Connect with us

kampus

Workshop Jurnalis Mahasiswa Pendidikan Sosiologi ULM

Diterbitkan

pada

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi ULM tampak mengantre untuk mengajukan pertanyaan kepada Jurnalis, Rendy Tisna dalam Workshop Jurnalis Mahasiswa, Kamis (7/5/2026) siang. Foto: dok.Pendidikan Sosilologi FKIP ULM

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Empat belas mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin bergantian melayangkan pertanyaan kepada Rendy Tisna, jurnalis yang menjadi pemateri dalam Workshop Jurnalis Mahasiswa, pada Kamis (7/5/2026).

Hal itu menggambarkan betapa antusias mahasiswa yang ingin mengenal seluk beluk profesi jurnalis secara mendalam.

Sri Rahma, mahasiswi Pendidikan Sosiologi ULM Angkatan 2024 menilai pembawaan materi yang menarik dari Rendy Tisna menyulut keaktifan mahasiswa dalam berdiskusi lebih lanjut.

Baca juga: Penyaluran TKD di Kalsel per 30 April Capai Rp6,68 Triliun

“Kami tertarik ingin mengetahui lebih detil tentang pembahasan mengenai jurnalis yang sudah disampaikan bang Rendy,” ujar Rahma ke Kanalkalimantan.com.

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi ULM, Sri Rahma. Foto: dok.pribadi

Rahma tak bisa menyembunyikan ketertarikannya terhadap Jurnalistik. Dia sangat penasaran mengapa Rendy Tisna mampu bertahan dalam pekerjaannya, walau diketahui gaji jurnalis sangat sedikit, sementara risiko di lapangan sangat tinggi.

Jurnalis Mongabay Indonesia itu menjawab gaji jurnalis memang sedikit kalau tidak tahu cara kerjanya. Jika ditekuni, gaji profesi ini ini akan bertambah seiring berjalannya waktu dibarengi rutin mengikuti pelatihan serta mencari informasi beasiswa liputan.

Baca juga: Pabrik Kelapa Sawit Beli Murah dari Petani Bakal Dicabut Izinnya

“Jurnalis itu melayani mereka yang terpinggirkan, loyalitas utama jurnalis hanyalah kepada warga,” begitulah kalimat yang diucapkan Rendy Tisna dan amat membekas di ingatan Rahma.

Dia jadi paham bahwa jurnalistik harus dijalankan dengan kejujuran agar tercipta kepercayaan dari masyarakat.

“Jawaban bang Rendy membuat saya sadar bahwa kalau bukan kita atau para jurnalis yang peduli keadaan masyarakat, maka siapa lagi,” ungkap mahasiswi 20 tahun itu.

Sebagai warga Desa Pal Batu, Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Rahma mengakui keadilan di Indonesia belum sepenuhnya merata. Terutama masyarakat terpencil yang jauh dari pusat kota, suara-suara mereka acapkali tidak terdengar sampai ke luar.

Baca juga: Realisasi Belanja Negara di Kalsel Triwulan II Capai Rp9,50 Triliun

“Saya sendiri adalah mahasiswi yang berasal dari desa, saya tahu persis bagaimana keluh kesah masyarakat tidak didengar aspirasinya,” kata mahasiswi yang gemar menulis puisi itu.

Sayangnya, membangun sebuah keadilan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Maka dari itu, jangan heran apabila keadilan tidak berjalan sesuai harapan.

Jurnalis Mongabay Indonesia, Rendy Tisna saat menjadi pemateri dalam Workshop Jurnalis Mahasiswa. Foto: Dok.Pendidikan Sosilologi FKIP ULM

Kembali ke Workshop Jurnalis Mahasiswa, Rahma sangat senang dapat mengikutinya karena banyaknya pengetahuan baru yang didapatkan-bukan hanya apa itu jurnalis, tapi bagaimana cerita di balik pekerja jurnalis.

Baca juga: Pemprov Kalsel Benahi Fasilitas Olahraga di Stadion 17 Mei

Setelah berpartisipasi dalam kegiatan, penyuka lagu Band Wali ini terpikir menjadi seorang jurnalis. Lantas, fokus kedepannya adalah belajar memahami kondisi lapangan dan menyaring informasi ketika melihat isu atau pemberitaan sebelum menggalinya lebih dalam.

“Saya ingin mencoba menulis kejadian yang saya temui dalam setiap harinya dan yang paling saya utamakan adalah kepedulian terhadap orang-orang di sekitar saya,” pungkas Rahma.

Sementara Ketua Pelaksana Workshop Jurnalis Mahasiswa, Nasrullah mengatakan, Workshop Jurnalis Mahasiswa bertujuan menambah pengetahuan dan kemampuan mahasiswa dalam dunia tulis menulis, khususnya yang berkaitan dengan Jurnalistik.

“Setidaknya ini sebagai pembanding ketika orang sekarang mudah menulis di media sosial, sementara dunia jurnalistik itu berbeda, karena ada kode etik yang harus dipatuhi,” ucap Nasrullah.

Baca juga: Target Pertumbuhan 5 Persen Kunjungan Wisatawan di Kalsel

Dia menambahkan, semua orang bisa menulis, tetapi tidak semua orang bisa memaparkan data layaknya seorang jurnalis. Mahasiswa dituntut berpikir kritis dan mengangkat isu-isu yang beredar di kalangan masyarakat-keberpihakan harus diletakkan di sisi masyarakat.

Kritis mahasiswa bisa melihat bagaimana kerja jurnalis dalam memberitakan kasus yang berdampak ke masyarakat kecil. Misalnya dampak pertambangan kepada masyarakat yang tinggal dekat area konsesi-kesenjangan kekuasaan sangat tampak di sini, sehingga mahasiswa harus berpihak ke orang yang tidak memiliki kekuatan (powerless).

“Kritis itu dengan melihat dan berempati kepada nasib masyarakat bawah,” ungkap Nasrullah.

Hal ini sejalan dengan latar belakang ilmu pendidikan sosiologi yang mengharuskan kepekaan terhadap situasi yang dirasakan masyarakat. Keberpihakan jurnalis kepada masyarakat yang suaranya nyaris tidak didengar penting diterapkan pada sosiologi sebagai penghubung kajian teoritis maupun empiris dalam ilmu sosial.

Baca juga: Kembali Raih Opini WTP, Pemkab Banjar Terima LHP atas LKPD 2025

“Saya berharap mahasiswa bisa mencintai dunia jurnalistik dan mempertajam kepekaannya dalam praktik jurnalistik. Semoga kegiatan ini jadi daya tarik mereka untuk menggeluti dunia jurnalistik,” terangnya.

Jurnalis yang dikeroyok belasan pertanyaan dari 14 mahasiswa Pendidikan Sosiologi ULM dalam Workshop Jurnalis Mahasiswa cukup membuktikan bahwa mereka serius mendalami tentang profesi jurnalis. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca