Connect with us

Pendidikan

Seminar Pra-Munas KAGAMA, Bahas Isu Ketenagakerjaan dan Revolusi Industri 4.0

Diterbitkan

pada

Seminar Pra-Munas KAGAMA yang kedua digelar Sabtu (7/9) di Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Kalimantan Timur. Foto: ist

BALIKPAPAN, Seminar Pra-Munas KAGAMA yang kedua akan digelar pada Sabtu (7/9) di Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Kalimantan Timur. Seminar kali ini bertajuk “Ketenagakerjaan dan Sumber Daya Manusia Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0”.

Seminar tersebut akan dihadiri Menteri Ketenagakerjaan RI Muhammad Hanif Dhakiri sebagai keynote speaker, dan empat pembicara masing-masing adalah: Sukamdi, dosen Fakultas Geografi UGM; Bambang Satrio Lelono, Dirjen Pembinaan, Pelatihan, dan Produktivitas, Kementerian Ketenagakerjaan; Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant CARE; dan Aji Erlangga Martawireja, Pengirim Pemagangan ke Jepang.

Seminar Nasional juga akan menghadirkan dua pembahas yaitu Diahhadi Setyonaluri dari Lembaga Demografi FEB UI dan Agustina Murbaningsih, Deputi Kemaritiman Sekretariat Kabinet.

Sekretaris Jenderal PP KAGAMA, AAGN Ari Dwipayana mengatakan Indonesia sedang memasuki periode “bonus demografi”, dimana 70% penduduk Indonesia akan berada pada usia kerja yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2025 – 2030. Bonus demografi ini adalah berkah dan modal pembangunan yang penting, namun di sisi lain akan menjadi bencana jika Indonesia gagal memperkuat SDM dan juga gagal menyediakan lapangan pekerjaan.

“Selain itu saat kita menghadapi tantangan persaingan ekonomi antar negara yg semakin sengit. Dalam persaingan itu kuncinya adalah kekuatan SDM. Itulah sebabnya reformasi sektor ketenagakerjaan dari hulu sampai hilir merupakan keharusan. Apalagi 51% tenaga kerja kita adalah lulusan SD,” ujar Ari.

Menurut Ari, tantangan ke depan tidak ringan. Apalagi memasuki era disrupsi teknologi yg membuat beberapa pekerjaan lama akan bisa hilang dan emerging job akan bermunculan. Karema itu dibutuhkan lompatan untuk menguasai emerging skill seperti artificial intelligent atau kecerdasan buatan, cloud computing atau komputasi awan, big data analytics atau analisis data berskala besar, dan internet of things.

“Seperti disampaikan Pak Jokowi, dunia tidak semata sedang berubah tetapi sedang terdisrupsi. Di era disrupsi ini kemapanan bisa runtuh ketidakmungkinan bisa terjadi. Jenis pekerjaan bisa berubah setiap saat, banyak jenis pekerjaan lama yang hilang. Tetapi juga makin banyak jenis pekerjaan baru yang bermunculan. Ada profesi yang hilang, tetapi juga ada profesi baru yang bermunculan,” terangnya.

Selain itu, tantangan di depan mata lainnya adalah memperkuat kualitas pekerja migran ke luar negeri sehingga bukan hanya menyumbangkan remiten tapi juga mengisi tenaga kerja dengan skill yang tinggi di pasar tenaga kerja global. Di saat bersama, masuknya tenaga kerja asing dari negara lain juga menjadi tantangan berbeda.

Pada akhir 2018, data Kementerian Ketenagakerjaan terkait Tenaga Kerja Asing (TKA) mencapai 95.335 pekerja, atau 0,04 persen dari total penduduk 268,829 juta jiwa. Ini angka yang amat rendah, namun kata Ari, mesti sering menimbulkan kegaduhan karena digunakan sebagai komoditi politik. Padahal jumlah tenaga kerja migran kita ke luar negeri jauh lebih banyak dibandingkan TKA ke Indonesia.

“Berbagai tantangan yang timbul di era keterbukaan dan revolusi industri jilid 4. Penting kiranya bagi kita untuk ikut merefleksikan kondisi dan kesiapan tenaga kerja kita di era revolusi industri 4.0 ini,” pungkas Ari.

Seminar ini merupakan rangkaian Seminar Nasional di lima kota lima pulau (Medan, Balikpapan, Semarang, Manado, dan Bali) untuk menyambut Munas XIII KAGAMA yang dilaksanakan di Bali pada tanggal 15-17 November 2019. Pada MUNAS tersebut, Presiden Joko Widodo, alumnus Fakultas Kehutanan UGM dijadwalkan hadir dan membuka acara munas secara resmi.(cel/rls)

Reporter : cel/rls
Editor : Chell

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->