Budaya
Legenda Pantai Batu Lima Tampil dalam Sebuah Tarian
BANJARMASIN, Pantai Batu Lima adalah pantai yang berada di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Lokasi pantai Batu Lima berada di desa Kuala Tambangan, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Kaut. Batu Lima mempunyai legenda dibaliknya, dimana kisah dari legenda itu dibawakan oleh para penari perwakilan Tanah Laut di Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel.
Di bawah naungan Sanggar Lintang Kencana dari Pelaihari, 10 penari dan 10 pemusik tampil memukau para penonton di panggung terbuka Bakhtiar Sanderta, Taman Budaya Kalsel, Sabtu (13/7) malam.
Ketua Sanggar Lintang Kencana, Yoyok Renggo Prakoso mempunyai maksud tersendiri dalam memilih kisah legenda Batu Lima sebagai tema tarian mereka. Hal ini dikarenakan para wisatawan yang kurang mengenal wilayah dan nama Batu Lima. Sehingga wisatawan lebih banyak berkunjung ke pantai seperti Takisung, Batakan, atau Turki (Tungkaran Kiri).ÂÂ
Sehingga dengan tampilnya mereka malam itu, ia harap lebih banyak masyarakat mengetahui tentang pantai Batu Lima maupun legendanya. “Ya semoga dengan tampil di sini, masyarakat bisa lebih mengenal pantai Batu Lima,†harapnya.
Pantai Batu Lima ini diapit oleh dua pantai lainnya, yaitu pantai Batakan dan pantai Takisung. Pantai ini berjarak kurang lebih 35 km dari kota Pelaihari dan 80 km dari kota Banjarmasin. Di pantai ini ada lima batu berjejer yang meski air laut semakin tinggi, batu tersebut tetap terlihat.
Kisah legenda pantai tersebut bermula pada zaman dahulu, ada lima laki-laki bersaudara. Kelima bersaudara ini berasal dari Suku Bugis dan mereka menghidupi keluarganya dengan mencari ikan di laut.
Masyarakat nelayan di sekitar wilayah Batu Lima mempercayai bahwa di pantai Batu Lima ada sejenis ikan pari yang berwarna putih, dan apabila para nelayan melihat ikan tersebut, maka janganlah mereka untuk menangkap apalagi membunuhnya. Apabila ada orang yang melanggar pantangan tersebut maka dia akan mendapat bala (kutukan).
Suatu hari berangkatlah lima orang bersaudara ini melaut. Pada hari itu meraka mendapat hasil yang sangat banyak, termasuk menangkap ikan pari putih yang dilarang tersebut. Dikarenakan banyaknya tumpukan ikan yang mereka dapat, tanpa disadari mereka telah membunuh ikan pari tersebut. Maka dalam sekejap saja langit di pantai Batu Lima berubah mendung, awan menjadi gelap dan datanglah badai yang menerpa kelima bersaudara tersebut.
Dalam perahu itu kelima bersaudara ini kebingungan dan takut, kemudian mereka teringat akan mitos tentang ikan pari putih. Tiba-tiba saja mereka berlima berubah menjadi batu yang sekarang bersusun lima buah.
Untuk bisa menampilkan tarian ini, Sanggar Lintang Kencan berlatih sebulan penuh. Para penari terdiri dari guru, dosen, dan anak-anak sekolah. Mengantongi dana pembinaan dari pemerintah kabupaten sebesar satu juta dan uang transport sebesar lima ratus ribu, Renggo beserta kelompoknya pergi ke Banjarmasin untuk memberi penampilan yang terbaik.
Meski di satu sisi Renggo sangat berharap agar pemerintah lebih memperhatikan para seniman. Apalagi untuk dana, mereka tentu perlu jumlah yang tidak sedikit. Untuk satu kostum penari saja, pihaknya perlu mengeluarkan dana sebesar 500 ribu. “Belum lagi make up dan lain-lain. Sisanya seperti konsumsi latihan kita tanggung sendiri. Jadi ya kita yang tua-tua ini lah yang gabungan uang dan mikir gimana caranya bisa dapat dana lebih,†tuturnya. (mario)
Editor : Bie
-
HEADLINE3 hari yang laluSDA Kalsel Dikuras, Kerusakan Lingkungan Diabaikan
-
HEADLINE2 hari yang laluBerkas Kasus Pembunuhan Mahasiswi ULM Dilimpahkan ke Kejaksaan
-
Kabupaten Banjar2 hari yang laluPemkab Banjar Tindaklanjuti Kondisi Rumah Zainab Warga Lok Buntar
-
Kabupaten Kapuas3 hari yang laluBupati Kapuas Serahkan KHBS dan Bantuan Pangan ke Warga Mantangai
-
Kota Banjarbaru2 hari yang laluIni Juara Festival Tanglong dan Bagarakan Sahur 2026
-
Kabupaten Kapuas18 jam yang laluJelang Hari Raya Pemkab Kapuas Intensifkan Pengawasan Keamanan Pangan





