Connect with us

HEADLINE

Tinggal Menumpang, Hidup Pas-pasan, Aidil Terbaring Lemah di Atas Dipan

Diterbitkan

pada

Lemah tak berdaya, Aidil hanya bisa dibantu sang ibu di rumah bedakan tumpangan di Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru. Foto : devi

Ibu Isna (60) seorang diri memandang penuh kasih sayang dan iba melihat Aidil (30) hanya bisa berbaring di atas dipan kayu usang sepanjang harinya.

Tanpa bantuan sang ibu, Aidil hanya berbaring tanpa bisa banyak bergerak. Sudah beberapa minggu ini Aidil tak lagi bisa bekerja sebagai karyawan tempat cuci pakaian alias laundry. Karena sakit yang diderita membuat ia harus memutuskan untuk mengundurkan diri dari kerja. Tak tahu penyakit apa yang ia derita, karena keterbatasan ekonomi Aidil tak bisa memeriksakan kesehatan di rumah sakit maupun Puskesmas terdekat.

Hanya menduga-duga saja Aidil kena liver, namun tetap pemeriksaan di rumah sakit yang dibutuhkan untuk mengetahui penyakit apa yang diderita Aidil. Sempat mendapatkan bantuan dari tetangga untuk berobat ke mantri namun setelah obat habis aidil tak bisa melanjutkan pengobatan karena biaya dan perkembangan kesehatan yang tak kunjung membaik.

“Kalau tidak salah 2 atau 3 hari lalu berobat sama mantri dan dikasih infus sampai dua botol, dan beberapa obat. Tapi pas sudah habis tidak dilanjutkan. Kami gak punya uang,” ujar ibu Isna, warga Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru kepada Kanal Kalimantan.



Aidil pun hanya bisa mengkonsumasi bubur karena tak sanggup mengunyah makanan itu pun dalam porsi yang sangat sedikit. Sisanya cuma minum air putih atau teh disertai roti kemasan yang sering di jual di warung. Kebanyakan air putih yang diberikan sang pada aidil karena tak banyak pilihan tersedia.

Di kamar berukuran kurang lebih 4×3 meter, ibu dan anak ini menghabiskan waktu sepanjang hari. Hanya ditemani satu buah lampu tanpa ventilasi dan kipas angin kamar makin membuat terasa pengap dan tidak sehat sama sekali untuk orang sakit. Belum lagi aroma yang terperangkap di sana membuat nafas sedikit terganggu. Ya, untuk urusan buang air kecil dan besar saja Aidil harus merangkak dari tempat tidur menuju kamar mandi yang berjarak kurang lebih 7 meter dari kamarnya. Tak jarang Aidil harus “kelepasan” buang air di dekat tempat tidurnya. Sang ibu, tak mampu berada disisi Aidil full 24 jam karena harus bekerja di rumah sang pemilik bedakan.

Menurut pengakuan sang ibu, Aidil seperti ini baru beberapa minggu saja. Namun karena semangat kerja Aidil terus memaksakan diri bekerja sampai akhirnya dia tak mampu lagi bergerak, bahkan untuk bicara saja sangat sulit bagi Aidil. Dia lebih memilih memaksakan tubuh untuk bekerja keras hingga tak sanggup lagi seperti saat ini, Aidil terbaring lemah tak berdaya.



“Inya aja nang ulun harapkan, sampai kada ingat wan diri inya bergawi gasan kuitan (Cuma dia yang bisa saya harapkan. Sampai lupa sama diri sendiri dia bekerja untuk orang tua,)” ujar sang ibu.

Ibu Isna yang keseharian menjadi asisten rumah tangga ini memang tak memiliki rumah sendiri. Selama ini mereka hanya menumpang di rumah orang lain, ibu Isna dulunya tinggal di Sukamara Landasan Ulin Utara. Namun karena tempat tinggal mereka jauh, sekarang pindah ke Landasan Ulin Barat, menumpang di bedakan kosong milik tetangga yang dengan suka rela tak dibayar mempersilahkan ibu Isna dan Aidil untuk tinggal. Makan dan keperluan lainnya pun ditanggung sang pemilik bedakan Amelia Mirnawati.

Melihat kesusahan dan semangat ibu Isna dalam berkerja untuk keperluan rumah tangga, pemilik bedakan mempersilahkan ibu Isna membantu Amelia di rumah untuk urusan urusan rumah tangga, seperti mencuci pakaian. Untuk makan dan keperluan lainnya sebisa mungkin dibantu oleh Amelia.

“Paling kalua ada rejeki saya ngasih 30 ribu untuk ibu Isna. Sekedar beli keperluan beliau yang lain. Untuk makan ya seadanya saja, kami sama-sama makan,” ujar Amelia.

Sementara itu, Ketua RT 11 RW 03 Rahman Landasan Ulin Barat, saat mendapatkan laporan tentang ada warganya yang sakit membenarkan perihal tersebut, namub beliau tak mampu berbuat banyak karena Kartu Keluarga (KK) dari ibu Isna masih sendiri terdaftar di wilayah Landasan Ulin Utara.

“Paling tidak saya akan membantu koordinasi dengan RT di sana, supaya bisa mengurus kepeluan ibu Isna. Biar si ibu gak perlu bolak balik. Kasian pasti nanti perlu dana transport,” ujar Ketua RT 11 Rahman. (devi)

Reporter : Devi
Editor : Abi Zarrin Al Ghifari


iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->