Connect with us

HEADLINE

Walhi Kalsel Kritik Kedatangan Jokowi yang Cuma ‘Salahkan’ Hujan!

Diterbitkan

pada

Walhi Kalsel kritisi kedatangan Jokowi saat tinjau banjir di Kalsel Foto: andy
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU– Kedatangan Presiden Jokowi untuk meninjau korban banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel) mendapat kritik dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel. Alih-alih melakukan investigasi penyebab banjir oleh rusaknya lingkungan akibat masifnya tambang dan perkebunan sawit, Jokowi malah menyalahkan hujan dan sungai.

Hal tersebut ditegaskan Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono, menyikapi tidak adanya statemen kuat dari Jokowi terkait musibah banjir Kalsel yang merupakan kejadian terburuk selama 50 tahun terakhir.

“Harusnya Jokowi hadir dengan lebih kuat di hadapan masyarakat Kalsel. Selain penanganan korban dan menjamin keselamatan rakyatnya, mestinya beliau berani memanggil pemilik perusahaan-perusahaan tambang, sawit, HTI, HPH. Menggelar dialog terbuka dengan rakyat dan organisasi masyarakat sipil,” tegasnya.


Bukannya melakukan itu, dalam pernyataannya Jokowi hanya menyampaikan bahwa banjir besar yang melanda 10 kabupaten kota di Kalsel disebabkan tingginya intensitas curah hujan La Nina hingga 10 hari lamanya. Hal itu menyebabkan daya tampung air di Sungai Barito yang notabenenya adalah sungai terbesar dan terpanjang di Kalsel melebihi kapasitas.



“Mestinya jangan Cuma bisa salahkan hujan dan sungai,” tegas Kisworo yang akrab dipanggil Cak Kis ini.

Ia mengatakan, Walhi sudah sering mengingatkan bahwa Kalsel dalam kondisi darurat ruang dan darurat bencana ekologis. Kalsel dengan luas 3,7 juta Ha, ada 13 Kab/Kota 50 % lahan yang sudah dibebani izin tambang 33 % dan perkebunan kelapa sawit 17 %, belum HTI dan HPH.

“Selain carut marut tata kelola lingkungan dan SDA, rusaknya daya tamping dan daya dukung lingkungan, termasuk tutupan lahan dan DAS. Banjir kali ini juga sudah bisa diprediksi terkait cuaca oleh BMKG. Dan pemerintah lagi-lagi tidak siap dan masih gagap,” tegasnya.

Terkait hal tersebut, Cak Kis mendesak agar pemerintah, baik Presiden, Gubernur, Bupati dan Wali Kota untuk segera turun tangan dan segera bertindak. Menetapkan status darurat dan benar-benar serius dan tidak gagap dalam penanganannya.

“Selain kerugian harta benda petani juga mengalami kerugian. Misalnya di Desa Sei Batang, Kecamatan Martapura Barat. Pada musim tanam tahun ini benih/bibit padi ikut terganggu bahkan terjual. Belum lagi daerah lain ikan tambak, ternak, dll. Pemerintah kedepan harus menyiapkan bibit gratis, agar musim tanam tidak terganggu,” terangnya.

Menyikapi hal tersebut, Walhi Kalsel mendesak Presiden dan Pemerintah untuk melakukan beberapa langkah strategis sebelum kerusakan lingkungan semakin parah. Dimulai dengan langkah tanggap bencana (sebelum, pada saat dan pasca bencana/pemulihan), lalu melakukan review dan audit seluruh perizinan industri ekstraktif.

Walhi juga mendesak penyetopan izin baru tambang, penegakan hukum terutama terhadap perusak lingkungan, perbaikan/pemulihan kerusakan Lingkungan termasuk sungai, dan dainase/DAS. “Tak kalah penting adalah review RTRW, serta RPJM dan APBD/N yang pro tehadap keselamatan rakyat dan lingkungan serta mampu menghilangkan bencana ekologis,” tambahnya.

Disebutkan sebelumnya, banjir nyaris melumpuhkan wilayah di Kalsel. Banjir yang melanda Kalimantan Selatan hingga Minggu (18/1/2021) meluas. Jika sebelumnya tersebar di 10 kabupaten/kota, kini bertambah menjadi 11, menyusul Kabupaten HSU yang kini juga terendam.

Ketinggian banjir berkisar antara 1 hingga 2 meter. Dan yang paling parah masih terjadi di Kabupaten Banjar dan Tanahlaut. Berdasar data yang dipablis Kominfo Kalsel, Senin (18/1/2021), hanya Kabupaten Kotabaru, Tanahbumbu dan yang tidak terdampak banjir.

Berdasar data yang dirilis Kominfo Kalsel di laman facebooknya, Diskominfo Mckalsel, itu, yang terdampak di Kabupaten Banjar Kabupaten Banjar 17.996 KK yang terdiri atas 72.994 jiwa. Sedangkan di Kabupaten HST 16.600 KK yang terdiri atas 64.400 jiwa.

Sementara untuk total rumah yang terendam semuanya berjumlah 47.742 buah.
Sementara menyikapi hal ini, dalam kunjungan ke Kalsel Jokowi yang juga turut didampingi kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo hari ini, Presiden melakukan peninjauan di sejumlah titik-titik lokasi terdampak banjir. Termasuk juga melihat secara langsung posko evakuasi terbesar di Kabupaten Banjar yakni dipusatkan di Stadion Demang Lehman.

Presiden juga menginstruksikan perbaikan infrastruktur, pemenuhan kebutuhan logistik, serta evakuasi terhadap korban banjir dengan segera. (Kanalkalimantan.com/andy)

 

Reporter : Andy
Editor : Cell

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

HEADLINE

Nominal Akuisisi Martapura FC Tak Disebut, Slot Pemain Banua Tak Ada Lagi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ketum MFC Hilman: Realistis di Tengah Pandemi dan Ketidakjelasan Kompetisi


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ketua Umum (Ketum) Martapura FC HM Hilman. Foto: bie
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Kesulitan pendanaan ‘menghidupi’ klub di tengah kompetisi yang serba tidak jelas mengharuskan manajemen Martapura FC menjual klub ke pemilik baru.

Ya, dalam setahun terakhir diketahui Martapura FC yang sudah berumur 12 tahun (2009-2021) harus ‘disuntik’ mati pihak manajemen. Ngos-ngosan di tengah ketidakpastian kompetisi sepak bola Indonesia yang dipukul pandemi Covid-19.

Ketua Umum (Ketum) Martapura FC HM Hilman kepada Kanalkalimantan.com, ditemui Rabu (24/2/2021) siang, mengakui memang manajeman klub sudah tidak mampu lagi menghidupi klub, sehingga ada proses akuisisi kepemilikan kepada manajemen baru.

“Walaupun akuisisi atau proses pengalihannya masih belum dilaksanakan, harapannya cepat dilakukan” aku Hilman.



Ditanya berapa nominal penjualan Martapura FC akuisisi ke pemilik baru -ganti nama menjadi Dewa United-, Ketua Umum Martapura FC tidak menyebutkannya. “Itu off the record,” katanya.

Pihak manajemen klub Martapura FC memastikan semua kontrak pemain maupun pelatih selama proses akuisisi terjadi dipastikan akan diselesaikan sepenuhnya. “Jadi ibaratnya tidak ada lagi utang gaji pemain dan yang lainnya. Karena semua yang ada di klub berdasarkan kontrak-kontrak kerja, dan sepenuhnya kita penuhi,” beber Hilman.

Pertimbangan yang mendasari kenapa Martapura FC harus diakuisisi, pertama tujuan dibentuknya klub sebagai wadah pemain sepak bola lokal atau pemain Banua berlaga di liga profesional, kekinian skuad Laskar Sultan Adam asli pemain lokal sudah sangat terbatas, bahkan terakhir tidak ada lagi pemain daerah Banua.

“Bisa diamati musim-musim terakhir, tidak ada lagi pemain lokal Banua, atau pemain daerah yang masuk skuad,” kata Hilman.

“Pemain Banua, lokal daerah hampir tidak ada lagi, karena dianggap tidak kompetitif bersaing pada saat kompetisi,” akunya.

Yang kedua dari industri sepak bola Indonesia, sudah tidak kondusif lagi. Dengan kondisi keuangan itulah, manajemn tidak bisa lagi bertahan di musim ini. Juga dampak dari pandemi corona di Indonesia yang memukul industri sepak bola Tanah Air.

“Perkembangan industri sepakbola, tidak kondusif lagi, dengan demikian kondisi keuangan finansial klub tidak memungkinkan lagi berlaga dalam kompetisi,” kata Hilman.

Sekadar diketahui, tahun 2020 lalu Martapura FC sempat melakukan persiapan berlaga dalam kompetisi, bahkan sempat bertanding sekali, sebelum kompetisi tahun 2020 dihentikan.

Nah, selama persiapan kompetisi yang tidak jelas manajemen terus mengeluarkan dana yang tidak sedikit.

 

Tahun 2021 ini, jadwal kompetisi semakin tidak jelas, terkait persiapan tim hingga industri sepak bola yang tidak jalan. Bahkan kabarnya pertandingan juga tidak lagi home away, seperti biasa kompetisi berlangsung.

“Kondisi normal saja kita sudah tidak support, bahkan rugi, karena salah satu pendukung bagaimana klub itu hidup adalah pertandingan home and away,” jelasnya.

“Itu hitungan realistisnya, jadi kita tidak mungkin lagi bertahan, itu pertimbangan kenapa Martapura FC kita lepas,” pungkasnya. (kanalkalimantan.com/bie)

 

Reporter : Bie
Editor : Kk

 

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Pengaron Kembali Banjir, Tiga Desa Terendam

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Banjir kembali melanda tiga desa di Kecamatan Pengaron, Rabu (24/2/2021). Foto: polsek pengaron
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Curah hujan tinggi beberapa hari terakhir membuat jalan dan beberapa rumah warga di Kecamatan Pengaron kembali terendam banjir, Rabu (24/2/2021) siang. Beberapa warga langsung bersiaga mengungsikan barang-barang berhaga milik mereka ke tempat yang lebih aman.

Kapolsek Pengaron, Iptu Herry Bombay mengatakan, air kembali menggenangi 3 desa di Kecamatan Pengaron, dengan ketinggian air sekitar 50 centi meter. Tiga desa itu adalah Desa Pengaron, Lubang Baru, dan Lok Tunggul.

“Banjir tersebut diakibatkan meluapnya air sungai Riam Kiwa pada pukul 13.30 Wita,” ungkapnya.

 



Dia juga mengungkapkan, pada banjir kali ini warga lebih waspada dan mengamankan barang berharga ke tempat yang lebih aman.
“Bebeapa warga sudah mengamankan barang barang berharga milik mereka ke tempat yang lebih aman, termasuk para pedagang di pasar Pengaron,” bebernya.

Air berwarna kuning yang kembali menggenangi permukiman warga di tiga desa tersebut disebabkan oleh curah hujan tinggi dalam tiga hari terakhir.

“Memang hujan kemarin cukup deras, namun di daerah gunung kabarnya tidak terlalu deras,” ucapnya.

Mengantisipasi terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap barang-barang milik warga petugas kepolisian melakukan patroli.
“Kita juga melakukan patroli guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan pada saat banjir ini, ke tempat tempat warga mengungsikan barang-barangnya,” tutupnya. (kanalkalimantan.com/wahyu)

 

Reporter : Wahyu
Editor : Bie

 

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->