Connect with us

Misbach Tamrin

Sosok Dibalik Rancang Bangun Gerbang Selamat Datang Banjarmasin

Diterbitkan

pada

Gerbang Selamat Datang di perempatan Jalan Pangeran Antasari Banjarmasin masih berdiri kokoh sejak dibangun tahun 1985. Foto: rendy tisna

Sedikit orang yang tahu siapa perancang dan pembuat Gerbang Selamat Datang di perempatan Jalan Pangeran Antasari Banjarmasin. Dibalik semua itu, tersimpan kisah yang janganlah sampai terlupakan

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Matahari medio April 2024 sekitar pukul 15.45 Wita, masih terasa sangat terik, Misbach Tamrin tak banyak bicara setibanya di perempatan Jalan Pangeran Antasari, Kota Banjarmasin. Dia memandangi Gerbang Selamat Datang yang dibuatnya pada tahun 1985 itu. Gerbang dicat beragam warna, ada krem, coklat, hitam, dan kuning emas.

“Warna aslinya beda, dulu, abu-abu sedikit putih saja, tapi bagus,” dia memberitahu.

Memperhatikan struktur pilar sebelah selatan, terpampang bentuk Rumah Banjar dengan tinggi sekitar 14 meter, lengkap dengan jamangnya yang khas. Memperhatikan struktur pilar sebelah utara, ada hiasan serupa perahu dan tiga alu besar. Di belakang masing-masing bangunan, terdapat relief memanjang yang menggambarkan kehidupan sosial budaya masyarakat Banjar.

Misbach Tamrin, perancang sekaligus tukang yang membangun Gerbang Selamat Datang di Jalan Pangeran Antasari Banjarmasin. Foto: Rendy Tisna

Misbach, ingat betul dibalik kisah pembuatan gerbang yang kokoh berdiri di Kecamatan Banjarmasin Tengah itu. Mulanya, Kolonel M Effendi Ritonga, Wali Kota Madya KDH Tk II Banjarmasin menjabat pada 1984 hingga 1989, meminta Letnan Kolonel Sugito, yang baru saja diangkat sebagai Kepala Pasar Antasari untuk mencari orang yang mampu dan ahli dalam mendesain dan membangun gerbang.

Singkatnya, Sugito merekomendasikan nama Misbach Tamrin, seorang mantan tahanan politik yang pernah ditanganinya saat menjadi pimpinan penjaga penjara, di Liang Anggang pada awal 1970-an. Dia tahu betul, si seniman yang dalam perjalanan karirnya itu tidak hanya pandai membuat lukisan di atas kanvas, tetapi juga mahir membuat monumen, tugu, gapura kota, patung, relief, dan diorama.

Apalagi Misbach dulunya alumni Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) bagian dari Universitas Gadjah Mada (UGM), sekarang menjelma menjadi Institut Seni Indonesia Yogyakarta atau lebih dikenal dengan sebutan ISI Jogja.

Relief di Gerbang Selamat Datang Banjarmasin masih terlihat cukup baik. Foto: Rendy Tisna

Usulan Sugito disetujui Ritonga. Misbach, diintruksikan sebagai pendesain sekaligus tukang bangunan, pembuatan proyek yang memakan waktu tiga bulan itu. Dibantu sekitar 20 orang pekerja, 14 tenaga biasa, enam diantaranya seperti Arifin, Amin, dan Usuf -tahanan politik sewaktu di Liang Anggang-.

“Sugito yang pernah menjadi komandan kamp tahanan politik kami di Liang Anggang ingat, tokoh-tokoh yang sudah bebas. Para tenaga ahli murah, termaksud aku,” cerita Misbach yang kala itu diupah harian seadanya.

Sudah dibayar murah, proyek singkat daerah yang kedua dikerjakan Misbach itu juga makan hati. Bagaimana tidak, dikala mereka banyak dikecam oleh kalangan seniman di Banjarmasin yang terprovokasi dan mengira bahwa Misbach bersama kawan-kawan mendapatkan banyak keuntungan dan gelontoran dana.

Para seniman mempertanyakan sikap pemerintah kota secara terbuka melalui media lokal yang cukup terkenal pada saat itu. Kontroversi membesar ketika rancang bangun sebuah monumen dipercayakan kepada Misbach yang dituding menampilkan pandangan politik kiri -tuduhan tak berdasar- dalam perancangan yang dianggap mencerminkan cita-cita negara berideologi komunisme.

“Ini dihantam oleh almarhum Ajim Ariady melalui Banjarmasin Post. Artinya mengapa orang seperti Tamrin, yang Lekra, PKI itu, masih ditunjuk untuk membangun ini, itu tidak dibenarkan,” tuturnya, menggambarkan situasi politik yang kian memanas.

Guna meredam masalah yang membesar, pemerintah kota mengangkat Budi Santoso, seorang pelukis dan guru seni rupa di SMA Negeri 3 Banjarmasin untuk mendampingi dan mengontrol pekerjaan yang dibuat Misbach Tamrin dan kawan-kawan, dengan tujuan agar pembuatan tidak melenceng, seperti yang dituduhkan.

Budi Santoso, bukan orang sembarangan di bidang seni rupa. Namanya, pernah masuk dalam daftar inventaris sejarah seni rupa Indonesia. Dia ikut terlibat dalam pembuatan diorama Monumen Nasional (Monas), Patung Jenderal Achmad Yani di Jakarta. Monumen Pahlawan di Surabaya, Monumen Pattimura di Ambon, Monumen Trikora di Irian Jaya, juga Ketua Keluarga Seni Rupawan Kalimantan.

“Ternyata keterlibatan Budi Santoso ini dihantam juga oleh mereka itu, karena diduga dapat duit banyak juga dari Wali Kota Ritonga,” papar Misbach sambil tertawa, menceritakan kejadian saat itu.

Budi menghadapi kritikan yang membuatnya benar-benar dilema. Di satu sisi, dia harus menjelaskan keterlibatannya kepada para seniman di Kalimantan Selatan. Di sisi lain, dia dianggap bersekongkol karena dulunya pernah menjadi adik tingkat dan alumni ASRI di Yogyakarta, sama seperti Misbach Tamrin. Walaupun saat itu, pada kenyatannya mereka belum saling kenal.

Baik Misbach maupun Budi bekerja di bawah tekanan. Budi sempat sakit, tetapi gerbang akhirnya selesai dikerjakan. Pada akhirnya, mereka berdua menjadi sahabat.

Hingga kini gerbang menuju pusat Kota Banjarmasin tersebut masih berdiri dengan megah dan indah, meski dirimbuni tanaman yang tanpa diperhitungkan menutupi bagian bawah bangunan, termasuk relief-reliefnya (Gambar timbul, red).

Sedikit orang yang tahu siapa perancang dan pembuat Gerbang Selamat Datang di perempatan Jalan Pangeran Antasari Banjarmasin. Dibalik semua itu, tersimpan kisah yang janganlah sampai terlupakan. (Kanalkalimantan.com/rendy tisna)

Reporter: rendy tisna
Editor : bie


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->