Kabupaten Banjar
Sosialisasikan PRIMS sebagai Wahana Melihat Kondisi Gambut
MARTAPURA, Kendati kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Selatan sudah lewat dengan datangnya musim hujan, tentu dampak peristiwa tersebut sangat signifikan. Apalagi, karhutla di Kalsel didominasi oleh terbakarnya lahan gambut.
Berdasarkan data PRIMS (Pranata Informasi) Restorasi Ekosistem Gambut yang dikembangkan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG), menyajikan kondisi terbaru lahan gambut di Kalsel dengan menggunakan citra satelit. Tentunya, menurut Budi Wardana, Deputi Perencanaan dan Kerjasama BRG mengatakan, PRIMS dapat diakses oleh masyarakat luas.
“Restorasi saja tidak cukup, karena pengelolaan yang berkelanjutan pada lahan gambut terus didorong dan kita terus memonitor dari waktu ke waktu apakah gambut terus dimanfaatkan atau terus terjadi kerusakan-kerusakan,†kata Budi usai Workshop “PRIMS untuk Berita dan Riset yang Akurat lagi Kaya Data†di Aston Banua Hotel, Gambut, Kabupaten Banjar, Senin (9/12) siang.
PRIMS sendiri, dapat menjadi wahana untuk berbagi soal kondisi lahan gambut di 7 provinsi prioritas di mana Kalimantan Selatan termasuk di antaranya. “Kelebihan dari PRIMS ini data tidak tersebar-sebar. Biasanya kalau mau melihat hotspot atau indikator kerusakan, di sini kami mencoba menarik semua informasi menjadi satu platform. Lebih mudah untuk menumpangtindihkan layer kondisi gambut, implementasi restorasi gambut dan kondisinya,†jelas Budi.
Data kondisi gambut sendiri, dapat diupdate selama 3 jam sekali dalam sehari. Proses filtering terjadi secara otomatis kendati tetap memakan waktu. Karena, menggunakan server yang berbeda.
Budi berharap, kepada pemerintah untuk dapat melihat ketimpangan antara kerusakan dan implementasi restorasi dapat terlihat. Dirinya menekankan, restorasi gambut bukan hanya kewenangan BRG saja. “Karena kami tugasnya memfasilitasi dan salah satunya PRIMS agar instansi pemerintahan bisa menanfaatkan basis data yang sama,†tambahnya.
Contohnya, jika menemukan tinggi muka air suatu lahan gambut menuju titik yang mengkhawatirkan, yakni di bawah 0,4 meter dan tidak ada curah hujan, tempat tersebut bisa dijadikan patroli oleh pemerintah daerah,†katanya.
Kendati demikian, Budi menekankan, dalam hal penanggulangan karhutla yang berdampak pada lahan gambut di Kalsel, mencegah lebih baik daripada menanggulangi. “Lebih baik mencegah, patrol awal meskipun tidak ada titik api. Kalau sudah ada titik api berarti apinya sudah muncul di lokasi,†tegasnya. (fikri)
Editor : Chell
-
PUPR PROV KALSEL2 hari yang laluPemprov Kalsel Benahi Fasilitas Olahraga di Stadion 17 Mei
-
Kota Samarinda3 hari yang laluLelaki Mabuk Bakar Rumah di Samarinda Nyaris Tewas Diamuk Massa
-
kampus1 hari yang laluWorkshop Jurnalis Mahasiswa Pendidikan Sosiologi ULM
-
Kalimantan Selatan2 hari yang laluTarget Pertumbuhan 5 Persen Kunjungan Wisatawan di Kalsel
-
HEADLINE2 hari yang laluPabrik Kelapa Sawit Beli Murah dari Petani Bakal Dicabut Izinnya
-
RELIGI3 hari yang laluManiah Asal Kotawaringin Barat Wafat di Tenda Arafah

