Connect with us

JENDELA

AIR BERSIH DAN SUNGAI KITA

Diterbitkan

pada

Hajriansyah
(Sastrawan dan Budayawan Kalsel)

Beberapa waktu yang lalu kota Banjarmasin saluran air ledingnya macet total. Sebuah pipa besar di daerah Sungai Tabuk mengalami kebocoran besar, airnya memancur lebih besar dari air mancur lima warna di Taman Kamboja. Lalu, mendadak air bersih tak keluar di saluran-saluran rumah tangga hampir di seluruh kota Banjarmasin. Walaupun bukan kali ini saja air bersih macet di Banjarmasin, tapi biasanya selalu ada peringatan terlebih dahulu yang memungkinkan warga bersiap-siap satu dua hari sebelumnya dengan menampung air di bak atau tempat-tempat air lainnya.

Di komplek rumah saya, di hari kedua anak-anak menahan diri untuk kencing dan mandi. Untungnya itu hari minggu. Persediaan air di bak mandi hampir habis, hari sabtu sebelumnya air keran benar-benar tidak mengalir. Malam berikutnya air mulai menetes di keran depan rumah yang rendah, sehingga kami masih bisa memindahkan air ember per-ember ke bak mandi dan tempat air untuk minum meski tak penuh. Rumah adik yang kosong di depan rumah saya bak mandinya kebetulan penuh, sehingga kami pindah ke sana untuk be-a-be (bab) dan mandi.

Sungai Martapura dan beberapa cabangnya mendadak ramai. Orang-orang tepian sungai seperti kembali ke tiga atau empat dekade yang lalu, mandi dan mencuci di sungai dalam gerombolan besar. Anak-anak, remaja dan orang tua memadati kembali sungai-sungai mereka. Di Sungai Baru, misalnya—sebagaimana terlihat melalui gambar yang dibagikan di dinding-dinding media sosial dan surat kabar, anak-anak mandi balumba, ibu-ibu dan gadis remaja mereka turun ke batang batapih sedada, laki-lakinya duduk mencangkung di belakang rumah menghadap sungai atau di atas jembatan.

Suasana seperti ini mengembalikan kita pada ingatan kolektif orang Banjar di masa lalu, ketika sungai masih bagian dari pelataran depan rumah kita, meski sebentar saja.

Sejak daratan (yang sebenarnya daerah rawa) tumbuh bersama laju pembangunan kota, gedung-gedung beton bertingkat menggantikan rumah kayu luas dan besar, motor dan mobil menyalip laju jukung dan klotok, pipa air leding masuk makin massif ke rumah-rumah pribadi hingga pinggiran kota dan pelosok desa. Semua berubah.

Inilah keniscayaan Banjarmasin hari ini, kota seribu sungai yang berubah menjadi kota seribu ruko dan julukan-julukan lainnya perlahan namun pasti meninggalkan identitas kesungaiannya. Sungai tinggal kenangan dan hanya dibicarakan dalam seminar serta diskusi-diskusi budaya lainnya dan yang sebatas bingkai pariwisata, terutama yang mengacu pada kota-kota sungai dunia lainnya. Di pinggiran orang masih menggunakan sungai sebatas perlunya, tapi tak pernah menjadi bagian dari pelatar depannya lagi.

Dari kejadian pipa bocor yang mengakibatkan air leding macet selama tiga hari itu, saya kira kita bisa belajar banyak. Terutama bagi kita, masyarakat Banjar yang tinggal di komplek-komplek perumahan yang berorientasi daratan.

Pertama, soal pengelolaan air bersih. Mungkin sebagian kita sudah banyak yang sadar dengan tidak menentunya aliran air bersih ke rumah pribadi, dan sudah menyiapkan tandon-tandon air di belakang rumahnya. Tapi tak sedikit, seperti halnya saya, yang merasa air bersih akan terus mengalir “kada bawayahan” (seperti jargon  PDAM Bandarmasih) sehingga tak merasa perlu dengan tandon penampung air sementara di rumah tangga. Artinya kesiapan semacam itu memang harus ada dan sedia.

Masyarakat Banjar dulu di setiap rumahnya selalu menyediakan tajau maupun drum yang dicor bagian dalamnya di dapur atau di belakang rumahnya, meskipun air sungai menjadi bagian dari keseharian mereka. Tempat air bersih ini kini tergantikan dengan mudahnya air keluar dari keran-keran rumah tangga, kecuali yang seringkali macet airnya di pinggiran tetap menyediakan tempat-tempat semacam ini.

Kedua, soal sungai yang tinggal jadi kenangan di bagian belakang ingatan kita. Walikota Ibnu Sina punya mimpi menjadikan Banjarmasin sebagai Waterfront City, sederhananya—seperti sudah disinggung di atas—sungai menjadi beranda depan kota. Mestinya memang begitu, sungai tidak lagi dibelakangi tapi seperti lazimnya dulu, benar-benar dihadapi dalam arti harfiah maupun dalam makna persoalan-persoalannya pun harus dikelola sedemikian rupa dengan kesadaran kota sungai (river city) yang benar.

Itu juga otomatis menuntut kita memikirkan bagaimana transportasi sungai dapat hidup kembali. Jukung dan kelotok (yang seyogyanya bunyinya tak terlalu bising) dapat hilir-mudik kembali dalam jumlah yang signifikan, sehingga diharapkan dapat pula mengurangi kemacetan yang kini semakin kaprah. Sungai menjadi tempat berjualan, partaian maupun eceran, apapun barang jualannya—hasil bumi maupun barang keseharian lainnya. Kebersihan sungai mesti dijaga, apalagi jika terkait sebagai tempat mandi dan bab, alih-alih seperti lazimnya belakangan sungai malah jadi tempat pembuangan sampah rumah tangga yang paling efektif.(*)

Editor : Chell

Bagikan berita ini!
  • 16
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    16
    Shares
Advertisement