli air bersih.

Baca juga: Alissa Wahid Mengutip Gus Dur: Imin Merebut PKB!

Jadi ketika warga memerlukan air tinggal mengambil air dalam tandon yang sudah disediakan Dinas PUPR dan BPBD Banjar.

“Diperkirakan dua hari persediaan air bersih sudah habis, karena sebenarnya volume air bersih yang diberikan itu tidak mencukupi, tapi itu pun kami juga sudah sangat berterimakasih,” aku Abdul Majid.

“Kami berharap ada solusi yang terbaik untuk desa kami, agar dapat meringankan beban kami di sini,” pungkasnya. (Kanalkalimantan.com/nh)

Reporter : nh
Editor : bie


iklan " />

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->