Kalimantan Selatan
Bahasa Banjar, Bakumpai, dan Dayak Deah Prioritas Revitalisasi Agar Tak Punah
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Sejak 2023, Balai Bahasa Kalimantan Selatan (Kalsel) menjalankan program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) mencakup Bahasa Banjar, Bakumpai, dan Dayak Deah.
Kepala Balai Bahasa Kalsel, Armiati Rasyid mengatakan, setiap bahasa pada akhirnya akan punah dengan sendirinya, yang bisa dilakukan ialah memperlambat kepunahan itu lewat program RBD ini.
Dari 10 bahasa daerah yang terpetakan di wilayah Kalsel, pihaknya memilih Bahasa Banjar, Bakumpai, dan Dayak Deah karena punya alasan tersendiri.
Baca juga: Melestarikan Bahasa Daerah Melalui Festival Tunas Bahasa Ibu 2025
Pertama, Bahasa Banjar didasarkan pada status Bahasa Banjar sebagai lingua franca yang dipakai di seluruh wilayah Kalsel. “Bahasa Banjar ini dituturkan oleh semua masyarakat yang ada di Kalimantan Selatan,” ucap Armiati, Selasa (11/11/2025).
Di samping itu, penutur Bahasa Banjar di kabupaten/kota Kalsel sangat heterogen. Dampaknya, anak-anak muda banyak terpengaruh oleh bahasa-bahasa lain yang hidup di wilayah mereka.
“Tidak menutup kemungkinan hal tersebut akan berpengaruh terhadap kemampuan mereka dalam berbahasa Banjar,” ungkap Kepala Balai Bahasa Kalsel.
Baca juga: PLN UP2B Kalbar Salurkan Paket Sembako
Kedua, Bahasa Bakumpai. Bahasa asli penduduk Dayak Bakumpai yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Barito ini dipilih lantaran penuturnya mulai menurun. Bahkan ujar Armiati, banyak orangtua yang sudah tidak mengajarkan bahasa ini ke anak-anak mereka.
“Penyebabnya karena Bahasa Bakumpai masuk ke daerah transmigrasi, sehingga pengaruh bahasa-bahasa yang lebih kuat itu sangat besar,” jelas Armiati.
Ketiga, Bahasa Dayak Deah. Serupa dengan Bahasa Bakumpai, Bahasa Dayak Deah dipilih mengingat kondisinya yang memprihatinkan dari segi penutur yang mayoritasnya berasal dari kalangan orang tua.
Baca juga: Lelaki 53 Tahun Dibekuk Polsek Banjarbaru Utara Simpan Sabu
“Jadi penutur yang dominan itu orang-orang yang lebih tua, mereka memang masih menggunakan Bahasa Dayak Deah,” terangnya.
Lantas, melalui program revitalisasi bahasa daerah ini diharapkan mampu membuat ketiga bahasa tersebut untuk tetap digunakan oleh masyarakat asli pemilik bahasanya.
Di sisi lain, program RBD adalah upaya pelindungan bahasa untuk menambah jumlah penutur muda. Penambahan penutur muda ini dilakukan melalui transmisi di sekolah, komunitas, dan keluarga.
Adapun tahapan dalam program RBD antara lain:
1. Rapat Koordinasi
2. Bimbingan Teknis Guru dan Master
3. Pengimbasan
4. Pemantauan dan Evaluasi
5. Festival Tunas Bahasa Ibu
Dari tahun ke tahun, program ini menunjukkan tren positif sebab ada peningkatan jumlah partisipan tiap tahunnya. Di tahun 2023, partisipan RBD berjumlah 60.000 orang dan meningkat drastis di tahun 2024 mencapai 744.805 orang.
“Peningkatan jumlah partisipan ini menunjukkan keberhasilan dan kepedulian terhadap perlindungan bahasa daerah di Kalimantan Selatan,” tandas Armiati. (Kanalkalimantan.com/fahmi)
Reporter: fahmi
Editor: bie
-
HEADLINE3 hari yang laluPrakiraan BMKG: Cuaca Kalsel Sepekan Ada Potensi Hujan Ringan
-
Kabupaten Banjar3 hari yang laluSekda Buka Workshop Manajemen Risiko Pembangunan Daerah Kabupaten Banjar 2026
-
Infografis Kanalkalimantan2 hari yang laluHaornas 2026: Aktivitas Fisik Jadi Gaya Hidup Keseharian Masyarakat
-
PUPR PROV KALSEL3 hari yang laluJembatan Cambai Dibuka Awal Oktober 2026
-
Kota Banjarbaru3 hari yang laluBerkah dari Langit Mengguyur Wilayah Liang Anggang
-
Kabupaten Banjar3 hari yang laluPemkab Banjar Fokuskan RAPBD 2027 pada Sektor-Sektor Bersentuhan Langsung dengan Kebutuhan Masyarakat


