Budaya
Sakralitas Tari Topeng Banjar dan Garapan Baru di Luar Pakem Klasik
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Topeng Banjar merupakan salah satu warisan budaya klasik yang disakralkan oleh masyarakat Kalimantan Selatan (Kalsel), khususnya di wilayah Barikin, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Namun, sifatnya yang sakral dan terbatas hanya pada lingkungan tertentu menimbulkan kekhawatiran akan keberlangsungan dan regenerasi kesenian tradisional tersebut di masa mendatang.
Kekhawatiran itu mendorong seniman tari Kalsel, Lupi Anderiani, untuk menciptakan karya baru berupa Tari Topeng Srikandi. Karya tersebut dikembangkan di luar pakem klasik Topeng Panji yang selama ini disakralkan masyarakat Banua, dengan mengadaptasi tokoh Srikandi dari kisah Mahabharata.
Baca juga: 53 Kesebelasan Ikuti Turnamen Sepak Bola di Awang Bangkal Barat

Akademisi dan pegiat seni mendorong pengembangan karya dan riset yang lebih mendalam mengenai Topeng Banjar. Foto: mckalsel
Menurut Lupi, Topeng Banjar klasik yang berkembang di Barikin memiliki aturan adat yang ketat. Pewarisan tari klasik itu hanya dilakukan kepada keturunan tertentu dan pertunjukan umumnya digelar dalam rangkaian upacara adat, ritual tolak bala, maupun pengobatan tradisional.
“Topeng Banjar di Barikin memiliki pakem Panji yang sangat disakralkan oleh masyarakat setempat. Regenerasinya cukup rumit, karena hanya diturunkan kepada juriat atau keturunan. Selain itu, pertunjukannya juga terbatas pada kegiatan adat dan ritual tertentu,” ujarnya dalam Sarasehan Tari Topeng Srikandi di Gedung Balairung Sari, Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, Sabtu (20/6/2026) malam.
Kondisi tersebut memunculkan kegelisahan dalam dirinya mengenai masa depan Topeng Banjar apabila tidak ada upaya pengenalan yang lebih luas kepada masyarakat.
Apabila kesenian tersebut hanya dipentaskan dalam ruang-ruang adat yang terbatas, maka keberadaannya berisiko semakin kurang dikenal dan berpotensi mengalami kepunahan. Berangkat dari kegelisahan itu, Lupi kemudian mengembangkan topeng garapan baru dengan mengambil tokoh Srikandi dari pakem Mahabharata.
Menurutnya, dalam tradisi Mahabharata terdapat ruang kreativitas yang lebih terbuka melalui konsep “Pancar”, yakni pengembangan cerita tanpa mengubah tokoh utama yang sudah ada.
Sebelum melahirkan karya tersebut, Lupi mengaku melakukan riset dan pendekatan kepada sejumlah tokoh adat sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi yang berlaku. Lupi memperoleh restu dari almarhum Dalang Dimansyah, salah satu maestro dalang Banjar sekaligus tokoh adat keturunan pewaris tradisi.
“Pertama kami melakukan pendekatan kepada tokoh adat dan meminta pendapat apakah memungkinkan membuat topeng baru di luar pakem Panji. Salah satu yang memberikan izin adalah almarhum Dalang Dimansyah,” kenangnya.
Dalam proses penciptaannya, Lupi mengungkapkan, visualisasi tokoh Srikandi dalam bentuk Topeng Banjar belum pernah ada sebelumnya. Karena itu, ia menggunakan tokoh Srikandi dalam Wayang Kulit Banjar sebagai referensi utama dalam merancang bentuk wajah topeng.
Meski demikian, dia menilai karya tersebut masih dalam tahap penyempurnaan dan tetap terbuka terhadap berbagai masukan dari para dalang maupun pelaku seni lainnya.
Melalui kehadiran Topeng Srikandi, Lupi berharap Topeng Banjar dapat terus dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang tanpa mengurangi nilai kesakralan Topeng Panji yang tetap dijaga oleh masyarakat adat.
“Tujuan kami bukan mengubah atau mencederai tradisi yang ada, tetapi mencari ruang agar Topeng Banjar tetap hidup, dikenal, dan berkembang di tengah masyarakat luas,” katanya.
Sementara itu, Akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Setia Budhi, menilai pelestarian Topeng Banjar memerlukan keterlibatan aktif kalangan akademisi melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan penerbitan literatur ilmiah.
Baca juga: Edukasi Bahaya Narkoba ke Paguyuban Kesenian Kuda Lumping

Menurutnya, dokumentasi yang lebih banyak akan membantu menjadikan Topeng Banjar tidak hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai objek kajian ilmu pengetahuan.
“Dari sisi akademisi, perlu diperbanyak penelitian, dokumentasi, dan pengabdian masyarakat agar Topeng Banjar tidak hanya dikenal sebagai bagian dari panggung pertunjukan, tetapi juga dapat dipelajari sebagai ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Dosen sosiologi FISIP ULM ini menambahkan, Kalimantan Selatan memiliki kekayaan budaya lokal yang sangat potensial untuk diteliti. Oleh karena itu, mahasiswa maupun dosen didorong untuk melakukan riset yang lebih mendalam mengenai Topeng Banjar.
Selain penelitian, Setia Budhi juga menekankan pentingnya penerbitan buku-buku referensi tentang Topeng Banjar. Menurutnya, hingga saat ini literatur yang secara khusus membahas Topeng Banjar masih sangat terbatas.
Keberadaan buku dan hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan akademik yang otentik sekaligus menjadi basis data bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan yang mendukung pelestarian budaya lokal secara berkelanjutan. (Kanalkalimantan.com/bie)
Editor: bie
-
Kota Banjarbaru1 hari yang laluTukar Posisi 7 Pejabat Eselon II Pemko Banjarbaru, 91 ASN Mutasi dan Promosi
-
HEADLINE2 hari yang laluBNPB Kerahkan Dua Pesawat Cessna Operasi Modifikasi Cuaca di Kalteng
-
Kabupaten Banjar2 hari yang laluPanen Padi di Beruntung Baru, Bupati Banjar Apresiasi Semangat Petani Meski Hadapi Tantangan Cuaca
-
HEADLINE2 hari yang lalu“BAPINTAR” Diskominfo Banjarbaru, Membaca Dinamika Publik dari Informasi Digital
-
Kota Banjarbaru2 hari yang laluBanjarbaru Siaga Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan
-
HEADLINE21 jam yang laluSuhu Udara Kalsel Bisa Sentuh 23 hingga 35 Derajat Celsius


