Connect with us

WARGA +62

Tiga Prank ‘Sukses’ Kibuli Satu Negara, dari Blue Energy Era SBY, Ratna Sarumpaet hingga Akidi Tio

Diterbitkan

pada

Hotman Paris terkesan dengan kedermawanan keluarga Akidi Tio. Foto: Instagram/@hotmanparisofficial
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Tiba-tiba saja kata ‘Prank’ menjadi trending di Twitter. Prank atau lelucon ini dicuitkan lebih dari 50 ribu kali sejak terkuaknya kasus penipuan bantuan dari Heriyanti sebesar Rp 2 triliun untuk penanganan Covid-19.

Dana bantuan itu disebut-sebut berasal dari seorang pengusaha asal Aceh yang low profile bernama Akido Tio di Sumatera Selatan. Ternyata, sampai dana bantuan tidak kuncung cair alias penipuan. Kasus ini sendiri sekarang sudah ditangani kepolisian setempat.

Kasus sumbangan Rp 2 triliun dari anak Akidi Tio ini tentu saja menggegerkan satu negara. Kasus ‘prank’ ini mengingatkan pada kasus-kasus penipuan yang menggegerkan negara ini dan melibatkan elite-elite negara.

Sebenarnya bukan cuma kali ini saja para elite tersebut tertipu. Sebelumnya ada banyak kasus serupa, namun SuaraJatim hanya merangkum tiga kasus saja yang betul-betul menggerkan satu negara. Apa saja kasus itu?



 

 

Baca juga: 8 Fakta Sumbangan Palsu Rp 2 Triliun Keluarga Akidi Tio, Satu Negara Kena Prank

1. Blue Energi masa Pemerintahan Presiden SBY

Seorang pria asal Nganjuk Jawa Timur Joko Supratpto, mengumumkan penemuan bahan bakar ‘Blue Energy’ yang terbuat dari air pada 2007 di masa pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Temuan Joko itu seolah menjadi oase sebab tepat saat harga BBM sedang naik tinggi-tingginya. Presiden SBY waktu itu sempat mengundang Joko ke kediamanannya di Puri Cikeas untuk menjelaskan Blue Energy.

Bahkan sebuah tim yang dipimpin Heru Lelono, selaku staf Khusus Presiden SBY menindaklanjuti dengan membangun infrastruktur produksi yang dibangun di Cikeas, Bogor dengan kapasitas produksi 10 liter perdetik.

Belakangan terkuak sebab ternyata ‘Blue Energy’ ternyata palsu belaka. Warga satu negara dibuat geger waktu itu. Bahkan para ahli dan profesor gempar menyerang pemerintah.

“Ini hal yang memalukan, karena presiden kita lebih mempercayai hal-hal seperti ini dan tidak pernah memanfaatkan lembaga keilmuan seperti LIPI, BPPT dan Perguruan Tinggi yang bisa diadu pengetahuannya,” kata Pakar Elektro Universitas Gajah Mada (UGM) Tumiran.

2. Kasus ‘Prank’ Ratna Sarumpaet

Kasus kedua ini tak kalah heboh. Peristiwa ‘prank’ yang dilakukan Ratna Sarumpaet ini terjadi di tengah tensi politik sedang panas-panasnya jelang Pilpres 2019.

Peristiwa sendiri terjadi pada 2018. Ceritanya, tiba-tiba saja beredar sebuah foto-foto dimana wajah Ratna Sarumpaet lebam-lebam dan bengkak. Narasi awal disebutkan kalau Ratna habis dipukuli orang alias menjadi korban penganiayaan.

Ratna pada waktu itu merupakan pendukung Prabowo Subianto. Kasus ini segera direspons oleh para politikus pendukung Prabowo. Salah satunya Rachel Maryam. Melalui akun twitternya di @cumarachel, Ia membenarkan kabar penganiayaan yang diterima oleh aktivis dan seniman teater itu.

“Berita tidak keluar karena permintaan bunda @Ratnaspaet pribadi, beliau ketakutan dan trauma. Mohon doa,” tulis Rachel pada 2 Oktober 2018.

Tak hanya Rachel, kabar penganiayaan tersebut juga dibenarkan oleh Juru Bicara Tim Prabowo-Sandiaga Dahnil Anzar Simanjuntak. Dalam pernyataannya, Dahnil mengatakan Ratna dikeroyok oleh orang tak dikenal dan dimasukkan ke dalam mobil.

Belakangan terbongkar. Ternyata Ratna Sarumpaet mengalami bengkak di wajah gara-gara habis operasi plastik. Jadilah para elite dan sebagian besar masyarakat yang percara kena prank.

Baca juga: BREAKING NEWS. PPKM Level 4 di Kota Banjarbaru Diperpanjang 9 Agustus

3. Kasus sumbangan Rp 2 Triliun Akidi Tio

Ini kasus terbaru. Penipuan ini terjadi di tengah pemerintah fokus menangani pagebluk Covid-19. Seorang perempuan bernama Heriyanti, mengaku sebagai anak dari almarhum pengusaha China, Akidi Tio, menyumbangkan dana Rp 2 triliun untuk penanganan Covid-19.

Kapolda Sumsel dan Gubernurnya sempat foto-foto dengan Heriyanti. Lucunya, sampai masa akhir pencairan ternyata dana tersebut tidak cair-cair. Lalu terbongkarlah, ternyata sumbangan tersebut palsu. (Suara.com)

Editor: suara


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->