Connect with us

HEADLINE

2 Tahun Ferdinand Membangun Mimpi Wujudkan Kapal Pesiar Pinisi ‘Sehat Elona’ di Pagatan

Diterbitkan

pada

Kapal Pinisi Sehat Elona yang dibikin oleh Ferdinand Darryl Szigeti di daerah Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel. Foto: dok pribadi Ferdinand Darryl Szigeti

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Sebuah mimpi besar membawa Ferdinand Darryl Szigeti (68), warga negara berkebangsaan Hongaria-Amerika, melakukan perjalanan jauh hingga ke Pagatan, daerah pesisir di Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Bersama delapan rekannya pengusaha berbeda negara, ia membuat sebuah Kapal Pinisi di bawah bendera ‘Sehat Cruise’.

Bukan sekadar Pinisi, kapal wisata yang dibuat oleh Ferdinand ini dirancang membawa penumpang dalam sensasi perjalanan berbeda. Sebuah perjalanan melintasi keharmonisan di tengah laut yang akan mengganti tiap sel tubuh dengan energi baru.

Sejak dua tahun lalu, Ferdinand tinggal di Pagatan untuk mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Ia mengarsiteki pembuatan Kapal Pinisi—salah satu kapal legendaris khas Indonesia, dibantu pembuat kapal tradisional di daerah tersebut bernama Pak Mustakim.

Keteguhan dan komitmen Ferdinand yang juga pemegang hak paten atas kapal lipat kayak (itup) sejak tahun 2001 ini, akhirnya terwujud. Sebuah Kapal Pinisi dengan panjang 35,65 meter (177 kaki) kini sudah masuk dalam tahap finishing.



 

Ferdinand Darryl Szigeti Foto: dok pribadi Ferdinand Darryl Szigeti

Baca juga : Meriah, Kedatangan Kalpataru 2021 di Pondok Pesantren Darul Hijrah, Cindai Alus, Martapura

“Saya bekerja keras untuk mewujudkan Kapal Pinisi ini. Selama dua tahun dalam proses pengerjaan saya juga tinggal di kapal itu,” ujar pria kelahiran tahun 1953 ini saat bertemu Kanalkalimantan.com, di Banjarmasin.

Kapal pinisi yang seluruh bahannya memakai kayu ulin asal Kalimantan ini, didesain dengan tetap mempertahankan konsep tradisionalnya.

Terlebih sebagai schoeners desain Barat, Kapal Pinisi memiliki kelebihan dengan mengangkat layar segitiga yang diikat ke tiang dan galah. Karena iklim Indonesia yang hangat, desain Kapal Pinisi menggunakan dek terbuka yang luas dan area kabin dengan jendela besar yang membuat penumpangnya tetap sejuk serta memberikan pemandangan panorama maksimal tanpa hambatan yang meningkatkan pengalaman berlayar.

Dengan pelayaran di laut Indonesia tidak mengalami angin yang signifikan, mode utama penggerak kapal menggunakan tenaga mesin.

 

Kapal Pinisi Sehat Elona yang dibikin oleh Ferdinand Darryl Szigeti di daerah Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel. Foto: dok pribadi Ferdinand Darryl Szigeti

Baca juga : Sudah Dandan Cantik ke Kondangan, Penyanyi Ini Nyesel Pas Tahu Tempatnya

“Tim kami berkomitmen untuk bekerja dengan cara yang ramah lingkungan. Dari mengumpulkan dan mendaur ulang limbah, cara mencuci yang ramah lingkungan untuk menghasilkan tenaga sebanyak mungkin dari sumber terbarukan adalah langkah penting dan kami melakukannya dengan bangga,” terangnya.

“Namun, kapal kami ditenagai layar dan mesin diesel dan generator yang tidak ideal untuk menurunkan jejak karbon, hal ini yang masih menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi kami untuk terus berinovasi mencari solusi alternatif. Sehingga kesetimbangan alam yang dilalui oleh kapal kami tetap terjaga,” tegas Ferdinand yang memegang kartu jurnalis internasional khusus menulis artikel perjalanan ini.

Ide Tercetus Saat Puasa Ramadhan
Tahun 2017, Ferdinand bersama delapan rekannya terdiri dari rombongan dokter pengobatan barat dan alternatif, pengusaha pembuat perahu, arsitek, dan lainnya, sedang dalam perjalanan di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

“Ketika itu kami sedang menjalankan puasa Ramadhan. Lalu berdiskusi tentang manfaat puasa bagi kesehatan dan spiritual. Dari diskusi tersebutlah kami memutuskan membuat sebuah kapal yang berlayar di tempat yang tenang, kapal yang semua materinya dari alam, didalam kapal kita tidak hanya menyajikan makanan bagi tubuh tapi juga bagi kesehatan spiritual.

 

Kapal Pinisi Sehat Elona yang dibikin oleh Ferdinand Darryl Szigeti di daerah Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel. Foto: dok pribadi Ferdinand Darryl Szigeti

Baca juga : SSB Bhakti Husada HSU Runner-up Paman Birin Cup 2021.

Harapannya setelah berlayar akan menjadi pribadi baru dengan semangat baru,” kata Ferdinand mengungkap kisah awal pembuatan kapal pinisi yang diberi nama ‘Sehat Elona’ itu.

Kapal Pinisi ini bernama Sehat Elona dilengkapi dengan panel surya serta generator. Nantinya, para tamu yang berlayar menggunakan kapalnya, dapat menikmati kamar ber-AC dan salon yang bisa dipilih serta shower air panas sesuai permintaan.

Kapal pesiar ini akan berlayar menjelajahi Timur Bali, Lombok, Sumbawa, dan sekitarnya. Wisatawan juga bisa memiliki berbagai paket pilihan destinasi, yang bisa dipilih melalui website sehatcruises.com. Bahkan kapal ini juga bisa dicarter untuk keluarga atau teman reuni.

“Bagi kami Kapal Pesiar Pinisi Sehat Elona bukan hanya sebuah perahu layar yang indah, yang dibangun dari bahan-bahan alami dengan cara tradisional yang dalam waktu 3 bulan lagi siap berlayar melintasi kepulauan Indonesia. Tapi kapal ini memang dirancang khusus membawa penumpangnya dalam perjalanan ke dunia lain. Dunia yang akan mengganti tiap sel tubuh dengan energi baru. Di kapal ini juga selalu berkomitmen menjaga keseimbangan lingkungan dan masyarakat di pulau-pulau yang dilintasi oleh Sehat Elona,” katanya.

 

Kapal Pinisi Sehat Elona yang dibikin oleh Ferdinand Darryl Szigeti di daerah Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel. Foto: dok pribadi Ferdinand Darryl Szigeti

Baca juga : Puluhan Orang Tewas dalam Ledakan di Masjid Syiah di Afghanistan

Simbol Kegagahan dalam Babad La Galigo
Pinisi bukan sembarang kapal. Sejarah panjang dan berbagai kisah yang dibawa, membuat Ferdinand terobsesi membuat kapal khas Indonesia ini. UNESCO, pada 7 Desember 2017, telah menetapkan kapal pinisi Indonesia menjadi warisan budaya dunia. Dan seni pembuatan kapal pinisi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural of Humanity).

Kapal Pinisi diakui telah menjadi bagian seni berlayar wilayah kepulauan yang tak ternilai. Saat ini, pembuatan Kapal Pinisi masih bisa ditemui di beberapa wilayah Sulawesi Selatan, yaitu di Tana Beru, Bira, dan Batu Licin di Kabupaten Balukumba. Teknik pembuatan Kapal Pinisi juga sangat memperhatikan ketelitian dari sisi teknik dan navigasi.

Kapal Pinisi dikenal sebagai salah satu kapal yang telah ada sejak tahun 1.500-an dan banyak digunakan oleh para pelaut Bugis, Konjo dan Mandar di Sulawesi Selatan.

Ciri khasnya adalah berupa layar dan dua tiang utama. Saat ini pembuatan Kapal Pinisi sudah sangat berkurang karena kayu yang berkualitas sudah sangat sulit ditemukan.

Baca juga : Pagelaran Karasminan Banua, Bangkitkan Semangat Pemuda Lewat Seni Budaya

Banyak catatan sejarah yang mengulas tentang Kapal Pinisi. Salah satunya, adalah Babad La Galigo yang merupakan salah satu dokumen sejarah terpanjang di dunia.
Catatan ini menyebutkan bahwa Kapal Pinisi pertama dibuat oleh Sawerigading seorang putra mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok. Tujuan utamanya hendak merantau dan meminang seorang putri Tiongkok bernama We Cudai.
Sayangnya dalam perjalanan pulang ke Luwu, kapal ini harus berhadapan dengan badai dan pecah menjadi tiga bagian yang menyebar ke daerah Ara, Tanah Lemo, serta Bira.

Tiga daerah ini dipercaya sebagai cikal bakal kelahiran Kapal Pinisi karena di tiga tempat tersebut pecahan kapal Sawerigading dirakit kembali menjadi kapal baru yang saat ini disebut sebagai Kapal Pinisi.

Namun demikian, asal mula penamaan Kapal Pinisi ini masih menjadi misteri sampai sekarang. Ada yang menyebutkan bahwa pinisi adalah nama dari tiang kapal. Namun, ada yang menyebutkan bahwa nama pinisi adalah nama seorang pelaut yang merancang bentuknya.

Dalam mitologi lain, Kapal Pinisi difungsikan untuk membawa barang dagangan dan menangkap ikan. Ia juga menjadi kekuatan armada laut yang cukup disegani kali itu.
Kini, Kapal Pinisi telah beralih fungsi menjadi kapal pesiar mewah. Seperti Kapal Pinisi Sehat Elona yang dirancang oleh Ferdinand Darryl Szigeti. (Kanalkalimantan.com/desy)

Reporter : desy
Editor : desy arfianty


iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->